Lemut!

Agita Yuri

HARI itu jadwal kunjungan ke rumah ibu mertua atau biasa dipanggil Mbah Uti. Tapi, kali ini saya sungguh gugup. Ada 2 benjolan kecil kemerahan di dahi anak kedua saya yang masih berumur 3 bulan. “Mangsalah iki, anakku dicokoti lemut!

Mbah Uti ini tipe wanita yang masih setia pada cara-cara dan pola pikir lama. Sangat menyayangi cucu-cucunya dan mudah khawatir. Oleh sebab itu, wajib hukumnya seorang ibu melindungi anaknya dari serangan lemut (nyamuk). Jangan sampai meninggalkan bentol atau benjolan yang tak enak dipandang! Itu bisa mengundang komentar: “Ya ampun, putuku, mesakake kenapa kuwi bathuke abang-abang? Cokoti lemut ya?” Lalu, dia akan berbicara pada suamiku agar memakai obat nyamuk di kamar. Saat kami pulang, dibawakanlah obat nyamuk elektrik: alat maupun isi ulangnya. Tinggal masukkan dan tancapkan, niscaya pergilah para lelembut eh lemut. Haduh, ya sudahlah, obat nyamuk pun terpasang. Baunya sungguh memusingkan, sering membuat batuk. Matikan saja! “Kimia!” seru saya pada suami yang masih keukeuh pakai obat nyamuk jenis ini. 

Tinggal masukkan dan tancapkan, niscaya pergilah para lelembut eh lemut. Haduh, ya sudahlah, obat nyamuk pun terpasang. Baunya sungguh memusingkan, sering membuat batuk. Matikan saja! “Kimia!” seru saya pada suami yang masih keukeuh pakai obat nyamuk jenis ini.

Lha, terus bagimana ini nyamuknya banyak banget? Padahal, saya sudah bersih-bersih, tidak malas seperti di lagu anak tempo dulu yang dinyanyikan Enno Lerian. Berbagai cara kami coba, dari obat semprot sampai obat oles. Lalu, suami pun hendak mencari kelambu milik kami di gudang ibu dulu, setelah berbagai macam obat tidak terbukti ampuhnya. Kelambu itu harganya lumayan mahal tapi mampu menjadi penolong saat kami menjadi orang tua pertama kali. 

Sering saat tidur malam, anak pertama polahnya luar biasa ke segala penjuru kasur. Akibatnya, sering jatuh ke samping karena kami memakai dipan yang agak tinggi, hanya dua sisi kasur yang menempel ke tembok. Dengan adanya kelambu, selain menghalau nyamuk juga menghalau resah, anak jatuh dengan aman dan nyaman. Kelambu disetel bisa menahan berat badan anak. Ketemulah kelambu itu, kami pasangkan di kasur. Tapi oh tapi, kelambu itu sudah usang, sudah 6 tahun umurnya, ada bolongan di beberapa tempat. Siapa lagi yang mbolongi kalau bukan anak sendiri yang iseng. Sudah begitu, ritsliting-nya rusak pula sehingga tidak bisa menutup seluruhnya. Ya sudah, tidak apa-apa, dicoba saja. Sejak pakai kelambu, tidur anak saya lebih nyenyak, tak dicokoti lemut lagi. Nina bobo pun berkumandang dengan syahdu, tanpa diselingi suara plak plok nablek nyamuk atau sumpah serapah yang panjang terhadap makhluk Tuhan bernama lemut.

Untuk apa lemut hadir di dunia ini? Ah, sungguh perlu direnungkan. Ibu-ibu memandang lemut sebagai pengganggu. Nguinggg, nguinggg, plok. Ibu akan ketawa setan saat berhasil dapat nyamuk, apalagi sampai berdarah-darah di tangan. Puas rasanya! Masih belum mantap, ibu-ibu pakai raket nyamuk plastik agar lebih mantap, mungkin juga agar lemut jera nyokoti manusia. Zaman sudah maju, lemut-lemut tetap menyerang membabi buta. Untuk itu terciptalah alat mutakhir bernama raket nyamuk elektrik. Jangan harap selamat dari siksaan listrik wahai lemut! Ctaak, ctaaak. Begitu bunyinya jika ada nyamuk yang mati mendadak “dipanggil” Tuhan karena terkena raket mematikan. Lemut, sungguh naas dirimu!

Foto: Agita Yuri

Memangnya nyamuk itu penyakit apa? Sehingga muncullah istilah obat nyamuk, dari versi murah sampai yang mahal, apalagi sekarang ada aroma macam-macam. Sebut saja obat nyamuk bakar, yang biasa dijual di warung-warung. Dulu, warnanya setahu saya hijau saja, eh, ternyata di warung ibu mertua ada yang warna lain: merah dan ungu. Obat nyamuk bakar ini ternyata bisa beralih fungsi di masyarakat kita. Bapak ibu guru ada yang memakainya untuk membantu koreksi cepat di kertas ujian murid-muridnya. Caranya, plastik mika dibolongi sesuai jawaban pada soal pilihan ganda, taruh di atas kertas jawaban. Nah dengan demikian, kelihatan mana yang jawabannya salah. Selesailah tugas koreksi dengan segera! Ada pula pengguna obat nyamuk bakar untuk merekatkan plastik saat membungkus makanan, misalnya kacang bawang. Ternyata, obat nyamuk bakar sungguh “multitalenta” di balik kandungan bahannya yang sebenarnya tidak baik untuk kesehatan. 

Tapi bisa dipastikan obat nyamuk bakar ini tidak dipakai di Karangwaru Riverside, sebuah kampung di Yogyakarta, yang awalnya dipandang sebagai kampung kumuh karena kebiasaan buruk masyarakatnya buang sampah atau limbah ke sungai. Kini, kampung itu sudah menjadi kampung yang tertata dan ternama, menjadi kampung percontohan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Urusan nyamuk pun ada solusinya. Di sepanjang bantaran Sungai Buntung, warga menanam sereh yang katanya ampuh mengusir nyamuk. Dulu, sebelum Covid-19 melanda, beberapa kali saya mengunjunginya dan membawa serta anak pertama, untuk dolan dan jalan-jalan. Di sana ada area bermain dan juga warung-warung kecil yang menyediakan jajanan, yang paling khas adalah wedang sereh. Sruput,  sruput, sruput.  

Tapi bisa dipastikan obat nyamuk bakar ini tidak dipakai di Karangwaru Riverside, sebuah kampung di Yogyakarta, yang awalnya dipandang sebagai kampung kumuh karena kebiasaan buruk masyarakatnya buang sampah atau limbah ke sungai.

Jika memang warga Karangwaru sudah mengibarkan bendera perang terhadap nyamuk, mungkin nyamuk memang tak berani unjuk diri lagi. Nyamuk-nyamuk memilih berhijrah ke rumah artis, salah satunya Yuni Shara: artis cantik yang terlihat awet muda meskipun usianya hampir kepala lima. “Pasti segar sekali darahnya!” kata ketua rombongan nyamuk. Eh, sampai di rumah Yuni Shara, ternyata sama saja. Yuni Shara malah memenuhi rumahnya dengan sereh untuk mengusir nyamuk pula. Dia bahkan membagikan tips dalam bentuk video berjudul Tanam Sereh Usir Nyamuk #junglehouse di kanal Youtube-nya. Akhirnya, nyamuk-nyamuk bersedih hati, sambil menyanyi dalam paduan suara nguing nguing: “Mengapa tidakkah kau maafkan… Mengapa tiada maaf darimu?”


Agita Yuri, penulis di Kaum Senin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s