Ibu dan Jamu

Indri Kristanti

“TIDAK mau, tidak mau!” seorang anak berlari dari ruang keluarga menuju ke ruang tamu.  

Di belakangnya, ada ibu yang mengejar sambil membawa gelas kecil berisi minuman berwarna kuning pucat dan keruh. Si anak bersikeras dan menghindari kejaran sang ibu. Tapi apa daya, dia sudah terpojok di pagar halaman, tak ada ruang lagi untuk menyelamatkan diri. 

Si anak masih berusaha terus mengelakkan kepala untuk meloloskan diri. Si ibu menyodorkan setengah memaksa. Si anak dengan perasaan harap-harap cemas, mau tidak mau, terpaksa menengguk minuman berbau asing baginya. Dia menceracap setelah merasakan sedikit dengan ekspresi aneh: dahi berkerut, alis naik turun, dan mulut mecucu

Beberapa detik kemudian, dia ambil gelas tersebut dari tangan ibunya. Meneguk hingga habis dan berkata: “Ah, seger juga rasanya! Manis tapi  ada pahit-pahitnya sedikit.”

Memasuki musim pancaroba, ibu ingin si anak tetap sehat dan bugar. Salah satunya melalui minuman beras kencur, menggunakan bahan yang mudah diperoleh dan mudah dibuat. Beras yang sudah disangrai dan ditumbuk, direbus bersama rajangan kencur, sedikit jahe dan sedikit kunir. Sebagai penambah rasa, ditambahkan sedikit garam, gula aren atau bisa juga memakai gula batu. Setelah direbus sekitar 15 menit, air rebusan disaring dan beras kencur siap diminum. Tak hanya anak, sang ibu juga turut mengambil segelas beras kencur untuk menghilangkan capek dan pegal-pegal di otot setelah seharian beberes rumah.

“Jamu berguna untuk mencegah penyakit. Jamu baik diminum anak-anak dan orang dewasa,” tertulis dalam artikel di majalah Bobo edisi 16 Oktober 2014. Penulis berniat mengenalkan jamu kepada pembaca anak-anak dan ibunya.  Sejak abad ke-16, jamu di Indonesia sudah mulai dipelajari oleh bangsa Eropa. Jamu menjadi klaim milik bangsa Indonesia dari zaman dulu, meski banyak negara yang menggunakan tanaman sebagai obat. Istilah “jamu” atau “jampi” hanya dipakai oleh orang-orang di Nusantara. 

Jamu menjadi klaim milik bangsa Indonesia dari zaman dulu, meski banyak negara yang menggunakan tanaman sebagai obat. Istilah “jamu” atau “jampi” hanya dipakai oleh orang-orang di Nusantara.

Beratus-ratus tahun sudah berlalu, manusia Indonesia dan luar Indonesia menulis berbagai buku tentang jamu. Entah sebagai pengetahuan yang diwariskan, pelestarian hayati, dan pemasaran. Berbagai buku memuat beratus-ratus tanaman obat yang tumbuh di Indonesia, beserta ribuan manfaatnya demi kesehatan dan kebugaran. Meski tanpa penelitian khusus, buku tentang jamu terus ditulis. Cerita ditulis berasal dari resep-resep yang beredar di masyarakat kebanyakan, salin tempel menggabungkan beberapa buku yang terbit sebelumnya. Lalu, dicetak dengan sampul menarik serta judul baru memikat dan memberi pengharapan pembaca. Terkadang, jamu juga dihadirkan dalam bentuk cetak bersama resep masakan rumahan. Ibu-ibu cinta keluarga rela membeli, membaca, dan mencoba komposisi yang tersirat demi terjaminnya kesehatan semua anggota keluarga. 

Ibu-ibu pada masa 1980-an sudah akrab dengan jamu yang hadir demi kebahagiaan pasangan suami istri. Di majalah Sarinah edisi April 1987, termuat iklan bergambar pasangan: pria berjas tampil klimis, di sampingnya duduk seorang wanita muda memakai baju merah jambu dengan rambut hitam tebal tergerai. Mereka menunjukkan tatapan berkharisma dalam satu bingkai foto. Mereka itu suami-istri. 

Iklan memasarkan paket jamu untuk pria dan untuk wanita: “Halusnya kulit, Hitamnya rambut, Cemerlangnya senyum. Lenturnya tubuh. Sehatnya badan. Mesranya cinta…… Ini semua bukan hanya milik masa muda.” Pria dan wanita meski sudah menua tetap ingin berjiwa dan berfisik muda. Pasangan suami-istri menolak tua, turut mendambakan masa muda: kulit mulus tak keriput, rambut hitam tak beruban, senyum menggoda tak berompong, serta tubuh bebas dari encok dan boyokan. 

Di pariwara lain, tercantum: “Jamu ini dapat meluruhkan timbunan lemak di perut sekaligus menurunkan kolestrol. Tampil cantik dengan perut ramping indah alami.” Di sebelahnya, terpampang foto wanita Indonesia berkulit putih mulus dengan tubuh kutilang (kurus-tinggi-langsing). Ibu mana yang tidak tergoda, terlebih lagi bila dia sudah melahirkan tiga orang anak, tubuh berubah bentuk akibat lemak di kanan-kiri, depan-belakang.  Setelah meminum serbuk jamu yang diaduk dengan air panas itu, ibu merindukan kembali tubuh bak perawan.  

Mulai masa 2000-an, jamu semakin mudah ditemui di kios-kios kampung dan  pasar modern, terpajang banyak kemasan kotak didesain berwarna-warni dan menarik dengan berlogokan sebuah lingkaran yang memutari sebatang ranting di tengah, dengan empat daun menempel di sisi kiri dan empat daun di sisi kanan, serta bertuliskan “jamu” di bagian bawahnya. Begitu melihat logo tersebut, ibu-ibu teringat konsep “kembali ke alam” yang baik dan tidak berbayaha bagi kehidupan karena berasal dari alam. Jamu hadir dalam bentuk praktis dan diklaim lebih higienis karena hasil pabrikan. Ibu tidak perlu (harus) menanam sendiri, tidak perlu memanen sendiri, tidak perlu merajang, memarut dan merebus sendiri. Jamu hadir dalam bentuk kemasan celup. Jamu bisa langsung dikonsumsi dalam bentuk kapsul, pil ataupun sachet tinggal glek. Jamu tersedia siap saji di lemari-lemari pendingin tinggal teguk langsung dari botol. Jamu semakin menggoda jiwa dengan jampi-jampinya terpatri di mana-mana, berbagai media cetak, elektronik hingga baliho jalan-jalan utama. 

Kemahahadiran iklan jamu membuat ibu makin tergoda. Iklan tampil di Bobo edisi 24 Januari 2002, tertulis: “Mau jadi ibu para jagoan?” Iklan satu halaman penuh berwarna, terlihat ibu bersama dua anaknya: sang kakak laki-laki memakai baju kaos olahraga sedang sang adik memakai baju renang dengan tangan tanda kemenangan victory.  Kemasan jamu tampil modern, berwarna cerah bergambar kartun  anak laki-laki berpeci dan bersarung, yang anak perempuan berselendang, menunjukan ciri khas Indonesia. Jamu instan yang terbuat dari temu lawak justru hadir berkedok dengan 4 rasa berbeda, yang katanya enak: tidak lagi rasa jamu melainkan rasa buah mangga, jeruk, stroberi, dan coklat. Ibu berharap anak suka minum jamu supaya jadi jagoan di lapangan dan di kelas. Dengan minum jamu, berarti badan anak jadi kuat, otak cerdas, nilai ulangan bagus. Ibu pun bangga. 

Pada masa 2000-an,  salah satu perusahaan jamu berhasil membangun persepsi masyarakat dengan slogan: “Orang pintar minum jamu.” Kepintaran tidak hanya jadi milik anak-anak. Kepintaran bisa jadi milik semua orang, dari anak sampai lansia. Kampanye slogan berhasil, jamu Indonesia terkenal dan laris diekspor sampai luar negeri. Semua orang bermimpi untuk sehat dan pintar tanpa perlu belajar.  

Perusahaan kompetitor turut mempopulerkan slogan balasan: “Orang bejo minum jamu.” Masyarakat jadi pusing, harus pilih jadi orang pintar atau orang bejo (beruntung). Masyarakat beranggapan, kebanyakan orang pintar bisa mendapat jabatan dan posisi enak di perusahaan, penghasilan banyak. Tapi, banyak orang pintar namun hidupnya tidak bejo, bahkan terlunta-lunta. Dua puluh tahun lebih telah berlalu, masyarakat  masih  galau di antara dua pilihan, pintar atau bejo

Zaman berubah, jamu selalu menemukan penggemar-penggemar baru. Jamu bisa dinikmati oleh semua kasta. Bagi yang mau praktis, ibu-ibu di kampung tinggal panggil ibu-ibu jamu gendong, ibu-ibu jamu bergerobak,  atau  ibu-ibu jamu bersepeda yang berkeliling. Mereka siap siaga meladeni ibu-ibu sibuk juga ibu-ibu yang males rajang-rajang, rebus-rebus, dan isah-isah panci. Jamu-jamu aneka rasa bisa dipilih, mulai kunir asem, beras kencur, paitan, jamu cabe-puyanghingga jamu pegel-linutersediadalam botol, tinggal tuang ke gelas lalu diminum.

Cara menikmati jamu ibu-ibu di kota beda lagi. Ibu-ibu yang terlahir sebagai generasi milenial suka dengan slogan bahasa asing: back to nature.  Jamu turut hadir dalam wujud kekinian, turut meramaikan kafé, hotel, dan restoran berkelas. Di tempat bergengsi dan Instagramable, para ibu bisa nongkrong, ngobrol ngalor-ngidul, bergosip-ria, sambil menikmati secangkir wedang rosella-secang (yang mahal) dipadukan dengan gigitan sepotong mendoan (yang mahal juga). Di sela-sela perbincangan, mereka juga mempertontonkan botol-botol kecil minyak yang berisi aroma jamu tertulis dalam bahasa Inggris, seperti kayu manis ditulis cinamon, jahe (ginger), kayu cendana (sandalwood), dan seterusnya. 

Kelompok ibu belum puas, kegiatan bersama berlanjut ke  ruang spa.  Ibu-ibu masuk ruangan tertutup, ber-AC, sorot lampu remang-remang, beraromaterapi  minyak jamu dan berhiaskan rajangan jamu kering di sudut-sudut kamar. Di sinilah, ibu-ibu dipijat dengan minyak jamu, lulur jamu, dan mandi rempah jamu di dalam bak rendaman air hangat.  Merasakan kemanjaan ala puteri-puteri kraton.  Badan hilang capek, berbau wangi, dan kulit terasa mulus bagai puteri-puteri raja. Dengan harapan sesampainya di rumah, suami makin sayang, dan makin lengket seperti perangko. 

Para ibu tidak sabaran, jamu dianggap jawaban instan untuk kebahagiaan dan keharmonisan keluarga.  Jamu memang berfaedah namun bila disajikan secara alami, tanpa pewarna, pengawet dan gula berlebih, dan dikonsumsi secara rutin.   Minum jamu kudu dibarengi dengan pola hidup sehat, makan bergizi, olahraga teratur,  tidur yang cukup, dan yang terakhir “jampi” kepada Yang Mahakuasa. Begitulah, ibu dan jamu (seharusnya) bersahabat sepanjang usia.  


Indri Kristanti, Penulis di Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s