Nggih

Bandung Mawardi

Pada suatu pagi, bapak itu duduk di depan guru sedang memberi keterangan-keterangan singkat. Lembaran-lembaran kertas di atas meja. Percakapan dimulai gara-gara melihat angka. Di situ, terlihat angka ditulis dengan bolpoin warna merah. Nilai teranggap rendah.

Guru menerangkan bila si murid mendapat nila rendah dalam pelajaran bahasa Jawa. Bapak itu diam dan mengangguk. Guru masih mengucapkan “ini” dan “itu” berkaitan bahasa. Bapak diminta agar memberi semangat untuk anak belajar bahasa Jawa, berharap kelak bisa mengerjakan tugas-tugas dengan nilai tinggi. Petuah bijak. Bapak itu mengangguk dan menjawab: nggih.

Sejak SD, nilai untuk pelajaran bahasa Jawa memang sering rendah. Semula, hal itu dianggap masalah. Si bapak teringat bila pelajaran bahasa Jawa memang sulit. Ia biasa diminta jawab oleh anak dalam mengerjakan tugas-tugas. Bapak biasa menggeleng atau menganjurkan agar melewatkan jawaban. Susah! Bapak dulu pernah menjadi murid SD, merasakan juga sulit belajar bahasa Jawa. Ia tak mau ngotot untuk memahami pelajaran bahasa Jawa di SD dan SMP. Kecukupan saja asal nilai tak berwarna merah di rapor. 

Pada saat masih muda, si bapak itu malah ingin kuliah di jurusan sastra daerah (Jawa) tapi gagal. Ia mendaftar di perguruan tinggi negeri di Solo. Gagal gara-gara soal ujian untuk lolos sebagai mahasiswa malah bukan bahasa Jawa. Di lembaran penentuan, ia diwajibkan mengerjakan soal-soal bahasa Inggris, matematika, dan ilmu-ilmu membosankan selama dipelajari di sekolah. Gagal menjadi mahasiswa sastra jurusan sastra Jawa, ia cengengesan saja. Tahun-tahun berlalu, ia mencoba ikhlas menjadi mahasiswa di jurusan pendidikan bahasa Indonesia. Pengetahuan kebahasaan tetap rendah. Urusan bahasa Jawa dan Inggris makin tertinggal di belakang.

Gagal menjadi mahasiswa sastra jurusan sastra Jawa, ia cengengesan saja. Tahun-tahun berlalu, ia mencoba ikhlas menjadi mahasiswa di jurusan pendidikan bahasa Indonesia. Pengetahuan kebahasaan tetap rendah. Urusan bahasa Jawa dan Inggris makin tertinggal di belakang.

Peran menjadi bapak mengharuskan kebijakan dalam berbahasa di rumah. Ia memutuskan berbahasa Indonesia untuk anak-anak. Kebijakan salah tapi termaklumi. Di rumah, berbahasa Jawa itu merepotkan bila berpikiran pula tingkatan. Bahasa Indonesia dipilih untuk bercakap sambil melihat kemampuan anak-anak dalam berurusan bacaan dan tontonan. Nah, masalah-masalah mulai membingungkan saat Abad dan Sabda sulit mengerjakan tugas-tugas dalam pelajaran bahasa Jawa. Bapak merasa bersalah tapi masih cengengesan saja.

Bapak itu bingung dan gagal turut memberi jawab. Ia membuka buku-buku pelajaran mutakhir. Oh, buku pelajaran bahasa Jawa abad XXI tak semenarik buku-buku pelajaran lawas. Di rumah, ia memiliki ratusan buku pelajaran bahasa Jawa. Buku-buku mengajarkan cara menulis aksara Jawa, memuat cerita-cerita memikat, bacaan-bacaan menjelaskan, dan gambar-gambar apik. Si bapak juga memiliki ratusan kamus, termasuk kamus-kamus bahasa Jawa. Semua itu belum dijadikan bekal untuk mengajari anak-anak mendalami pelajaran bahasa Jawa, bermisi mendapat nilai tinggi di sekolah. Ia tetap beranggapan pelajaran bahasa Jawa itu susah, membosankan, dan membingungkan.

Bapak mengaku bersalah membuka lagi Baoesastra Mlajoe-Djawa (1922) susunan R Sasrasoeganda. Edisi terbitan Balai Pustaka, cetakan kedua. Kamus tebal. Dulu, dibeli dengan harga mahal. Duit bisa untuk membeli beras 25 kg malah digunakan membeli kamus. Bersalah! 

Kamus disusun sejak awal abad XX. Sasrasoeganda bermaksud memberi bekal bagi orang-orang berbahasa Jawa mengetahui tatanan baru di Hindia Belanda. Kaum pergerakan, jurnalis, pengarang, guru, dan kalangan terpelajar mulai menggandrungi bahasa Melayu dalam keseharian, pengajaran, pers, sastra, dan gerakan nasionalisme. Nah, orang-orang berbahasa Jawa bisa membuka kamus bila ingin mengetahui arti-arti ratusan kata dalam bahasa Melayu. Dulu, situasi berbahasa Jawa terasa menegangkan berkaitan ideologi, iman, adat, keilmuan, dan lain-lain. 

Oh, bapak itu terus berpikiran bahasa Jawa masa lalu dalam kamus-kamus dan buku pelajaran. Abad dan Sabda mengajak lagi mengerjakan soal-soal pelajaran bahasa Jawa berlatar abad XXI. Bapak itu geleng-geleng, susah mengerti dan gagal memberikan jawaban. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s