Sukses (Miskin) Buku

Setyaningsih

NOVEL berjudul Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko (Indiva Media Kreasi, 2020) garapan Yosep Rustandi dan diilustrasi oleh Agus Willy—sekilas dipandang dari judul—(ternyata) bukan bacaan anak yang berkiblat sains atau fiksi imajinatif perbukuan. Karena, satu kemenangan penting diraih buku ini: juara pertama Kompetisi Menulis Indiva 2019 kategori novel anak. “Sangat menginspirasi,” begitu seruan klise dari penerbit. Di sampul depan, ada peringatan: “Seri Pendidikan Karakter untuk Anak”. 

Penerbit Indiva tanpa perlu mengikuti tren penerbitan buku bernuansa moral-agama (bahkan juga dilakukan dengan penuh semangat penerbit umum), memang sudah moralis-ngislami dari sononya. Terutama orangtua yang akan mengantarkan bacaan kepada anak-anak tidak akan pernah protes sejak dalam pikiran bagaimana cerita moralis, penuh nasihat, sedikit-sedikit dikaitkan dengan agama, dan sarat pesan pertobatan dengan sangat enteng disuguhkan kepada pembaca belia.     

Untuk menjadi bermoral dan beragama, Yosep berpijak pada dua hal ini: menjadi orang miskin yang jujur atau menjadi orang kaya yang dermawan. Alin dan Jiko bocah berusia 8 tahun yang saling bersahabat menempati peran utama. Mereka tidak sekolah, miskin, terpaksa memulung, dan tinggal di permukiman padat Cibening. Dua remaja SMA bernama Dini dan Yas mewakili aktivis muda mapan yang ingin menolong anak-anak miskin tanpa pendidikan ini. Mereka menjadi relawan pengajar di Sanggar Hati. 

Namun, hubungan menjadi serba salah karena suatu hari, Alin menjambret sekresek apel yang dibeli oleh Dini. Apel tidak pernah bisa Alin beli ingin diberikan kepada emak yang sakit-sakitan. Dilema dialami Jiko. Apel didapat, tapi emak punya firasat Alin tidak mendapatkan apel secara tepat. Dalam banyak momentum krisis Alin, Jiko bertindak sebagai pereda, penasihat, ataupun kawan berdebat. Jiko menyukai buku. Sedikit-sedikit mengaitkan situasi dengan “kata buku”, bertanya-tanya “apa kata buku?” 

Sejauh ini, tempat terbaik bagi Jiko mendapat buku “ajaib” selalu berasal dari tempat pembuangan sampah. Di Indonesia, sampah buku bukanlah sampah yang mudah diharapkan atau didapatkan. Cerap perdebatan Alin dan Jiko. 

“Kata buku, kalau mau jadi pencuri, jadilah pencuri besar!” kata Jiko.

“Bukankah kata bukumu itu, menjadi pencuri yang berbaik hati lebih hebat?”

“Oh, pencuri berhati baik bukan sepertimu. Pencuri baik membagikan hasil curiannya kepada orang tertindas yang sangat miskin. Seperti si Pitung atau Jaka Sembung pada zaman dulu.” 

Nah, buku berkata, tapi tidak bisa memberesi masalah. Di lain waktu, mereka masih berdebat bagaimana cara berbohong yang baik agar emak mau makan apel. Alin bertanya agak mengejek, “Nanya dong ke bukumu itu?” Jiko menanggapi, “Buku bisa memberi bantuan kalau kita jujur. Kalau bohong berarti mikir sendiri!” Alin bilang, “Wah, kalau begitu buku nggak asyik.” Tuntutan Alin memang besar. Ia ingin buku yang memberesi masalah seketika. Jika sudah dewasa, Alin pasti suka buku berjenis “how to” atau “tata cara”. Tidak imajinatif tidak masalah, yang penting aplikatif dan solutif.  

Tuntutan Alin memang benar. Ia ingin buku yang memberesi masalah seketika. Jika sudah dewasa, Alin pasti suka buku jenis “how to” atau “tata cara”. Tidak imajinatif tidak masalah, yang penting aplikatif dan solutif.

Jarak buku lebih dekat dengan kekayaan dan kemapanan, tapi saat menyentuh kemiskinan buku bisa menjadi pemulih ataupun senjata. Ronald Barker dan Robert Escarpit, dua peneliti perbukuan yang disokong UNESCO, dalam Haus Buku (Pustaka Jaya, 1976) mengabarkan stastistik UNESCO menandai 500.000 judul buku atau setara 45,4 persen berasal dari Eropa (belum termasuk Soviet) pada 1969. Tahun 1970, Afrika, Amerika Latin, dan Asia (tanpa Jepang) hanya menghasilkan 19 persen buku di dunia. Rendahnya produksi, kesukaran distribusi, biaya tinggi buat impor buku dalam jumlah cukup menjauhkan Dunia Ketiga dari antrean buku dunia. Membeli buku sama artinya tidak makan. Kelangkaan buku seperti krisis pangan dan air dalam masa paceklik. 

Membeli sebiji apel saja susah, apalagi membeli buku. Bahkan bagi tokoh serela dunia akhirat seperti Yas, posisi buku tetap administratif. Buku yang terpenting rasa-rasanya tetap buku pelajaran dan buku tulis. Untuk seseorang yang sangat berjasa mengajari Alin dan Jiko membaca, Yas hanya mampu berpesan klise: “Kalau sudah besar Jiko juga mau seperti Teh Yas. Teh Yas yang pintar. Teh Yas yang baik. Jiko ingin mengajar seluruh anak-anak miskin di Indonesia ini, di dunia ini. Jiko ingin mereka pun menjadi pintar. Jiko ingin mereka menjadi kaya, tidak selalu kesusahan seperti Alin dan emaknya. Jiko ingin mereka, anak-anak miskin itu, menjadi pintar, kaya, tidak mencuri, dan baik hati.” 

Lantas bak sampah di depan rumah tingkat Dini—di kompleks perumahan—Jiko begitu girang mendapat buku buangan. Tidak di permukiman padat-kumuh, orang miskin tidak membuang buku karena tidak punya (koleksi) buku. Orang kaya bisa membuang buku yang telah purna dibaca dan dianggap tidak berguna. “Di bak sampah, Jiko melonjak gembira karena menemukan sebuah buku bacaan. […] “Wah, ini buku tentang petualangan di dasar laut. Petualangan Pertama dengan Kapal Selam. Wah ini keren, Lin. Keren banget.”

Bagaimanapun, akhir cerita Alin dan Jiko bakal semakin mengingatkan pada kisah sukses di bacaan anak berciri kemiskinan semasa Inpres Orde Baru atau sinetron kisah nyata orang miskin yang menjadi sukses, “Itulah kisah hidup Alin dan Jiko. Kisah hidup anak miskin yang tidak mampu membeli apel, tapi bertahun kemudian mereka menjadi pengusaha apel. Perkebunan mereka luas. Ratusan orang mereka pekerjakan. Di masa dewasa, Alin dan Jiko adalah pengusaha apel yang bercita-cita menjadikan semua anak menjadi pintar.” Ya ampun!

Untuk novel anak berjudul seenigmatik Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko, cerita memang gagal enigmatik. Tapi, jangan marah-marah deh. Lumayan banget cuma bagus judulnya saja. Serius!

Setyaningsih, pekebun di sedekalacerita.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s