Menonton dan Makan

Fairly Namora

KEBETULAN sekali, pada jam makan siang, film animasi kece Peter Pan sedang tayang di layar televisi di rumah sepupuku. Gambarnya keren, gerakannya hebat, dan suara-suaranya oke sekali! Disney memang hebat sekali memikat kami agar anak-anak duduk diam dalam waktu yang lama dan berfokus ke satu hal: layar. 

Kami semua sampai bersorak-sorak menyemangati Peter yang sibuk pukul-pukulan sama Kapten Hook, sampai lupa sama telur dadar dan nasi sayur sop yang ditugaskan untuk “habis”, sebelum filmnya habis duluan. Sembari mata terpancang rapat ke animasi menyenangkan di televisi, tangan kami berusaha menyuap sendokan-sendokan berantakan nasi dan lauk-pauk ke mulut yang terbuka: entah keasyikan menonton atau memang sadar lagi makan. Aku berusaha untuk fokus dalam kedua-duanya meskipun hanya berfokus pada Peter dan Hook tentu lebih seru. 

Sekali waktu, aku meleng dari santapan siangku, ibu akan langsung mengingatkan dengan tajam, membuyarkan fokusku pada televisi terdahulu. Di sampingku, ada sepupu laki-lakiku. Dia memang sudah terhipnotis layar sejak kecilnya, makannya sungguh tidak karu-karuan. Matanya yang gelap terpancang lurus ke adegan-adegan seru di televisi. Aku memperhatikannya menyuap sesendok penuh nasi dan lauk-pauk. Sungguh aneh! Suapannya malah masuk ke lubang hidung alih-alih lubang mulut. Aku menyimpulkan, hal ini terjadi karena dia keasyikan menonton Peter Pan sampai kerasukan. Aku tidak ingin tidak fokus seperti sepupuku!

Suapannya malah masuk ke lubang hidung alih-alih lubang mulut. Aku menyimpulkan, hal ini terjadi karena dia keasyikan menonton Peter Pan sampai kerasukan. Aku tidak ingin tidak fokus seperti sepupuku!

Di rumahku, nyaris tidak pernah ada yang namanya makan sambil nonton. Ayahku sangat kurang suka budaya makan sambil menonton, apalagi ibuku. Kata ibuku, kalau makan sambil menonton itu membuat kita sangat tidak fokus. Apapun yang dihidangkan di piring akan asal masuk saja tanpa kita rasakan seutuhnya. Selain itu, entah aku atau adikku bila menonton jadi makan porsi berkali-kali lipat. Film atau videonya belum usai, kita jadi menambah satu porsi lagi agar masih bisa duduk menonton di meja makan. Sekali waktu, adikku sampai keselek saking ketawanya hebat gara-gara nonton sambil makan. 

Saat masih lebih kecil dulu, aku kurang setuju sama perkataan ibu. Andaikata orangtuaku tidak cukup pintar untuk tidak membeli televisi ataupun membiarkan anak-anaknya mengonsumsi gawai pintar sesuka-suka mereka, aku akan langsung berubah dari anak perempuan yang bahagia menjadi kutu gawai berkacamata tebal. Namun, lain halnya dengan sekarang. Tahun ini, bulan ini, hari ini, sampai detik ini, pikiran membangkangku itu bertansformasi jadi persertujuan penuh atas kata-kata ibuku. Aku tidak lagi berpikir apabila makan sambil menonton itu suatu hal yang seru. Apalagi aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak dlongop bodoh di depan layar seperti dulu. 

Tahun ini, bulan ini, hari ini, sampai detik ini, pikiran pembangkangku itu bertransformasi jadi persetujuan penuh atas kata-kata ibuku. Aku tidak lagi berpikir apabila makan sambil menonton itu suatu hal yang seru. Apalagi aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak dlongop bodoh di depan layar seperti dulu.

“Makan itu yang mindful. Yang dihidangkan di hadapan kita ini dinikmati dan disyukuri sepenuh-penuhnya.” Jangan malah diabaikan hanya gara-gara tayangan yang bahkan masih bisa kita lihat setelah makan selesai!

Makan sambil menonton televisi atau gawai menghasilkan suatu kombinasi yang lezat. Tapi, bukankah kita jadi kebingungan dibuatnya? Kita mau memperhatikan ayam goreng dan sayur tumis dulu, atau YouTube dulu? Mau menyendok nasi atau menatap layar? 

Apabila kita mindful dalam hal makan, kita akan merasakan banyak sensasi dan gairah yang berbeda-beda dalam setiap jenis hidangan yang kita makan. Kita harus bisa merasakan, bahkan di masakan yang membosankan saking seringnya disantap. Semisal, rasa kunci yang khas di dalam sayur bening bayam, rasa manis yang aneh di balik tepungnya tempe goreng, atau sensasi enaknya rasa nasi goreng bertabur merica, dan masih banyak lagi.


Fairly Namora, pemakan bacaan dan penyendok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s