Bendera yang Dikenang, Kita yang Sekarang

Marhamah Aljufri

“PUNYA bendera lagi? Bendera di tiang depan itu aku bawa, ya?” Pinta almarhum emak beberapa Agustus yang lewat. Bendera yang kujahit sendiri, akhirnya, dilepas dan dibawa pulang emak ke desa. Bapak berkisah bahwa bendera yang selama ini dikibarkan di tepi jalan saat bulan Agustus telah raib. 

“Jangankan pisang, bendera yang jelas-jelas dipasang di tiap rumah, diembat juga sama orang lewat,” bapak bercerita sambil tertawa. Memang, sering pisang yang hampir masak di ladang yang berada tepi jalan, ditebas orang malam-malam. Pemburu pisang mencari makan dengan menjual pisang. Pisang-pisang dikulak dari pemilik pohon pisang dengan menyisir ladang-ladang. Terjadi tawar-menawar pemilik pohon pisang dan pemburu pisang. Ketika pisang ditawar pada pemilik pisang tidak berhasil, besok hari pisang keseringan tak terlihat lagi di pohonnya. 

Mengharukan ketika yang hilang adalah bendera. Orang mengambil bendera sangat mungkin berjiwa nasionalis tinggi. Nasionalismenya menyulut hasrat memasang bendera di bulan Agustus tapi tak bisa menjahit sendiri atau membeli.

Bendera itu saya jahit sendiri dengan membeli kain beberapa meter. Menjahit sendiri memungkinkan kita untuk membuat bendera yang lebih besar dan lebih banyak dari yang bisa kita beli dari para penjual bendera di tepi jalan di bulan Agustus. Ada perasaan senang menjahit bendera. Beberapa puluh ribu bisa dihemat dengan menjahit bendera sendiri. Sisa kain bisa dijahit menjadi bendera lebih kecil.

Keinginan menjahit sendiri itu muncul ketika ingin punya bendera dipasang di rumah sendiri. Sebelumnya, tinggal di kontrakan di dalam gang, tidak biasa memasang bendera di depan rumah. Orang-orang memasang bendera di tiang ditempatkan di tepi jalan, tampak meriah. Ingin ikut meriah, harga bendera membuat terperangah. Bagi yang pernah membeli kain akan bisa memperkirakan berapa kebutuhan kain untuk membuat bendera. Bermodal semangat dan beberapa rupiah, kain terbeli dan bendera terjahit rapi. Tidak hanya satu, ada beberapa bendera. Bagian tali sengaja dibikin lebih panjang agar leluasa mengikat erat bendera ke tiang. Bendera yang dijual di jalan-jalan talinya irit sekali, pendek.

Bermodal semangat dan beberapa rupiah, kain terbeli dan bendera terjahit rapi. Tidak hanya satu, ada beberapa bendera.

Bulan Agustus setiap rumah memasang bendera. Penjual bendera panen rupiah. Bendera berkibar siang dan malam sepanjang Agustus. Penjual bendera memasang bendera di tali yang panjang di tepi jalan. Bendera itu berhias. Bendera merah putih dengan gambar lambang negara, bendera merah putih yang diwiru seperti kain panjang yang dipakai di keraton, ada bendera segitiga merah dan putih juga. Dipasang dengan gaya bermacam-macam, tidak selalu dikibarkan horisontal merah putih atas bawah. Ada yang dipasang pada bambu secara vertikal, warnanya jadi mirip seperti bendera Malta. Bendera merah putih dipasang di tanggal-tanggal muda bulan Agustus.

Teringat momen masa kecil, kakek selalu mengajak saya ikut memasang bendera di tepi jalan. Ada perasaan bangga dan senang memasang bendera merah putih setiap bulan Agustus. Kakek menambah hangat momen-momen itu dengan bercerita tentang idolanya, Bung Karno.Tapi, kakek sepertinya tidak mengetahui peristiwa penyelamatan bendera oleh Bung Karno. Saya tidak pernah mendengar hal itu dari kakek. Peristiwa penting dituliskan dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia: “Tindakanku yang terakhir ialah memanggil Mutahar ke kamar pribadiku. ‘Apa yang terjadi terhadapku, aku sendiri tidak tahu,’ kataku singkat. ‘Tapi aku memberikan tugas kepadamu. Dalam keadaan bagaimana pun, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, insya Allah, engkau harus mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun, kecuali kepada orang yang menggantikanku. Andaikata engkau meninggal dalam upaya menyelamatkan bendera ini, orang lain harus diberi kepercayaan untuk melaksanakan kewajiban ini dan dia harus menyerahkannnya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau seharusnya mengerjakannya.” Tugas teramat berat dan sakral ditanggung Mutahar. Perlu melakukan sesuatu agar tugasnya lancar. Mutahar mencabuti benang jahit bendera merah putih. Mutahar menyimpan bendera dalam warna terpisah agar aman. 

Tahun berjalan dan setia dengan suguhan yang baru dan yang berubah. Tahun ini Agustus selalu kembali. Kita tergagap dalam kenangan kemeriahan bertahun yang lalu. Merayakan kemerdekaan dalam suasana meriah. Ini Agustus kedua mewajibkan suasana berbeda dalam perayaan nuansa merdeka. Bendera berkibar di depan rumah dan tepi jalan. 

Penjual bendera mengeluh penjualan bendera sedikit lesu. Terlihat gambar penjahit sedang menggarap bendera. Dengan tangan kanan memutar roda mesin jahit terduga bermerk Singer, sang penjahit tertangkap kamera sedang mengatakan sesuatu. Kalimat tercetak dalam Jawa Pos, 9 Agustus 2021: “Seorang penjahit di daerah Pajang, Laweyan menyelesaikan pembuatan bendera Indonesia di kediamannya. Situasi pandemi berdampak pada penurunan harga jual bendera, yang harus menyesuaikan kemampuan daya beli masyarakat.” Hal berdampak menuntut banyak penyesuaian. Penyesuaian dirasakan oleh banyak orang. Bendera ingin tetap berkibar karena ingatan tentang kemerdekaan perlu dirayakan. Bendera turun harga agar tetap dapat terbeli. Membeli bendera dan merayakan Agustusan masih urusan nomer sekian bagi orang-orang kehabisan cara untuk bertahan. 

Penyesuaian dirasakan oleh banyak orang. Bendera ingin tetap berkibar karena ingatan tentang kemerdekaan perlu dirayakan. Bendera turun harga agar tetap dapat terbeli.

Kebingungan merayakan Agustusan dipecahkan oleh orang yang bertaruh hidup dengan seni. Mereka sering tampil di panggung dan menghibur orang. Itu sebelum pandemi. Lakon seniman tampil di Kudus, “Bagong ngeleh, Pak. Bagong ngeleh. Bagong ngeleh,” ujar salah salah seorang yang memakai kostum Bagong (Jawa Pos, 9/8/2021). Berita berjudul “Seniman Kibarkan Bendera Putih” menyuratkan suara seniman. Seniman ini terlalu banyak tak bergaji bulanan. Biasa mendapat pemasukan dari pentas seni untuk makan anak istri. Kini, dari mana lagi akan dicari? Mereka mengangkat bendera putih: “’Kami butuh ruang sedikit saja. Intinya supaya bisa manggung lagi. Sebab, ini teman-teman yang lain sudah kesulitan bertahan hidup. Mereka jual apa yang bisa dijual untuk makan. Foto menampilkan para lakon: Bagong, Gareng, Semar, dan Buto Cakil sedang mengangkat tangan kanan. Mereka memberi hormat kepada bendera merah putih. Dalam harapan, bendera putih yang berkibar.

Peringatan kemerdekaan tahun ini masih bersedih. Semakin banyak batasan menderaskan air mata. Bendera berkibar-kibar di tepi jalan. Sebagian orang lewat memicing mata menatap bendera. Di gang rumah, hanya ada satu terpasang. Rumah-rumah tidak sesibuk dulu tentang bendera.

Pemandangan apik anak membuntuti ibu atau ayah atau kakek memasang bendera semakin usang dan jarang. Ruh bendera merah putih menjelma jadi keberanian bercampur kenekatan mengarungi hidup tanpa kepastian, kapan pembatasan menemui akhirnya. Kita perlu berdoa dan menghormat bendera. Merah putihnya adalah ayah ibu kita. Orang-orang dengan bendera putih adalah bagian dari kita. Untuk semua hal baik kita boleh berdoa.


Marhamah Aljufri, Penulis di Mbokmbokan Malem Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s