Berpasar di Got

Hikmah Mustadjuddin

GOT (selokan) pernah menjadi keriangan pagi bocah-bocah belum berusia sekolah. Di Antang Jaya, lorong 7, Makassar, masa 2000-an, got-got mini dengan lebar sekitar 50 cm dan dalam sekitar 60 cm masih didapati kering dan bersih. Bocah-bocah melihatnya sebagai etalase. Got disulap menjadi pasar!

Permainan terlebih dahulu dimulai dengan berbagi peran. Peran sebagai penjual dan pembeli. Jika sedang banyak bocah yang akan turut bermain, peran dilebarkan menjadi dua penjual yang bertetangga. Pembeli yang ke pasar bersama saudara, tetangga atau mereka memutuskan sebagai orang asing yang dipertemukan pasar. 

Setelah memilih dan bersepakat peran, bocah-bocah sigap mengumpulkan kebutuhannya. Penjual akan riang dan ikhlas menurunkan diri ke dalam got sembari memungut batu-batu beragam ukuran dan gelas kemasan plastik bekas. Batu agak lebar dan besar difungsikan sebagai mortar. Batu agak lonjong sebagai alunya. Dua jenis batu yang sangat prinsipil dalam mencipta menu cendol dan sirup imajinatif. Hasil menumbuk daun bunga pukul empat dan bunga beragam warna. Dipungut juga daun jambu air yang telah menguning sebagai wadah jualan. Diisi bunga pukul empat, bunga asoka, kembang kertas dan daun pandan.

Kesibukan calon pembeli tentu saja mengumpulkan uang. Di lorong 7 ini sampah yang paling banyak ditemukan adalah daun nangka kering. Nominal uang dipengaruhi oleh besarnya ukuran daun nangka. Pembeli cenderung mengumpulkan daun nangka besar, sementara penjual melakukan sebaliknya. Hal itu dimaksud agar transaksi berjalan lebih natural. Mereka ingin mendengar ucapan, “Ini, Bu, kembaliannya.” Mula-mula daun uang ini diletakkan dalam saku. Hari-hari berikutnya, bocah pembeli dan penjual makin canggih karena masing-masing membawa dompet dari dua kertas tengah buku tulis.

Mula-mula daun uang ini diletakkan dalam saku. Hari-hari berikutnya, bocah pembeli dan penjual makin canggih karena masing-masing membawa dompet dari dua kertas tengah buku tulis.

Karena tidak butuh waktu lama mengumpulkan uang daun, calon pembeli turut memetik bunga dan menyiapkan keperluan penjual. Bisa pula membantu menyusunkan bunga jualan di atas daun jambu. Supaya tidak tergulung angin, kerikil kecil ditaruh di sisi kanan kirinya. Begitu semua komponen dianggap siap, dimulailah aktivitas berpasar.

Penjual berdiri di dalam got. Ada juga memilih duduk di sisi got yang satunya sambil menunggu pembeli. Sementara itu, pembeli datang dengan bersepeda, berboncengan, dan jalan kaki. Bocah-bocah tampak mendalami perannya dengan sempurna. Suara tawar-menawar terdengar diselingi sesekali kokok ayam dan langkah-langkah kucing kampung. Jalanan mendadak terparkiri sepeda mungil roda dua, tiga, dan empat. 

Pesanan minuman ternyata lebih diminati. Hasil menumbuk daun dan bunga melahirkan menu baru saat dicampur. Sari hijau daun dan sari merah muda bunga pukul empat disajikan di gelas yang sama menghasilkan warna coklat. Bocah segera menyebutnya cola, bukan teh. 

Minuman pesanan itu tidak selalu telah tersedia. Hal wajar menyaksikan pembeli duduk sila di pinggir aspal atau sambil menawar dagangan lain. Mengobrol dengan sesama pelanggan hingga pamit melanjutkan berbelanja ke warung sebelah. 

Amboi! Anak-anak tidak pernah gagal meniru. Tidak pula cacat dalam imajinasi. Mereka bisa menghadirkan apapun dengan cara segar. Mereka adalah pantulan kebiasaan sekitarnya. Hasil mengamati secara rinci.   


Hikmah Mustadjuddin, penulis tergabung di Jumat Berceloteh, tinggal di Makassar

One thought on “Berpasar di Got

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s