Hidup Berkalang Kutipan

Yulia Loekito

BUKU itu berwarna merah jambu cetar, sampul keras, dan terpampang di rak bertajuk buku paling laku di toko buku Gramedia. Wah! Penasaranlah! Sekian tahun lalu, buku itu terbeli. Buku berjudul #88 Love Life, penulis Diana Rikasari, dan ilustrator Dinda Puspitasari. Kabarnya buku tidak memuat cerita fiksi atau informasi nonfiksi, tapi kutipan-kutipan dan gambar-gambar pendukungnya. 

Nanti kita intip kutipan-kutipannya, ya. Tapi kita ingin mengutip tulisan Irfan Sholeh Fauzi ini terlebih dahulu: “Namun, apa yang dikerjakan Kapitulis dan Keiza sebenarnya kurang tepat kalau disebut sebagai ‘kutipan’ atau quotes. Barangkali ‘aforisma’ lebih patut. Mereka agaknya tak mengutip suatu buku atau suatu tulisan. Kecuali kalau kita segera meralat bahwa media sosial telah menambah makna dari kutipan. Bukan lagi nukilan buku, melainkan tulisan-tulisan ringkas yang mengaduk emosi.” Irfan menyebutnya aforisma atau yang banyak dikenal orang-orang asal angkatan 1990-an dengan kata-kata mutiara. Irfan dalam tulisan lengkapnya membahas dua nama akun media sosial penyedia tulisan ringkas pengaduk emosi dan tenar pada tahun 2021. Eh! Menariknya, itu mirip dengan isi buku #88 Love Life yang bikin penasaran karena nampang di rak paling laku itu. 

Kita intip salah satu kutipan. Kebanyakan ditulis dalam bahasa Inggris: When people hate you, love them back.  Yang barusan beraroma cinta. Ini lebih beraroma kehidupan: To be happy is not the goal, your growth and the everyday progress you make in life is the seed of happiness itself. Buku dicetak berwarna-warni dengan ilustrasi-ilustrasi manis. Ingat! Buku masuk jajaran buku terlaris masa itu, sekitar tujuh tahun yang lalu. Pertanyaan yang muncul adalah: kenapa orang-orang makin suka buku yang isinya kata-kata pengaduk emosi itu? Karena mudah dimengertikah? Karena sesuai dan menyemangati hidupnyakah? Karena enggan membaca cerita yang panjang? Mau enaknya saja?

Pertanyaan kita berikutnya: membaca buku berisi kata-kata pengaduk emosi sudah sah disebut membaca buku? Pembacanya mungkin menganggap sah saja. Bentuknya buku fisik dijilid. Tentu saja itu membaca buku! Tabiat dan keumuman soal membaca bisa jadi sudah bergeser sekarang. Keengganan membaca mendapat pembenaran. Kita melihat seperti ada jembatan rusak menghubungkan dua tempat dipisahkan oleh ngarai curam. Sebaris dua baris kalimat belum menunjukkan makna dan tak menyediakan gambaran utuh tentang gagasan yang ingin disampaikan penulis. Makna yang dimaksud penulis bisa jadi dicerap dan dimaknai berbeda oleh pembaca sesuai situasi mereka masing-masing. Tidak salah, sih. Tapi itu seperti membaca salah satu ayat kitab suci saja dan menggunakannya untuk berkotbah tanpa mau paham latar belakang maknanya secara utuh. Orang bisa asal comot dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan aneh. 

Terus kita juga jadi tertarik menghubungkannya dengan kutipan dari tulisan Uun Nurcahyanti yang berapi-api ini: “Kutipan itu bisnis emosi! Di tangan para movitator dan selebgram berpikiran jeli, kata-kata dirangkai dengan lihai demi tanda like dan pengumpulan massa pengikut.” Aha! Rupanya zaman serba instan dan duit ambil peranan penting di panggung kutipan ini. Dari media sosial dapat diperoleh pengikut Berkat pengikut, pemilik akun selain bisa tenar, juga bisa menghasilkan pendapatan. 

Menjaga atau mengembangkan penggemar atau pengikut dipandang perlu dilakukan. Demikian pula dinasihatkan oleh perusahaan-perusahaan terkait buku. Penulis didorong bisa “menjual” diri sendiri termasuk buku-buku karyanya lewat media sosial. Tak heran penulis merasa perlu mencantumkan kutipan-kutipan di sana. Ambil contoh dari akun Instagram yang dikembangkan seorang penulis buku anak memiliki pengikut sekian “k”, @memantik.id: “Setiap perubahan itu selalu dimulai dari langkah pertama. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah berpikiran terbuka.” Banyak ibu-ibu suka membagikan kata-kata mutiara ini. Tidak dipungkiri itu membuat ibu-ibu merasa ayem sejenak, merasa mendapat teman, dan mendapat dukungan. Tapi ibu-ibu terus berkutat di kutipan atau kata mutiara berisiko mellow berkepanjangan dan menyerah tak membaca buku lagi karena alasan sibuk menjadi ibu. Semoga tidak! 

Di akun-akun Instagram rakyat biasa, kita juga lihat kutipan-kutipan dari orang terkenal, penulis ternama, atau politisi disematkan di bawah foto yang mereka unggah. Foto keluarga, foto benda-beda, foto pemandangan, foto gambar anak, foto pit-pitan, foto sudah dapat vaksin, foto menunjukkan berita duka, dan sebagainya. Kutipan tersemat satu dua kalimat, dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sedikit bahasa Jawa, bahasa daerah, atau bahasa asing lain. Kutipan tersemat bisa menunjukkan perasaan pengunggah foto, ancaman untuk orang tertentu, sindiran untuk banyak orang yang ia tahu sliwar-sliwer di linimasanya, penyemangat untuk teman, dan tentu saja pencitraan diri. Memakai kutipan bisa membuat kesan pintar, modern, berpendidikan, bijak, atau malah norak.

Oh! Begitulah hidup manusia masa kini berkalang kutipan, seperti dininabobokkan kecukupan belajar berkat rajin membaca kutipan. Kutipan tak berdosa, pengutip tak pula diancam neraka, kalau tetap mau berusaha membaca dan menulis utuh. 


Yulia Loekito, pengoceh dana penulis di Kaum Senin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s