Listrik dan Religiositas

Joko Priyono

LISTRIK itu produk dari ilmu pengetahuan. Ia buah dari ketekunan para penenun ilmu pada perkembangan zaman dengan silih-berganti. Pada tiap zaman, kita menjumpai sederet nama tokoh dengan gagasan pemikirannya terkait pengembangan energi listrik: Thales, William Gilbert, Charles du Fay, Benyamin Franklin, Alessandro Volta, dan Michael Faraday. Listrik dalam perkembangannya menjadi bagian tak terpisahkan pada kehidupan umat manusia. Nyaris, tiap waktu, listrik terus terlibat dalam denyut-nadi kehidupan manusia. Listrik untuk pekerjaan, pendidikan, industri, transportasi, komuniksi, bahkan sampai pada urusan ibadah.

Kita membaca sebuah tulisan di rubrik “Suara Pembaca” di Kompas, 20 Agustus 2021, berjudul “Ibadah Virtual” dari Yes Sugimo. Yes mengutarakan pendapatnya terkait kolom di Kompas, 7 Agustus 2021. Tulisan tersebut berasal dari peneliti bidang ilmu sosial, budaya, dan kajian agama di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Najib Burhani, berjudul sama seperti termaktub dalam judul di rubrik “Surat Pembaca” tadi.

Penulis surat memberikan respons positif dan penuh persetujuan terkait makna ibadah virtual. Kolom Najib berawal bagaimana ribuan orang Islam saat melaksanakan salat Idul Adha tahun ini secara virtual pada 20 Juli 2021. Disebutkan juga jumlah partisipasi hadir di angka 1.000, belum termasuk anggota keluarga tiap partisipasi dalam wahana Zoom. Bila dihitung keseluruhan di kisaran angka 3.000. Fenomena tersebut tentu tak terlepas dari keberadaan pandemi dengan mengharuskan pembatasan pertemuan langsung, tak terkecuali pada perkara ibadah.

Kita mendapati beragam imajinasi dalam situasi dan kondisi tersebut. Perubahan dalam berbagai sektor kehidupan manusia dalam menghadapi masalah maupun ancaman terhadap keberlangsungan hidup. Ada perubahan dalam pandangan hidup manusia dengan dalih bagaimana terus berusaha untuk beradaptasi pada perkembangan zaman. Apalagi ini adalah persoalan ibadah. Kita menyaksikan pada waktu-waktu dahulu tentang imajinasi untuk memberikan gambaran umat beragama dengan simbol.

Pada tampilan iklan baik itu di dalam koran, majalah, hingga televisi umat beragama disimbolkan dengan cahaya baik itu berasal dari obor maupun lilin. Simbol pasti menyiratkan makna. Kita membaca buku Benny H. Hoed berjudul Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya (2008). Ia menyebutkan, tonggak (representamen) merupakan sebagai pengingat manusia terhadap ingatan-ingatan berhubungan religiositas. Cahaya tentu menyimbolkan akan terang benderang dalam beragama.

Tentu, ketika dahulu tonggak umat beragama disimbolkan dengan obor maupun lilin, dalam perkembangannya ada perubahan mendasar manusia terhadap tanda. Modernitas ditandai cepat dan pesat sisi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan pengaruh dalam cakupan luas. Itu juga terjadi visualisasi dari media baik visual maupun audio visual. Umat beragama di era modernitas tak lagi tercitrakan oleh obor maupun lilin, melainkan berupa lampu dengan berbagai mereknya.

Umat beragama di era modernitas tak lagi tercitrakan oleh obor maupun lilin, melainkan berupa lampu dengan berbagai mereknya.

Umat beragama mungkin akan sangat berterima kasih, pertama pada listrik kemudian kedua pada lampu. Namun, di luar itu tentu perlu memahami secara mendalam akan perubahan demi perubahan dalam perkara religiositas. Misalkan dalam agama Islam, perkara salat saja rumitnya minta ampun kalau pemahaman terkait anjuran tersebut dilakukan secara terus-menerus. Pasalnya apa? Ada serangkaian tata cara mesti dipikirkan secara langsung maupun tidak langsung terkait hal-ihwal ibadah tersebut.

Di masjid maupun musala utamanya di kampung-kampung, orang melakukan ibadah salat bukan perkara menggugurkan kewajiban. Namun, ada kesadaran dalam bersosial, interaksi bersama yang lainnya. Salat memperkuat solidaritas, berbagi kabar, hingga memunculkan obrolan pada topik tertentu. Mungkin saja, seseorang pada suatu hari tak berkesempatan berangkat ke rumah ibadah, di hari selanjutnya pasti ditanya alasan ketidakhadiran.

Tentu ini perkara serius perlu melibatkankan para pemuka agama terkait hal tersebut. Terlepas dalam situasi pandemi maupun tidak, ibadah harus dipahami dalam makna mendalam dan menyeluruh ihwal hakikat. Bukan perkara kehadiran, penggunaan latar belakang virtual (virtual background) dalam penggunaan aplikasi pertemuan dalam jaringan, hingga bagaimana mengatur pola posisi tiap-tiap orang. Belum lagi, di dalamnya perlu foto bersama atau bahkan dalam serangkaian pelaksanaannya harus direkam. Itu bukan perkara cocok atau tidak cocok.


Joko Priyono, bergiat di Lingkar Disku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s