Iklan, Pekerjaan, Kebahagiaan

Dian Erika

IKLAN itu tidak biasa, mencuri perhatian mata dengan gaya neo klasiknya. Mengambil tokoh utama Budi, yang terkenal dalam buku pelajaran bahasa Indonesia masa 1980-an. 

Generasi lawas pasti mengenal Budi. Tapi, Budi yang sekarang bukan Budi yang dulu. Ini Budi era mutakhir, 2021. Di era postindustri Budi tak mau ketinggalan teknologi meski tinggal di desa. Budi memiliki ponsel pintar. Budi meng-install aplikasi Gopay. 

Budi, anak yang baik budiman dan berjiwa pahlawan meskipun wajahnya pas-pasan. Budi yang rela berkorban, membantu tetangga dan usaha lokal, serta jadi pahlawan sesama. Semua berkat Gopay! Budi membeli di warung tetangga, membeli sayur-mayur dan cilok. Budi berbelanja berbagai barang dari usaha lokal. Budi tertawa menonton film lokal bersama kerbaunya. Semua dibayar Budi menggunakan Gopay. Budi jadi pahlawan sesama di masa pandemi karena pakai Gopay. Kira-kira demikianlah narasi yang diusung iklan Gopay. Iklan itu bisa dilihat di televisi atau di kanal Youtube GoPay Indonesia. 

Tergelitik oleh narasi yang lucu dan seru. Dua hal yang langsung mengusik adalah miskonsepsi penggambaran desa dan usaha memaknai kembali kata pahlawan. Yang paling membuat penasaran adalah apa pekerjaan Budi sehingga saldo Gopay-nya selalu full, bisa untuk beli-beli dan bayar-bayar. Kerja dan uang memang berkaitan erat. Jadi wajar jika menjadi pertanyaan. Tapi, jika mau menelisik lebih jauh, lebih dalam,  tidak hanya uang saja yang berkaitan dengan pekerjaan. Ada hal lain yang bepeluk erat dengan bekerja.

Tanpa kerja, semua kehidupan akan membusuk. Tetapi, bila kerja tidak berperasaan, kehidupan sesak dan mampus. Demikian, kata Albert Camus. Apa hakikat bekerja? Untuk apa kita bekerja? Barangkali banyak dari kita akan menjawab bahwa bekerja adalah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bekerja untuk menghidupi keluarga. Bekerja untuk mewujudkan cita-cita dan lainnya. Tidak ada yang salah dengan jawaban tersebut. Namun ada yang terlupa. Kita lupa bahwa bekerja adalah salah satu bentuk ibadah.

Bekerja untuk menghidupi keluarga. Bekerja untuk mewujudkan cita-cita dan lainnya. Tidak ada yang salah dengan jawaban tersebut. Namun ada yang terlupa. Kita lupa bahwa bekerja adalah salah satu bentuk ibadah.

Kita bisa melongok pekerjaan dalam kitab suci. Rupa-rupa pekerjaan ada di sana. Dalam Al-Quran, surat At Taubah ayat 105, menyatakan perintah untuk bekerja: “Dan katakanlah:”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan itu, dan kamuakan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” Pekerjaan adalah sesuatu yang sakral karena merupakan perintah Tuhan. Menurut Islam, manusia di dunia memiliki dua peran, yaitu sebagai khalifah dan sebagai hamba Tuhan. Sebagai khalifah, manusia ditugaskan untuk menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam dengan baik. Sebagai seorang hamba, manusia ditugaskan untuk beribadah dan bersyukur. Manusia bekerja untuk mensyukuri karunia Tuhan yang diberikan kepada dirinya. Namun acapkali manusia terjebak dalam materialisme yang menyebabkan kehilangan rasa bahagia dan syukur akan pekerjaan. 

Mari kita beranjak ke desa dan kita simak lirik “Lagu Petani” gubahan Iksan Skuter (2016): Leluhurku, kakek nenekku, ayah ibuku petani/ sawah terbentang air melimpah/ kehidupan sangatlah indah/ saat akhirnya mereka bertandang bahwa janji mimpi juga uang/ menyalahkan aku menjadi petani yang tak kaya dan miskin rejeki/ salahkahku menjadi petani?/ bertahan tuk menjadi petani/ meski selebar dahi sepanjang bahuku/ tanah ini untuk anak cucu. Petani bahagia dengan kehidupannya, kehidupan terasa sangatlah indah. Tapi orang mengukur kebahagiaan petani dengan uang. 

Sikap kita terhadap pekerjaan memang ​​merupakan faktor terpenting dalam mencapai kebahagiaan. Dalam buku The Art of Happiness at Work (2004) susunan Dalai Lama dan Howard, tercatat hasil riset Amy Wrzesniewski, yang menempatkan pekerja ke dalam 3 kategori: (1) menganggap profesi mereka hanya sebagai pekerjaan, sesuatu dengan imbalan finansial (sedikit minat/kesenangan); (2) menganggap pekerjaan mereka sebagai karier, mereka mencari kemajuan, status sosial, prestise, dan status yang lebih tinggi, (tertarik pada pertumbuhan); (3) melihat pekerjaan mereka sebagai panggilan, mereka akan melakukan pekerjaan mereka secara gratis (tujuan yang lebih tinggi berarti lebih banyak kepuasan).

Pekerjaan bisa membawa manusia beriman atau ingkar. Pemaknaan pekerjaan yang dangkal dapat menjerumuskan ke dalam perbuatan yang merugikan. Kita jamak menemui, pejabat negeri melakukan korupsi karena hanya berorientasi pada uang. Radhar Panca Dahana dalam Ekonomi Cukup (2015) mengungkapkan, budaya hidup “lebih” memandang dan melakoni hidup dengan sebuah nilai dasar: kita berhak bahkan wajib memperoleh atau berusaha mendapat lebih dari apa yang kita miliki. Untuk itu, kita seolah wajib untuk berjuang keras, berkompetisi, bahkan jika perlu menggunakan semua cara. Padahal, sebaik-baik makhluk adalah yang bersyukur dan hidupnya bermanfaat bagi orang lain. Pada akhirnya, kita mengingat lagi Budi dalam iklan. Apapun pekerjaan Budi tak jadi masalah, selama halal dan diniatkan untuk beribadah.


Dian Erika, pengikut obrolan Malem Jumat Keramat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s