Kereta Melaju Cerita

Yulia Loekito

Adapun rumah Riadi, terletak di seberang rel, di komplek perumahan yang jauh lebih bagus daripada perumahan di sepanjang kali rel. Rumah Basino terletak tepat di pinggir kali itu.  

(Rayani Sriwidodo, Kereta Pun Terus Berlalu, 1982)

PENGALAMAN naik kereta itu selalu berhubungan dengan jendela dan pemandangan. Pemandangan palang sepur dan antrean kendaraan yang mengular. Waktu melalui jembatan tentu pemandangan jurang yang bikin dag dig dug. Yang paling disenangi biasanya pemandangan hutan atau sawah di kiri kanan, dengan langit biru dan awan menggantung di atasnya. Tapi, yang tak pernah terlupa adalah pemandangan rumah-rumah berdesakan di pinggir rel kereta. 

Dari balik jendela kereta terlihat pintu-pintu rumah, sebagian terbuka. Ibu-ibu momong anak di pinggir rel kereta. Anak-anak bermain juga di sana, seolah tak terganggu bising deru suara kereta, juga tak terlihat was-was akan bahaya. Rel kereta bagi sebagian anak adalah tempat bermain yang menyenangkan walau bahaya mengancam, tempat kenangan masa kecil terabadikan. Ada pula yang lebih aman, bermain di rel-rel kereta yang sudah mati, tak lagi beroperasi. Basino, Riadi, dan kawah-kawan dalam cerita tulisan Rayani Sriwidodo ini termasuk anak-anak dari kelompok yang menantang bahaya, rel kereta tempat mereka bermain rel kereta aktif. Latar cerita kita duga perkotaan, walau tak disebut kota tertentu. 

Basino, Riadi, dan kawan-kawan dalam cerita tulisan Rayani Sriwidodo ini termasuk anak-anak dari kelompok yang menantang bahaya, rel kereta tempat mereka bermain rel kereta masih aktif. Latar cerita kita duga perkotaan, walau tak disebut kota tertentu.

Ingatan-ingatan muncul ketika membaca cerita berlatar tempat di sekitar rel kereta api. Ingatan bermain bersama teman, ingatan buku cerita Anak-anak Kereta Api karya E. Nesbit, dan ingatan akan kelas-kelas sosial. Cerita karya Rayani Sriwidodo berlatar waktu kira-kira akhir 1970-an. Dari kutipan, kita tahu siapa tokoh lebih berpunya melalui latar tempat tinggalnya. Pinggiran rel kereta api itu mencerminkan tempat tinggal orang-orang dari kelas ekonomi lebih lemah. Bahkan sampai hari ini masih bisa kita temui. 

Kita buka artikel tulisan Langgeng Sulistyo Budi, staf Arsip Nasional Republik Indonesia, yang berjudul “Fasilitas Sosial Perkotaan pada Awal Abad Ke-20: Rumah Sakit dan Sekolah di Yogyakarta”. Artikel terhimpun dalam buku berjudul Kota-Kota di Djawa: Identitas, Gaya Hidup, dan Permasalahan Sosial (2010). Diceritakan pembedaan ruang kota sudah terjadi sejak masa kolonial: “Secara fisik hal ini tampak pada pembedaan ruang kota, dan sistem nilainya. Kawasan utama kota, khususnya Kotabaru, menjadi wilayah pemukiman oarng-orang Eropa…. Pembagian ruang kota juga berkaitan dengan persebaran teknologi. Pembangunan jaringan listrik misalnya, tentu diutamakan untuk mendukung keberadaan wilayah kaum Eropa. Pembangunan fasilitas modern perkotaan sebenarnya menjadi representasi dominasi kekuatan kolonial.” Sejak lama perbedaan kelas itu jadi bagian dari tatanan masyarakat karena berbagai sebab. Kepenting pihak berkuasa biasanya jadi penentu. 

Dalam buku cerita anak terbitan negara era Orde Baru ini, kita melihat perbedaan kelas lewat latar cerita, penandanya adalah rel kereta api. Masa itu negara sudah milik sendiri, tapi kelas-kelas sosial masih sangat terasa. Demikian juga hari ini, pinggiran rel kereta api masih penuh sesak rumah-rumah penduduk, sementara gedung, perkantoran, pusat perbelanjaan, tempat-tempat hiburan, dan perumahan mewah terus dibangun. Barangkali masih perlu ada cerita Basino dan Riadi versi tahun 2021 dengan latar serupa, rumah-rumah pinggiran rel kereta api, untuk jadi catatan dan pengingat proses usaha menjadi lebih baik di negeri ini. 

***

Wah, anak-anak. Kalau begitu, Ibu harus membeli enam termos sekaligus, karena Kemal pun ikut juga menjajakan.  

(Rayani Sriwidodo, Kereta Pun Terus Berlalu, 1982)

Di depan rumah Nenek di Malang, ada warung kopi dan rokok kecil yang bersebelahan dengan bakul menjes atau lebih dikenal dengan tempe gembus kalau di Jawa Tengah. Warung tak memiliki dinding tembok atau pintu kaca. Warung itu kotak kecil beratap seng, dicat warna hijau gelap. Pak Di, pemiliknya, harus menunduk kalau mau masuk. Di dalam, cuma muat satu orang saja, Pak Di itu. Warung menjual kopi dan teh, rokok, permen, dan jajanan anak-anak dalam kemasan. Nah, kadang-kadang di warung itu ada termos biru. 

Ada termos dalam buku Kereta Pun Terus Berlalu. Di halaman 21, kita melihat gambar sehalaman penuh. Gambar Basino, si tokoh utama cerita, sedang mencatat sesuatu dalam buku. Di belakangnya, berjongkok seorang kawannya. Mencatat beralas termos. Tinggi termos sekitar sepanjang betis anak umur 10 tahun, tutupnya bulat, tampak kalau tutup itu model tutup yang bisa diputar. Karena gambar tidak berwarna, kita tidak tahu apa warna termos. Kita hanya melihat tulisan ES di sana. Termos itu persis termos di warung Pak Di! Langsung terbayang termos berwarna biru muda. Termos sumber kegembiraan bocah-bocah. 

Dalam termos berisi es lilin dibungkus plastik: manis, dingin, bisa diemut sambil dolan ke sana kemari. Duh! Kebahagiaan banget buat anak-anak hidup di tahun 1980-an. Waktu itu masih sangat jarang ada es buatan pabrik di warung-warung dalam lemari-lemari pendingin. Es dibuat di rumah-rumah warga. Banyak dengan gula asli dan perasa-perasa alami, seperti dalam cerita Basino. Juga seperti isi termos di warung Pak Di. Penjual es yang menitip jual di warung Pak Di adalah Omku, waktu masih muda dia mencoba segala macam cara untuk mendapat penghasilan. Salah satunya berjualan es lilin. Aku sungguh senang menginap di rumah Malang karena berderet-deret es lilin di kulkas boleh bebas dimakan: rasa stroop melk (sirup susu), nanas, moris (sirsat), dan cokelat. Bahagia! 

Orang-orang bisa mendapat penghasilan, menyambung hidup berjualan es dalam termos-termos, Basino dalam cerita bahkan bisa mengumpulkan uang untuk daftar sekolah. Es selalu terjual habis karena tak banyak saingan dari perusahaan-perusaahaan es pabrikan. Walaupun es dalam termos sudah meleleh jadi cair lagi, bocah-bocah tetap suka beli. 

Namun, tahun berganti tahun, rupanya berjualan es dipandang menguntungkan, menarik untuk dikuasai. Tak heran, bermunculan es-es dengan bungkus aneka gambar dan warna, dalam lemari-lemari pendingin dengan merek-merek yang sama, yang bisa kita temukan di ujung Sumatera, di Jogja, atau di Kupang. Jarang sekali bisa kita temukan termos-termos bertutup putar tak bermerk berisi es lilin aneka rasa di warung-warung. Barangkali sesekali kita bisa temukan waktu ada pasar-pasar bertema masa lalu, menjual jajanan masa lalu. Sekedar memori dan pengobat rindu. Tapi pada kenyataannya es lilin dalam termos tinggal kenangan saja, wong cilik harus putar otak lagi cari sumber penghasilan lain. Kadang aku merasa sangat kangen. 


Yulia Loekito, penulis dan pengamat buku anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s