Ibu Berpisau

Debora Silaban

SETIAP hari, kami membuat jus buah segar. Buah utamanya selalu nanas dan pepaya. Buah dengan 2 karakter kulit yang berbeda. Satu pisau untuk mengupas 2 buah yang berbeda tekstur kulitnya. Nanas kulitnya lebih keras. Butuh proses lebih lama membersihkannya dibanding pepaya. Tapi, tekstur kulit tipis dan buahnya yang lembek membutuhkan kehati-hatian agar daging buahnya tidak ikut tercongkel tebal oleh si pisau tajam. Berbeda dengan nanas, yang harus dicongkel agak tebal bagian bertotol hitam yang berbaris rapih diagonal mengelilingi seluruh daging buahnya.

Pisau buah sering “dicolong” anggota rumah untuk kepentingan-kepentingan yang bukan seharusnya. Kadang ketemu di kamar mandi. Suami bilang untuk memotong kemasan pouch sabun mandi. Kadang ketemu di dapur, dipakai adik memotong bungkus bumbu mi instan. Kalau sudah begini, mau tak mau, saya mengomentari panjang lebar tentang penggunaan pisau sesuai fungsinya. 

Sebab, semua kebutuhan sudah ada pisaunya. Sampai ada sebanyak 5 pisau untuk memenuhi kebutuhan potong-memotong di rumah ini. Dan, sering pisau menggantikan tugas gunting. Nah, gunting lebih sering raib dari pandangan dibanding si pisau.  Gunting sesekali digunakan, tapi sekalinya digunakan, lenyap entah ke mana. 

Meskipun pisau buah adalah jenis pisau di rumah ini yang paling sering digunakan, namun justru pisau daging yang paling sering dapat giliran diasah. Selalu cepat tumpul. Padahal, kerjanya tak lebih berat dari pisau buah yang mengupas nanas dan pepaya. Belum lagi kalau ketemu buah semangka besar dan tebal, pisau buah tak pernah mengeluh dengan ketumpulannya. Selalu berhasil memotongnya dengan sempurna! Apapun itu, pisau memang membantuku dan para ibu lainnya menghadapi buah, ikan, daging, dan sayuran. Eh, terkadang untuk buka botol atau kaleng kemasan juga. 

Belum lagi kalau ketemu buah semangka besar dan tebal, pisau buah tak pernah mengeluh dengan ketumpulannya. Selalu berhasil memotongnya dengan sempurna! Apapun itu, pisau memang membantuku dan para ibu lainnya menghadapi buah, ikan, daging, dan sayuran. Eh, terkadang untuk buka botol atau kaleng kemasan juga.

Nah, ini masalah yang berbeda, tapi masih ada kaitannya dengan pisau. Perkataan ibu sering seperti pisau. Ketajamannya terkadang membuat hati anak terluka. Ada juga ketika kedua kalinya perkataan yang sama malah membuat anak tak mempan lagi akan efeknya. Anggap itu seperti pisau daging yang sering tumpul. Bedanya, lebih baik ketajaman kata-kata ibu tak usah diasah lagi. Sebab, perasaan anak bukan daging, sayur, atau buah yang harus dijus atau dikonsumsi. 

Perasaan mereka butuh dimengerti, sebab mereka butuh dibantu bukan dihancurkan. Sekalipun pecahan kaca bisa didaur ulang, tapi butuh proses yang tidak sebentar. Kualitasnya pun bisa memudar. Begitu juga anak. Begitu kata-kata ibu menusuk dan menghancurkan imajinasi, harapan dan kebutuhan mereka yang seharusnya, sulitlah mengobati dan memperbaikinya. Perasaan mereka justru butuh racikan bumbu yang tepat agar rasanya sempurna.  

Ingat, tak ada pisau yang pantas merusak pikiran dan perasaan seorang anak.

Debora Silaban, Ibu ingin membuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s