Pengutip

MA Mas’ud

SEMASA menggarap skripsi, saya memandang bab kajian pustaka sebagai ranjau kutipan. Suram dan angker! Saya mengingat teman-teman ingin skripsinya tebal dan bab dua (kajian pustaka) adalah halaman lapang yang pas untuk mewujudkan hal itu. Diisi kutipan sebanyak-banyaknya, yang kadang satu dengan lainnya, bagi saya tidak nyambung. Bahkan, topik skripsinya pun tak berkaitan. Sederhananya, ada banyak kutipan yang tak penting dihadirkan demi menebalkan skripsi. Katanya, skripsi tebal itu keren!

Berbalik dengan mereka, saya ingin skripsi saya hadir dengan tubuh ramping, tetapi jelas, dan padat pembahasan. Saya ingat, mula-mula kajian pustaka saya hanya empat halaman dan komentar dosen pembimbing: “Bab dua ini terlalu sedikit. Tambahi ya!” Saya menyadari bahwa yang dipermasalahkan adalah kuantitas, bukan kualitas. Di lain kesempatan, saat menggarap tesis, saya mendapati dosen pembimbing yang ampuh: “Bab dua itu bab sampah. Isinya banyak tapi kadang tidak berkaitan ataupun nyambung. Karenanya, saya usulkan dihapus. Kajian pustaka bisa dimasukkan latar belakang. Langsung dikaitkan di sana.”

Dalam penghadiran kutipan pun, perbedaan zaman cukup berpengaruh. Dari beberapa dosen yang berkuliah di luar zaman serba digital, mereka rata-rata membaca buku demi berburu pemahaman dan kutipan. Diketik ulang atau dicatat di buku jurnal lengkap beserta sumber buku, tahun terbit, penulis, dan halaman. Kadang bisa ditambahi komentar pribadi. Pada masa saya (2017), penghadiran kutipan mengalami degradasi laku literasi. Menjadi jauh dari buku dan dekat internet. Salah satu faktornya, klasifikasi kekuatan kutipan. Buku, setahu saya, ada di peringkat dua setelah jurnal. Penerbitan jurnal melulu dalam jaringan (daring). Mahasiswa mau tak mau, mesti lebih akrab dengan internet.

Di mesin pencarian internet, apapun yang kita ketik atau tanyakan bakal dibanjiri jawaban. Tapi, kita patut memikirkan ulang sepenggal kalimat Abraham Lincoln yang dihadirkan Tom Nichols dalam Matinya Kepakaran (2021): “Jangan percaya semua yang Anda baca di internet, terutama kutipan dari orang-orang terkenal”. Bertaut dengan itu, Tom Nichols menulis dengan sinis: “Tanyakan semua profesional dan pakar mengenai matinya kepakaran, dan hampir semua akan langsung menunjuk biang kerok yang sama: internet.” Di era digital, kita seperti diajak terus berlari menuju semboyan instan, praktis, efisien, cepat, dan mungkin tepat.

Faktanya, di internet memang tak semuanya benar. Kita mengingat, beberapa bulan lalu, kasus pengutipan puisi dalam film Binatang Jalang yang disutradari Exan Zen. Puisi berjudul “Cinta dan Benci” hadir dari internet dan mbeleset. Beberapa sastrawan meragukan puisi itu gubahan Chairil Anwar dan menanyakan sumber datanya. Sebab, selain tidak adanya data, gaya atau karakter puisi pun tidak khas Chairil. Pada akhirnya, bukan data yang bisa diberikan sutradara melainkan permohonan maaf.

Masalah lain di dunia pengutipan adalah beberapa pengguna media sosial emoh mencantumkan sumber demi bisa narsis dan dianggap hasil kutipan adalah pemikiran pribadinya. Selain tak beradab, tentu juga memalukan. Di Instagram, saya pernah mendapati pesan masuk bahwa seseorang izin memakai kepsyen saya untuk dipakainya tanpa mencantumkan nama saya. Tentu, saya tolak. Di lain kasus, tanpa izin seseorang memakai beberapa kepsyen saya entah sepenggal kalimat atau puisi. Saya dikabari seorang teman. Saya kirim pesan agar mencantumkan sumber tapi Instagram saya justru diblokirnya. Dunia yang aneh!

Masalah lain di dunia pengutipan adalah beberapa pengguna media sosial emoh mencantumkan sumber demi bisa narsis dan dianggap kutipan adalah pemikiran pribadinya. Selain tidak beradab, tentu juga memalukan.

Kutipan, kepsyen, dan Instagram mengingatkan saya pada dua jilid buku yang terbit di tahun 2020. Judulnya Pengutip(an) garapan Bandung Mawardi. Di buku-buku yang diterbitkan oleh Penerbit Mlaku itu, Bandung Mawardi menghadirkan tulisan-tulisan dua paragraf yang berisi kutipan dari koran dan komentarnya. Sumber kutipan lengkap disertai nama koran dan tanggal. Koran-koran terbaca, terkliping, dan terkomentari. Diunggah di akun Instagram @bilikliterasi. Instagram menjelma buku kliping digital. Bandung Mawardi tidak mengajak kita mengkliping koran dengan menggunting, mengelem di buku besar, dan menyimpannya tanpa pernah terbuka sampai kiamat─seperti yang diajarkan di sekolah. Bandung Mawardi memang bukan nabi, tapi kita sah meneladani caranya menjadi pembaca dan pengutip ampuh beradab literasi. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s