Teringat Cerita, Terpikat Mangga

Taci

“ANAK laki-laki itu menyayangi si pohon, dengan amat sangat. 

Dan pohon pun bahagia”

Begitu yang tertulis dalam buku The Giving Tree yang ditulis oleh Shel Silverstein. Kisah menyentuh tentang anak laki-laki yang suka bermain dengan pohon saat kecil. Namun semakin besar, si anak sudah terlalu besar untuk bermain. Dia ingin uang. Pohon menyuruhnya menjual apel-apelnya. Dan, pohon bahagia. Lalu suatu hari, si anak membutuhkan rumah. Dia mendatangi si pohon. Nah, si pohon memberikan dahan dahannya. Pohon pun bahagia. Saat si anak sudah sedikit tua, dia ingin punya perahu, Pohon pun memberikan batangnya. Pohon bahagia lagi, tapi tidak terlalu. Sebab, sekarang dia hanya sebuah tunggul. Saat si anak sudah sangat tua dan mendatangi si pohon, si pohon meminta maaf karena dia sudah tidak bisa memberi apa-apa. Tapi si anak berkata bahwa dia sudah tua dan butuh duduk dan istirahat. Maka, si pohon menyuruhnya duduk. Tunggul pohon adalah tempat pas untuk duduk dan beristirahat.

Pohon memberi semua yang dia miliki, sepanjang hidup si anak. Kisah yang sangat mengharukan. Ratusan kalinya aku membaca. Aku tidak menangis lagi. Pohon memberi segalanya pada manusia: oksigen, kerindangan, buah buahan, dahan, dedaunan, dan lain lain. Dan manusia hanya bisa mengeluh karena kesalahan pohon yang tidak bisa sepenuhnya dianggap kesalahannya. Contohnya, ulat bulu yang tinggal di pohon sangat mengganggu bagi kulit manusia. Maka, mereka membakar sampah dekat pohon supaya asapnya mengusir si ulat. Itu yang dilakukan pada pohon mangga raksasa di rumahku.

Tempatku tiggal, daerahnya disebut “Mangga Besar”. Aku bangga sekali. Kupikir itu karena di rumahku ada pohon mangga raksasa. Ternyata, penyebutan karena patung mangga berukuran besar yang ada di pertigaan lampu merah. Sekarang patungnya sudah hancur. Nah, pohon mangga ini besarnya sulit dijelaskan. Butuh 2 orang untuk memeluknya. Aku sih tidak mau memeluknya. Pohon selalu punya serombongan semut merah yang membuatku bergidik melihatnya.

Sekarang patungnya sudah hancur. Nah, pohon mangga ini sulit dijelaskan. Butuh 2 orang untuk memeluknya. Aku sih tidak mau memeluknya. Pohon selalu punya serombongan semut merah yang membuatku bergidik melihatnya.

Pohon ini jadi tempat tinggal berbagai macam hewan kota, mulai dari semut, burung gereja, ulat bulu, sampai tupai. Kalau beruntung, pagi-pagi aku suka melihat tupai melompat kesana kemari mencari sarapan. Di pohon mangga, sudah lama aku memimpikan rumah di atasnya. Tapi, bayangan tentang semut yang jumlahnya tak terhingga juga muncul. Menyebalkan!

Pada saat tidak berbuah, orang-orang di luar pagar rumah kami mengomel habis-habisan karena dahan-dahannya. Tapi, kalau sudah berbuah…  Setiap orang yang duduk duduk di bangku depan rumah tidak kuasa untuk tidak memetik 1 saja buah mangga. Aku tidak suka buahnya yang manis. Kalau dimakan bisa membuat leher jadi gatal-gatal. Tapi, mangga mangkelnya itu rasanya enak sekali! Tidak terlalu asam dan kerasnya pas. Lezat, deh, pokoknya! Aku, adik, mama, dan tante pasti berebutan memakannya dengan garam dan cabe. 

Mangga yang manis sering dipetik oleh tetangga, tukang es buah depan rumah, dan lain-lain. Sebagai hadiah, biasanya mereka memberikan satu plastik mangganya pada kami. Itu kenapa mangga kami banyak. Padahal, kami belum melakukan acara petik mangga. Gara-gara mangga manisnya membuat tenggorokan gatal, nenek sering mencucinya dengan air garam. Lalu, dibuat jus dengan air garam, bukan gula. Rasanya jadi aneh, tapi enak. Aku tidak menolak kalau disuruh minum, tapi aku akan menolak kalau disuruh bikin. Ha ha ha ha. Oh, kami sekeluarga punya lelucon, mengapa mangganya bikin tenggorokan gatal. Jadi, si pohon benci dengan udara kota dan perlakuan asap padanya. Akhirnya, dia mengutuk mangga-mangganya supaya membuat tenggorokan gatal ketika dimakan. 


Taci, pembaca buku suka tertawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s