Nasionalisme di Depan Televisi

Bandung Mawardi

IKHTIAR menjadi manusia Indonesia mesti memiliki televisi. Pada 17 Agustus 2021, keluarga-keluarga Indonesia di depan televisi. Pihak wajib berada di situ adalah anak atau remaja mendapat seruan dari sekolah untuk turut upacara. Bapak, ibu, kakek, nenek, dan siapa saja turut sibuk. Urusan tak gampang untuk mengingat kemerdekaan Indonesia. Televisi terlalu penting. Gawai pun makin penting.

Di kalender, angka 17 itu berwarna merah. Murid-murid memang libur. Mereka cuma diminta menuruti seruan atau anjuran. Berdirilah di depan televisi! Oh, murid-murid diajak ikut upacara diselenggarakan Istana Negara. Murid tampak berseragam, tak boleh menggunakan pakaian sembarangan. Di depan televisi, murid adalah peserta upacara.

Keluarga ikut mengurusi “ini” dan “itu” agar lancar. Pagi: bapak dan ibu meminta anak-anak lekas mandi, jangan sampai ketinggalan atau telat upacara. Mandi dan sarapan wajib, berharap anak-anak selalu sehat. Jadwal bermain ditunda dulu demi bisa mengikuti upacara. Hal terpenting adalah berhasil membuat laporan kepada sekolah. 

Jadwal bermain ditunda dulu demi bisa mengikuti upacara. Hal terpenting adalah berhasil membuat laporan kepada sekolah.

Di depan televisi, bocah-bocah berseragam tapi tak bersepatu itu ikut menghormat saat pengibaran bendera. Mereka mengandaikan berada di halaman sekolah atau lapangan. Upacara memang lama tak diadakan gara-gara wabah. Bocah-bocah tentu kangen upacara.

Di rumah, bapak atau ibu bertugas sebagai pemotret atau perekam. Kerja sama diperlukan dalam menghasilkan rekaman atau potret membuktikan bahwa murid telah ikut upacara di depan televisi. Ungkapan nasionalisme berlangsung dalam rumah. Murid-murid memberi hormat, ingat pula lagu Indonesia Raya. Bapak dan ibu mungkin tak bisa memberi pengisahan panjang mengenai lagu atau penggubah bernama WR Soepratman. 

Sumber-sumber bacaan mungkin terbatas. Ingatan sudah melemah. Orangtua gampang saja mencari di internet. Konon, pengetahuan berada di situ. Bocah mau diajak mengenali komponis dan membaca sejarah lagu kebangsaan malah tak sabaran ingin bermain. Mereka ingin hiburan!

Dulu, ada buku bisa menjadi sumber mengetahui informasi atau penjelasan sejarah. Buku itu berjudul Kitab Batjaan (1964) susunan AH Harahap, M Kasim, dan Amir Hasan. Buku memuat tulisan-tulisan dari beragam majalah dan buku. Kita membaca tulisan pernah dimuat di Mimbar Penerangan. Tulisan pendek tapi perlu berjudul “Indonesia Raja dan Sedjarahnja”.

Paragraf bertele-tele: “Terdapatlah dua buah lambang didunia ini, jang sangat dimuliakan dan sangat didjundjung tinggi oleh tiap-tiap bangsa pemiliknja. Bila dipandang perlu suatu bangsa dengan tidak bertangguh-tangguh lagi akan siap dan ikhlas membelanja dengan djiwa dan darah. Kedua lambang itu sesungguhnja tidak ada ubahnja dengan negeri atau bangsa sendiri. Pada lambang itu dengan segera orang dapat mengenal negeri atau bangsa jang memiliknja. Adapun kedua buah lambang tersebut ialah bendera dan lagu kebangsaan.” Tulisan sepi dari pembaca senang bergawai, bukan berbuku lama.

Kita masuk ke sejarah lagu kebangsaan Indonesia: “Karena besarnja pengaruh Indonesia Raja atas djiwa rakjat Indonesia, maka pemerintah Hindia Belanda dahulu melarang lagu Indonesia Raja dinjanjikan dan mengatakan lagu itu sebagai lagu jang berbahaja, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum. Barang siapa jang berani menentang sikap pemerintah djadjahan itu terantjam oleh tangkapan atau pendjara.” Lagu gubahan WR Soepratman telah menimbulkan marah dan takut.

Pada 2021, murid-murid di depan televisi. Mereka menonton dan mengikuti upacara. Penjelasan atau pengisahan memikat belum disuguhkan di televisi. Mereka pun sedang bosan dengan buku-buku pelajaran. Bapak dan ibu diam, tak mengetahui sejarah. Di rumah, sejarah sedang sepi dan tidur lelap berbarengan dengan nasionalisme ingin terlaporkan. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s