Yang Mengayuh Nasib, Petani yang Bersyukur

Ahmad Sugeng R

DI ayat-ayat dalam kitab suci, pekerjaan memperoleh pengakuan. Sekian pekerjaan mulai dari menulis, pedagang, peternak, penyair, tukang bangunan, petugas administrasi, nelayan, berkebun, pemusik, petani, tukang tembaga dan besi boleh ditunaikan. Pekerjaan-pekerjaan terekam dan terajarkan dalam kitab suci. Orang bekerja bernilai pahala tapi juga menjadi dosa. 

Tuhan mengutus nabi dan rasul, yang hadir tidak hanya sebagai pengingat dan penyampai pesan kepada umatnya agar rajin beribadah: membentuk diri yang beriman dan bertakwa. Pekerjaan untuk mencari nafkah dan kemuliaan hamba juga tersampaikan dengan teladan. Masa kecil Nabi Muhammad melakukan pekerjaan sebagai penggembala, lantas berdagang di usianya yang menginjak remaja.

Orang bekerja pada dasarnya beribadah, memenuhi amanah dalam hidupnya. Zawawi Imron dalam buku Soto Sufi dari Madura berbagi cerita-cerita bermuatan pekerjaan. Pekerjaan yang tidak hanya memasalahkan besaran gaji. Lebih dari itu, cerita pekerjaan lebih dialamatkan untuk memberi kritik dan nasihat.

Di tulisan berjudul “Jam Bersejarah”, Zawawi Imron bercerita tukang becak yang memperoleh hadiah jam tembok usai menjuarai pawai hias. Alih-alih berbahagia, ia malah mendapat marah karena emoh menjual jam tembok itu pada juragannya. Peristiwa itu berbuah makian dan pernyataan sabar: “Ya, saya hanya tukang becak. Dua puluh teman saya yang menjalankan becak ibu juga disebut tukang becak seperti saya. Tapi ingatlah, bahwa tukang becak itulah yang memberi ibu makan minum dan berpakaian”. Peristiwa jam berubah dari penerangan dan penyadaran. Artinya, pekerjaan bukan hanya dinafkahkan untuk diri sendiri, melainkan juga orang lain. Pekerjaan diartikan melibatkan dan saling menguntungkan. Orientasi sandang, pangan, dan papan merupakan hal yang lumrah ketika orang menunaikan pekerjaannya.

Artinya, pekerjaan bukan hanya dinafkahkan untuk diri sendiri, melainkan juga orang lain. Pekerjaan diartikan melibatkan dan saling menguntungkan. Orientasi sandang, pangan, dan papan merupakan hal yang lumrah ketika orang menunaikan pekerjaannya.

Di masyarakat kita masih jamak ditemui pekerjaan yang bermental juragan dan buruh. Juragan berati pemilik kuasa, perintah, bentakan, dan sedikit pujian ke buruh. Juragan juga yang kadang menaruh dirinya di posisi yang lebih tinggi ketimbang buruhnya. Buruh lumrahnya hanya bisa diam, mengangguk, dan mengerjakan perintah dari si juragan. Tapi di cerita itu tukang becak sebagai buruh tidak hanya diam. Ia melawan dengan nasihat penyadaran kala pemecatan dialamatkan pada dirinya. “Allah menyediakan rezeki di mana-mana asal saya mau bekerja,” ucapan yang luput dimaklumi masyarakat kita hari ini saat dirinya lepas pekerjaan karena dipecat atau belum memperoleh pekerjaan dari sekian lowongan yang tersedia.

Tapi pekerjaan yang populer di negeri ini bukan tukang becak, melainkan petani. Seorang yang mengabdikan dirinya untuk menggarap tanah guna pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Petani bekerja untuk dirinya dan orang lain. Petani memberi khas negeri ini, sejak masa silam sampai sekarang, Indonesia adalah agraris. Tumbuh dan dapat berkembang akibat pasokan padi dari para petani.

Hanya saja, petani sekarang terus merugi. Sekian problem tersaji saat berbicara tentang petani. Tanahnya berkurang untuk alasan pembangunan. Anak dan cucu para petani lebih memilih pekerjaan yang menghasilkan banyak duit. Harga pupuk mahal. Harga jual padi yang rendah. Membludaknya beras impor. Selain itu kadang alam juga tidak memihak petani kala musim tanam dan panen.

Bila petani melawan kebijakan-kebijakan yang merugikan biasanya gagal jika sudah berurusan dengan kerja-kerja pemerintahan. Zawawi Imron dalam cerita berjudul “Membela Hak” memberi kritik pada mereka yang semena-mena kepada petani. Di cerita itu, kita diajak berpikir ihwal benar atau tidak perbuatan melawan dari petani kepada penguasa: “Bagaimana dengan seorang yang mati terbunuh akibat mempertahankan tanahnya yang hendak digusur orang? Ia masuk neraka atau surga?” tulis Zawawi Imron. Perbuatan mempertahankan tanah bukan sekadar melawan, tapi diberi terang sebagai perbuatan yang bernilai pahala. Tapi bagi penanya, perbuatan itu sama dengan membangkang: “Dia punya tindakan sebagai pembangkan kok malah didoakan masuk surga?” Petani merugi tidak diurusi, petani melawan dicap sebagai pembangkang. 

Para petani di negeri inimasih lebih banyak yang berterima dengan nasibnya. Ia legowo jika lahannya dibeli lantas di atasnya di tanam tembok-tembok angkuh demi kemajuan negeri. Kondisi itu dihibur petani dengan menambah rasa syukur. Emha Ainun Najib dalam buku berjudul Cahaya Maha Cahaya mencantumkan doa-syukur bagi petani. Doa bisa dipanjatkan setiap ibadah yang ditunaikan para petani guna meredam amuk dan kekecewaan: “Atas padi yang engkau tumbuhkan dari sawah ladang bumi-Mu, kupanjatkan syukur dan kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu sendiri berterima kasih kepada-Mu dan bersukaria” Petani bersyukur karena padi yang ditanam tumbuh, meski nanti entah panen raya atau gagal panen.


Ahmad Sugeng R., pengikut obrolan Malem Jumat Keramat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s