Umbah-umbah dan Mesin Impian

Yunie Sutanto

ADEGAN panik kaum umbah-umbah dimulai. Dipentaskan saat hujan mampir tanpa permisi. Situasi darurat terasa. “Jemuranku!” Demikian kata terucap dengan nada tinggi. Ekspresi wajah panik. Mata yang terbelalak. Kaki dan tangan yang bergegas menyelamatkan kumbahan masih bertengger di tempat jemuran. Sebagian nyaris kering. Sebagian masih basah. Sebagian telanjur terguyur hujan. Niscaya hanya kaum umbah-umbah yang paham dengan sigap mementaskan adegan penyelamatan ini. 

Kehidupan di rumah tangga senantiasa berkutat dengan cucian. Cucian menggunung setelah 2-3 hari. Siklus mencuci baju dimulai. Baju kotor masuk mesin bercampur deterjen pembersih. Ajaib! Cukup satu sentuhan jari pada tombol mesin cuci untuk mengaktifkan proses kucek, peras, dan bilas.

Bandingkan dengan kehidupan mencuci pada masa silam, masa sebelum mesin cuci diciptakan. Tak cukup satu jari untuk mengucek, memeras, dan membilas! Butuh seluruh tenaga jari-jari, otot lengan, dan waktu setengah harian untuk mengurusi cucian. Ah, bersyukurnya kaum umbah-umbah zaman sekarang! Berkah canggihnya teknologi memangkas kerepotan dan menghemat energi dan waktu.

Heran nian tak sedikit yang mengeluh membenci umbah-umbah. Anti mengurusi cucian! Menyewa jasa cuci-gosok menjadi solusi bagi sebagian orang. Laundry kiloan pun menjamur menjawab kebutuhan ini. Memang marak ditemui keengganan mengurusi cucian sendiri. Mencuci dianggap ritual terkutuk yang membosankan. Tengoklah seorang ibu yang terkapar kelelahan di lantai, duduk termangu menatap pusaran air mesin cuci dari kaca intipnya. Ia berupaya melawan kantuknya. Tak terasa matanya terpejam, tersihir dengungan suara mesin cuci. Mesin cuci bukaan depan memang punya suara yang menyerupai white noise, yang sanggup mengantarkanmu ke alam mimpi. 

Sang ibu pun bermimpi sedang menikmati pemandangan langit dari ketinggian 30,000 km di atas permukaan laut. Ia duduk di bangku penumpang tepat di samping jendela. Ditatapnya awan biru nan megah. Pesawat hendak mendarat di negeri impiannya. Negeri di mana pakaian tampak berkilauan tanpa perlu dicuci dan baju semua orang selalu terlihat rapi! Sang ibu lantas bertanya, mengapa semua orang berpakaian rapi di sini? Sebelum ia mendapat jawabannya, terbangunlah! Rupanya hanya mimpi! Ia baru menyadari, sejak tadi asyik tertidur bersandar ke pintu mesin cuci, bukan kaca jendela pesawat! 

Siapapun yang cukup besar untuk memakai baju sendiri cukup besar pula untuk membantu dalam beberapa hal untuk cucian demikian nasihat Kathy Peel. Mendelegasikan anak-anak mungkin bisa menjadi cara agar ibu tak kelelahan. Lagi pula, anak-anak sudah besar bukan? Sudah wajib bertanggung jawab atas cuciannya masing-masing. Mengutip Emilies Barnes dalam buku The 15-Minutes Organizer: The laundry needs organization as much as any other area of our homes (Cucian membutuhkan pengaturan seperti halnya area lain di rumah kita). Seandainya setiap anggota keluarga meletakkan cuciannya dengan rapi pada ember cucian saja, terbantulah sang ibu. Keteraturan menjadi kata kunci. Sang ibu mulai merancang aturan. Demi keteraturan! Sang ibu umbah-umbah menemukan contoh keteraturan dalam novel gubahan Amy Tan berjudul The Hundred Secret Senses: “Pada hari pertama setiap minggu, saya harus mencuci. Pada hari kedua, saya menyetrika apa yang telah saya cuci.”

Mendelegasikan anak-anak mungkin bisa menjadi cara agar ibu tak kelelahan. Lagi pula, anak-anak sudah besar bukan? Sudah wajib bertanggung jawab atas cuciannya masing-masing.

Keteraturan membuat pekerjaan lebih mudah! Kisah gubahan Amy Tan masih memunculkan orang mencuci dengan tangan. Ia bertugas mencucikan semua cucian dalam rumah misi tersebut. Ia tak mengeluh. Ia mengatur harinya sedemikian rupa. Ibu umbah-umbah tak pernah kecewa saat berlari ke pelukan buku. Hari-hari bisa lebih berarti jika terjadwal dengan baik. Tujuh hari dalam seminggu bisa terberkahi jika diatur dengan bijak. Ibu umbah-umbah lekas mengadakan penataran umbah-umbah, bocah-bocah  serta mas bojo pun direkrut menjadi bala bantuan kaum umbah-umbah! Hidup cucian!

Teringat saat berkunjung ke negeri Sakura dan menginap di penginapan setempat. Fasilitas mencuci baju tersedia lengkap. Ada mesin cuci, deterjen, dan mesin pengering cucian! Cucian yang masih lembap basah digantung dalam sebuah mesin khusus dan saat diresleting. Setelah ditekan tombolnya selama 20 menitan, semua pakaian basah yang tergantung itu kering layaknya habis dijemur. Sang ibu mendamba memiliki mesin serupa agar keringnya cucian tak tergantung teriknya mentari. Namun, harga dan  watt listriknya memang mahal. Ibu umbah-umbah mengurungkan niat membeli mesin pengering. Dikeringkan di mesin cuci juga bisa, walau tidak sekering menggunakan mesin khusus. 

Sungguh heran. Timbul pula pertanyaan dalam batin: “Mengapa rezeki tak pernah sepasti cucian?” Cucian selalu terpastikan menumpuk dalam dua hingga tiga hari. Uang tak selalu menumpuk menggunung dalam dua hingga tiga hari. “Andai rezekiku sepasti cucianku,” ibu umbah-umbah kembali berandai-andai. Tumpukan cucian selalu ada, tak pernah habis. Malah ada masanya cucian menjadi begitu luar biasa banyaknya. Umbah-umbah mungkin selamanya, sampai kiamat. 


Yunie Sutanto, pembaca buku dan penunggu mesin cuci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s