Ilustrasi, Sumber, Bahasa

Lyly Frehsty

PADA sampul tertera kalau cerita anak bergambar ini diadaptasi dari cerita rakyat berjudul Putri Pandan Berduri. Saya belum pernah membaca cerita rakyat aslinya sehingga tidak tahu daerah asal cerita. Namun, setelah memperhatikan ilustrasi ceritanya yang sangat khas mengesankan suatu daerah tertentu dan petunjuk di isinya (latar belakang cerita dan suasananya yang banyak menggambarkan daerah pinggir laut, pantai, dan pulau), membuat saya yang membaca bisa menerka dan membayangkan: daerah asal cerita ini pastilah suatu tempat atau pulau yang ada di pinggir laut tertentu yang ada di Indonesia. 

Ada gambaran lain yang ditampilkan oleh ilustrasinya. Tokoh cerita yang mengenakan pakaian adat daerah yang khas. Tokoh perempuan (Putri Pandan Berduri) memakai atasan berupa baju kurung panjang khas Melayu dan rok panjang bermotif songket disertai hiasan selendang menutup kepala dan melingkari leher. Sementara yang lelaki (Jenang Perkasa dan Batin Lagoi) memakai baju koko. Saya sebagai orang Sumatra mengingat orang-orang Melayu di sana menyebutnya sebagai pakaian teluk belanga. Para lelaki juga memakai celana kain panjang berhiaskan sarung atau songket di pinggang serta peci dan topi ikat segitiga di kepala. Berdasarkan hal tersebut, saya simpulkan cerita ini memang diangkat dari salah satu pulau yang dihuni suku laut, tepatnya bersuku bangsa Melayu di Sumatra.

Ada dua halaman besar ilustrasi yang mendukung tebakan saya ini, yaitu gambar jamuan makan yang diadakan di dalam rumah panggung panjang milik Batin Lagoi, ayah Putri Pandan Berduri. Seluruh hidangan digelar lengkap secara prasmanan di hamparan tikar yang ada di atas lantai. Ada beberapa pelayan untuk tuan rumah, yang bertugas menjamu para tamu saat acara jamuan berlangsung. Semua yang datang duduk bersila dan melingkar menghadap hidangan. Ini persis adat dan kebiasaan jamuan makan yang terjadi di daerah kelahiran saya di Tapanuli dan beberapa tempat di wilayah pesisir Sumatra. 

Untuk memastikan, saya mengecek mesin pencari tentang asal cerita rakyat Putri Pandan Berduri. Ilustrasinya memang tak menyebutkan asal daerah secara spesifik, tapi detil-detil gambarnya cukup mewakili dan membangkitkan imajinasi. Sehingga, tak soal juga jika tidak langsung menyatakan Pulau Bintan yang ada di Kepulauan Riau sebagai latar belakang cerita ini. Tidak menyebutkannya secara tersurat justru lebih baik bagi khayali pembaca, pembaca usia dini. Sebab, apalah arti fakta geografis jika dibandingkan dengan bangkitnya khayalan ke suatu tempat yang belum dikenal bagi imaji anak?

Tidak menyebutnya secara tersurat justru lebih baik bagi khayali pembaca, pembaca usia dini. Sebab, apalah arti fakta geografis jika dibandingkan dengan bangkitnya khayalan ke suatu tempat yang belum dikenal bagi imaji anak?

Latar belakang daerah asal cerita rakyat ini diilustrasikan sesuai benar dengan kisah aslinya. Tokoh-tokoh cerita juga diadaptasi dari cerita aslinya hanya saja idenya disesuaikan dengan kehidupan anak-anak. Di cerita aslinya, kisah didominasi oleh masa dewasa tokoh. Di dalam cerita anak bergambar ini, sebagian besar kisahnya menampilkan masa kanak-kanak yang tentunya lebih menarik minat pembaca anak-anak. Ide cerita tentang terjalinnya kembali persahabatan yang sempat terputus antara Putri Pandan Berduri dan Jenang Perkasa.

Dikisahkan, saat kecil Putri Pandan Berduri bersahabat dengan Jenang Perkasa. Sebagai suku anak laut, mereka biasa bermain-main di pantai. Suatu waktu, persahabatan itu harus terputus sebab keluarga Jenang harus pindah ke pulau lain. Kedua sahabat ini sangat sedih dan kehilangan. Sebagai ungkapan kesetiaan seorang sahabat dan obat rindu, Putri memberi Jenang suatu gelang terbuat dari kerang yang ternyata terus dipakai oleh keduanya hingga ke masa dewasa mereka. Singkat cerita, keduanya tumbuh dewasa, sampai suatu hari terdengar kabar kalau Jenang berkunjung kembali ke pulau tempat Putri Pandan Berduri sebagai seorang saudagar. Batin Lagoi yang mendengar kebaikan budi Jenang Perkasa dan mengundangnya dalam acara jamuan makan sembari memperkenalkan putrinya Putri Pandan Berduri. Di tengah acara jamuan makan itu, Putri menyamar sebagai pelayan tuan rumah. 

Sampai di sini saya tidak terlalu apa tujuannya? Apakah untuk mengamati Jenang Perkasa diam-diam atau ingin memberi kejutan? Kalau dalam pikiran anak-anak apa, ya? Yang jelas ada insiden wajah Putri terkena cipratan kotoran dari tamu yang tersedak ketika makan. Jenang Perkasa dengan sigap membantunya. Mereka pun akhirnya saling mengenali sebagai sahabat kecil yang bertemu kembali setelah dewasa melalui gelang kerang yang ada di tangan masing-masing. Diakhiri dengan cerita mereka bisa berperahu bersama lagi seperti dulu ketika kecil. Adegan yang terlalu manis, memanjakan, dan melenakan. Sebetulnya, mirip di sinetron-sinetron. Saya merasa kurang suka pada bagian ini. Walaupun mungkin ingin menampilkan kesan kalau jodoh bisa terjadi secara kebetulan dan jika berjodoh tak akan pergi ke mana dengan secara tidak tidak eksplisit dan menggurui.

Diakhiri dengan cerita mereka bisa berperahu bersama lagi seperti dulu ketika kecil. Adegan yang terlalu manis, memanjakan, dan melenakan.

Kekuatan pada buku ini terutama memang ada pada ilustrasinya karena memang ini buku cerita anak bergambar. Kalimat-kalimat dalam ceritanya sendiri sangat singkat dan sederhana. Paling banyak empat baris kalimat dalam satu halaman dengan ilustrasi yang penuh dan lumayan hidup menguatkan cerita.

Hal lain yang menarik selain ilustrasinya adalah gaya berceritanya dengan menggunakan kalimat-kalimat berima. Ini sangat memanjakan telinga anak ketika dibacakan cerita. Minat dan imaji anak lebih tergugah membayangkan baris demi baris cerita lewat kalimat-kalimat berima. Ingatan dan kesan mereka akan cerita akan lebih mudah melekat: “Putri memberi hadiah pada Jenang. Sebuah gelang terbuat dari kerang…. Ia tidak tahu kabar sahabatnya kini. Ia bernyanyi untuk menghibur hari.” Rima dalam kalimatnya pun cukup luwes sehingga tidak ada kesan memaksakan kata-kata. Benak mereka juga mendapat paparan kakayaan bahasa yang indah.

Hal lain yang menarik selain ilustrasinya adalah gaya berceritanya dengan menggunakan kalimat-kalimat berima. Ini sangat memanjakan telinga anak ketika dibacakan cerita.

Tidak ada tokoh jahat di dalam buku ini, yang membuat ceritanya sangat sederhana, jauh dari konflik yang rumit. Namun, di balik ceritanya yang manis dan sederhana, didapati pula kesedihan, kehilangan, perpisahan, pengharapan, kesetiaan. Tentu saja akhir yang bahagia setelah penantian yang lama. Terlalu manis sedikit, tapi sebab tak ada jejalan pesan moral yang eksplisit, buku ini tetap asyik dikunyah dan dikhayalkan seturut benak masing-masing anak yang membacanya, termasuk saya orang tuanya.


Lyly Freshty, pembaca buku tergabung di Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s