Secuil Kebahagiaan

Naila

KESENANGAN menghampiri yang berulang tahun. Teman dan keluarga memberi ucapan selamat. Berbagai macam doa diberikan untuk kebaikannya. Belum lagi, hadiah-hadiah misterius, yang masih dalam keadaan terbungkus membuat otak menebak-nebak apa isinya. Yang berulang tahun sebetulnya tanpa sadar menaruh harapan bahwa barang yang diinginkan atau dibutuhkan ada di dalamnya. Momen-momen menegangkan membuka hadiah selalu membekas dalam benak manusia selama beberapa waktu. Meskipun, ternyata setelah dibuka isi hadiah tak sesuai yang diharapkan. Yang berulang tahun hampir saja kecewa kalau saja tidak mengingat siapa-siapa pemberinya. Namun secara keseluruhan, manusia yang mendapat hadiah dilingkupi kebahagiaan. 

Ada sebuah kisah tentang seorang anak perempuan sering diberi hadiah berupa barang-barang apik, yang mahal oleh orang tuanya. Pemberian bukan saat ia merayakan hari ulang tahunnya. Yang membuat iba, orang tuanya tak pernah memberikan hadiah itu secara langsung pada sang anak. Mereka menitipkan hadiah kepada para babu. Mereka terlalu sibuk. Semua hadiahnya itu bagus dan memukau. 

Yang membuat iba, orang tuanya tak pernah memberikan hadiah itu secara langsung pada sang anak. Mereka menitipkan kepada para babu. Mereka terlalu sibuk. Semua hadiahnya itu bagus dan memukau.

Anehnya, hadiah-hadiah itu tak ada yang bisa menghilangkan raut masam di wajah sang anak. Alhasil, dia menjadi anak yang muram, pemarah, dan sama sekali tidak menyenangkan. Saking seringnya mendapatkan hadiah, tak satu pun dari hadiah itu yang berkesan di benak si anak perempuan. Sampai suatu saat, anak perempuan itu kehilangan ayah dan ibunya dan harus dikirim pada pamannya yang tinggal di padang moor. 

Perlahan-lahan tapi pasti, sifat anak perempuan itu berubah ke arah yang lebih baik. Dulunya, jika di rumahnya bersama orangtua, dia biasa memukul babu-babunya, di padang moor dia bisa berteman baik bersama seorang pembantu yang setiap pagi menemaninya berbincang-bincang. Martha, namanya. Salah satu yang paling sering mereka bicarakan adalah ibu Martha, yang punya banyak anak. Ibu Martha merasa tetap berbahagia memelihara dan mengurusi anak-anaknya. 

Bahkan, pada suatu pagi anak perempuan itu mendapatkan hadiah dari ibu Martha lewat perantara Martha. Hadiahnya adalah hanya seutas tali lompat seharga dua sen, tanpa pembukus apapun. Walaupun tidak mengetahui kegunaan benda itu sebenarnya, anak perempuan itu sangat tertarik dan wajahnya terlihat bahagia. Martha mengajarinya bermain tali lompat. Dan, anak perempuan itu mencobanya. 

Si pengarang bernama Frances Hodgson Burnett bercerita: “Tali lompat itu benar-benar hebat! Mary menghitung dan melompat, dan menghitung dan melompat, sampai pipinya menjadi merah dan rasa tertariknya semakin besar.” Mary memainkan tali lompat itu terus-menerus sampai halaman-halaman akhir dalam buku The Secret Garden. Sederhana tapi berkesan.


Naila, pembaca buku ingin sepanjang masa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s