Jalan Tak Bernama

Rizka Umami

SEORANG lelaki tua sedang berusaha mengingat arah mata angin. Tidak. Laki-laki berusia 85 tahun itu hanya sedang susah payah mengenang jalan setapak di samping rumahnya. Jalan yang ikut tumbuh dan berkembang, seperti anak dan cucunya. Bayi-bayi asing yang mulai berlarian, berebut jajan dan toples isi kunang-kunang. Kadang meminta dibuatkan obor untuk pura-pura berani menyusuri hutan kecil di ujung jalan yang berakhir persawahan. Lalu berteriak ngeri memanggil orang-orang untuk buru-buru menyusul mereka.

Orang-orang dusun yang lahir sejak babat desa itu mesti ingat tumbuh kembang jalan tanpa nama. Jalan ke timur yang diapit dua rumah sesepuh dusun. Orang-orang berjalan kaki, bersepeda dan menuntunnya sesekali jika air di selokan tiba-tiba tinggi. 

Sejak 2000-an, otoritas desa mulai gencar memuluskan jalan. Tahun-tahun berjalan membiarkan motor roda dua hilir mudik, menggantikan sepeda butut, yang kadang terpaksa berhenti sejenak di perempatan. Lalu negosiasi alot pun mulai terjadi. Kadang menghasilkan luka-luka dan kecewa, lebih sedikit keuntungan untuk para penarik becak yang tinggal di ujung jalan. 

Lalu negosiasi alot pun mulai terjadi. Kadang menghasilkan luka-luka dan kecewa, lebih sedikit keuntungan untuk para penarik becak yang tinggal di ujung jalan.

Jalan tanpa nama itu pun tumbuh. Tak seperti anak-anak yang selalu diukur tinggi badannya tiap dua pekan sekali. Seorang perangkat desa hanya peduli pada pelebaran jalur menuju rumahnya. Membuat jalan tanpa nama makin keras dan arogan. Di desa, nama jalan tentu tidak begitu penting. Lagipula, siapa yang akan mengingat pernah melenggang di jalan tanpa nama? Tanpa kenangan atau sesuatu yang dirasa penting, mustahil mengingat jalan kecil yang hanya sekali dilewati, buntu pula.

Seorang Albert Camus, dalam Summer (2018) sempat mengutip surat Descartes kepada Balzac: “Setiap hari aku berjalan-jalan melewati kebingungan sejumlah besar orang dengan kebebasan dan keheningan sebanyak yang kau temui di jalan kecilmu.” Apakah, pada akhirnya, setiap jalan kecil tanpa nama dibiarkan kesepian dan sunyi?

Sayangnya, tidak. Jalan samping rumah lelaki tua itu bukan lagi jalan kecil. Jalan itu terus diberi makan para perangkat yang tinggal di dalamnya, diperlebar lagi, lima puluh meter, seratus meter dan meter meter selanjutnya dimintakan hibah dari pemilik tanah di samping kanan jalan itu, si lelaki tua. Lambat laun, orang-orang telah berhasil mengizinkan mobil-mobil keluaran terbaru merangsek ke garasi-garasi rumah. Tak berselang lama, juga berhasil memboyong truk-truk pasir, leluasa masuk dan keluar. 

Tapi tak ada sedekah nama. Tidak ada anggaran untuk memberi nama pada jalan-jalan kecil, apalagi jalan buntu. Meski tanah gembur dan batu-batu berganti paving-paving dan aspal korea, jalan itu tetap dianggap kecil dan hidup tanpa nama. Sebab lainnya, jalan ini bukan “gang kelinci” dalam lagu Titiek Puspa. Bukan tempat orang-orang besar menempa diri dengan menghantamkan telapak kaki dan lutut ke tanah kering. Mungkin, hingga generasi selanjutnya berganti, jalan tanpa nama ini akan tetap abadi. 

Camus bercerita bahwa jalan-jalan di Oran yang mengisahkan tentang kesenangan pemuda-pemuda yang bangga dengan sepatu mengkilap, kemudian ditinggalkan menjadi penuh debu, kerikil, dan panas. Dan, seperti Albert Camus yang memiliki kenangan tersendiri pada jalan-jalan di Oran yang sepanjang waktu dilewatinya, jalan tanpa nama di dusun itu juga memberikan kenangan pada si lelaki tua.

Bedanya, jalan itu hanya akan berkisah lantang tentang petani-petani yang kelimpungan mencari tengkulak, pengamen-pengamen baru yang terpaksa putar balik karena ketidaktahuan pada ujung jalan yang buntu, atau anak-anak yang kehilangan hutan kecilnya untuk sekadar berburu kunang-kunang. Hanya itu.


Rizka Umami, penikmat tulisan dan pembaca untuk telinga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s