Buku dan Bokong

Novy

ORANG-ORANG menamai itu buku. Mereka mengoleksi buku, entah tebal atau tipis. Beragam jenis buku dikoleksi. Buku-buku ada yang ditata rapi, ada yang digeletakkan, atau ditaruh sembarangan.

Aku pernah ikut seminar. Di sana, ada pembicara yang bercerita bahwa di rumahnya banyak sekali bukunya. Ribuan buku yang berbahasa asing maupun Indonesia. Bahkan, beliau punya ruang khusus menyimpan buku, dilengkapi meja, kursi, dan sofa nyaman. Sempurnanya lagi, terdapat komputer terhubung internet. Jendelanya menghadap ke taman.

“Buku-buku itu tidak saya baca semua, tapi dengan melihat rak buku itu saja sudah membuat saya merasa lebih pintar naik dua persen,” katanya sambil tertawa. Peserta seminar juga tertawa. 

Aku suka sekali membaca buku! Itu membuatku hidup di dunia lain dari realitasku.

Aku seakan-akan hidup dalam buku bacaanku. Kadang-kadang, aku merasa penulis ini seperti dukun. Dia bisa tahu permasalahanku. Bahkan dengan gamblang dia kasih aku solusi. Ketika aku jalankan solusi dia, ajaib! Masalahku ikut terselesaikan. Kurasa dia adalah dukun intelektual yang dikirim Tuhan Maha Pengasih untuk membantu melepas beban masalahku. 

Ketika aku jalankan solusi dia, ajaib! Masalahku ikut terselesaikan. Kurasa dia adalah dukun yang dikirim Tuhan Maha Pengasih untuk membantu melepas beban masalahku.

Bagaimana jika saran penulis tidak berhasil? Tak apa, setidaknya dia memberiku pengalaman dan kenikmatan.

Dulu, ketika aku mengambil sertifikasi instruktur yoga dan pilates, sekolahku memberi kami diktat yang tebal dan berbahasa asing. Aku juga membeli buku–buku pendukung yang kubeli secara online. Sudah harganya mahal, bahasa asing, dan tebal pula. Buku–buku tersebut aku simpan dan kusampul rapi. Dalam sekejap, rak buku penuh dengan buku–buku tebal itu. Dengan perlahan aku membacanya dan mempraktikkan dalam latihanku sehari–hari atau self practice. Seperti siang itu, aku melihat lampu layar ponselku menyala. Oh!, Ada pesan masuk!

“Selamat siang, Mbak,” terbaca di pesan. Kulihat gambar profilnya. Beliau seorang ibu dengan usia sekitar lima puluhan. “Selamat siang, Ibu,” balasku. “Saya dapat nomor Mbak Novy dari teman saya,” beliau menyebutkan salah satu klienku. “Saya ingin privat yoga. Saya ada keluhan boyok saya sering sakit….” Beliau menceritakan kesusahan beliau. Aku bertanya dengan detail informasi apa saja yang kubutuhkan. “Besok sore pukul empat, saya tunggu ya Mbak, nanti saya bagikan lokasi rumah saya,” menutup pertukaran pesan.

Rumah itu tampak rapi, berpagar kayu. Setelah menekan bel, aku dipersilakan masuk. Aku duduk menunggu di sebuah ruangan yang sangat indah. Di sana ada 3 lukisan dengan pigura kayu yang terukir cantik. Aku menikmati lukisan cat minyak itu, sampai ada seorang ibu menyapaku dan mengajakku masuk ke dalam. 

“Lukisan yang indah, Bu,” pujiku.

“Itu suami saya yang melukis. Ada beberapa lukisan beliau dipajang di lorong fakultas,” sambil menyebutkan nama fakultas di universitas negeri di Surabaya. Rupanya, sepasang suami istri itu dosen untuk mahasiswa S3. 

Kami memasuki ruangan yang agak lega. Kulirik ada banyak buku di sana. Buku yang tertata rapi di rak buku kayu dengan pintu kaca. Ada juga buku yang tertumpuk di meja. Kursi tampak di sudut ruangan itu. Sekilas kubaca judul buku-buku itu: ada yang tentang politik, kesehatan, filsafat, ekonomi, dan lain-lain. Ada yang bahasa asing, ada yang bahasa Indonesia, bahkan ada yang bahasa Jawa.

Aku mulai mengarahkan gerakan-gerakan yoga untuknya. Otot si ibu begitu kaku, sebab dia lebih banyak duduk di depan laptop untuk mengajar mahasiswa atau rapat online. Hal ini yang menyebabkan dia sering sakit punggung bawah.

“Bu, saya perlu balok untuk menyokong tubuh ibu supaya lebih nyaman untuk stretching,” kataku sambil melirik kanan kiri, apakah ada yang pas untuk menggantikan balok yoga. 

“Saya boleh pakai itu, Bu?” sambil menunjuk ke suatu benda. 

“Ya, gapapa,” katanya dengan wajah agak ragu. 

Segera kuambil beberapa yang aku butuhkan. Kuletakkan pada bagian yang memerlukan penyokong. Di bawah panggul, bawah bokong, bawah lutut, dan bawah kaki. 

“Gimana, Bu?” tanyaku. 

“Enak, Mbak. Ketarik otot saya.” 

“Bokong kanan geser ke atas lagi, Bu” kataku mengarahkan. 

Sreek…

“Sedikit lagi, Bu. Geser lagi ke atas.” 

Sreek… Sreek… Kreek…

Oh tidak! Suara itu…. 

Segera aku melihat di bawah bokongnya. Mampus aku! Duh Gusti, buku itu sobek! Seketika itu raut wajahku berubah. Ibu itu melihat apa yang terjadi di bawah bokongnya. 

“Aduh, Mbak Novy, ini buku penelitian bapak!” katanya setengah menahan pekikan kaget. 

Mati aku! Langsung bibirku membulat beserta mataku membelak.

“Maafkan saya, Bu. Bagaimana saya harus menggantinya?” sambil aku komat-kamit berharap dalam hati supaya ganti ruginya tidak melebihi gajiku mengajar. 

Seketika itu terdengar langkah dari belakangku, “Bapak, buku penelitiannya sobek waktu aku pakai latihan yoga. Aku gunakan untuk sanggahan di bokongku. Kita minta cetak lagi di percetakannya ya, Pak.” Perkataan yang lembut dan manja. 

Apa to? Walah, ra popo,” sahutnya. 

Deg ser, jantungku langsung berdetak ringan, badanku lemas lega.

“Tolong, saya dikasih link untuk beli balok online ya, Mbak. Sekalian saya perlu beli apa lagi” katanya dengan senyum. ‘

“Nggih, Bu.”

Slamet, slamet, slamet. Gajiku tak jadi dipotong.


Novy, Ibu tergabung dalam komunitas PPBN dan Jemaah Selasa 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s