Perempuan Lattigi

Eva Musdalifa

DAUN pacar dalam masyarakat Mandar dikenal dengan nama lattigi, mengabadi dalam ingatan perempuan Mandar. Anak-anak perempuan di bulan Ramadan akan meluangkan malam-malam mereka untuk menghiasi tangan dengan lattigi. Ritual ini bisa dilakukan sekali hingga berkali-kali demi mendapatkan warna kuku dan jemari tangan sesuai keinginan. Jika tak puas dengan hasil percobaan pertama, akan dilanjutkan pada percobaan selanjutnya. 

Ramai-ramai anak kecil mendatangi rumah tetangga meminta lattigi yang bertumbuh di pekarangan. Daun lattigi dikumpulkan sebanyak-banyaknya dan disimpan dalam tempurung kelapa, kantong plastik, atau disembunyikan dalam baju untuk dipindahkan ke rumah masing-masing. Menjelang tidur malam, lattigi akan ditumbuk halus menggunakan cobekan di dapur dan ditambahkan bubuk teh sisa pakai untuk menghasilkan warna yang lebih cerah. 

Ramuan lattigi siap, ritual dimulai. Namun sebelum menempelkan lattigi ke kuku, sangat dianjurkan untuk menyiapkan kantong kresek yang sudah dipotong kecil-kecil melebihi ukuran kuku dan pengikat untuk membungkus lattigi agar lattigi di kuku tidak langsung gugur hanya dalam sekali senggol saat tidur. Selain tentu saja untuk menghindari omelan mama: tahu-tahu lattigi yang semula terpasang di kuku berpindah ke seprai dan bantal. Memutuskan untuk membungkus tempelan lattigi pun berarti harus memiliki kesadaran bahwa kita butuh orang lain untuk membantu mengikat lattigi melingkari kuku. Meminta tolong mama atau bersepakat dengan saudara untuk melattigi bareng agar mengikatnya bisa bergantian menjadi pilihan.

Memutuskan untuk membungkus tempelan lattigi pun berarti harus memiliki kesadaran bahwa kita butuh orang lain untuk membantu mengikat lattigi melingkari kuku. Meminta tolong mama atau sepakat dengan saudara untuk melattigi bareng agar mengikatnya bisa bergantian menjadi pilihan.

Semakin cepat lattigi dilepas hasilnya akan semakin kurang bagus. Menunggu lattigi di tangan kering butuh waktu dan kesabaran. Untuk itulah, melattigi berasa lebih khidmat dilakukan di waktu malam. Siang, anak kecil terlalu ramai dengan agenda bertemu teman. Malam menjadi penyelamat. Sebagai siasat anak-anak terhadap kesabaran dan ketidaksanggupan tertinggal pertemuan penting di siang hari. Selesai memasang lattigi dan membungkusnya dengan plastik bisa dilanjutkan dengan tidur. Saat bangun, lattigi di tangan sudah kering dan bisa dilepas. Itu pun kalau bungkusan itu bisa bertahan sampai pagi. Tidak keburu tanggal di tengah tidur pemilik jari yang tak bisa menjaga tangan untuk tidak senggol sana-sini saat tidur. 

Di pagi hari, anak kecil kembali bertarung dengan rasa penasaran. Rupa warna kuku hasil perjuangan sepanjang malam menjadi taruhan. Kekuatan warna yang dihasilkan menjadi simbol keberhasilan. Semakin kuat warna dihasilkan, semakin perasaan berhasil itu muncul di benak. Orang Mandar menyebutnya dengan cillo’. Semakin cillo’ semakin bagus. 

Sebenarnya, memakai lattigi bisa dilakukan pada waktu kapan saja. Namun rasanya akan berbeda jika dilakukan pada bulan Ramadan dan dikerjakan pada malam hari. Ada pula omongan orang tua beredar di kerumunan anak-anak bahwa tidak baik melattigi kuku jari tengah karena akan natandu tedong (diseruduk kerbau). Omongan itu berhasil membagi anak-anak menjadi dua kubu, mereka yang percaya dengan omongan itu dan hanya melattigi pada delapan jari dan mereka yang percaya bahwa sepuluh jari terwarnai lebih menarik meski berada dalam ancaman kerbau.

Omongan itu berhasil membagi anak-anak menjadi dua kubu, mereka yang percaya dengan omongan itu dan hanya melattigi pada delapan jari dan mereka yang percaya bahwa sepuluh jari terwarnai lebih menarik meski berada dalam ancaman kerbau.

Menjelang pergantian status sebagai istri, perempuan Mandar kembali bertemu dengan lattigi dalam kesakralan. Lattigi hadir sebagai bagian penting dalam ritual pernikahan. Pada malam menjelang ijab kabul keesokan harinya, mempelai perempuan harus melewati ritual melattigi yang dalam masyarakat Makassar dikenal dengan mappaci. Melattigi dilakukan dengan membalurkan lattigi yang sudah ditumbuk ke telapak tangan mempelai perempuan. Orang-orang yang dipilih untuk membalurkan lattigi tersebut biasanya dipilih dari tetua yang hadir. Ritual melatinggi sebagai simbol penyucian jiwa calon pengantin sebelum memasuki kehidupan baru. Pada malam melattigi, mantra-mantra doa  dipanjatkan.

Ingatan perempuan tentang lattigi akan mengabadi. Jika tak pernah bermain lattigi saat kecil, mereka masih mungkin merekamnya dalam ingatan berkat ritual dalam penikahan. Tentu, jika ritual melattigi tetap dibiarkan hadir menyempurnakan ritual pernikahan. 


Eva Musdalifa, Pengikut di Jumat Berceloteh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s