Mengidamkan Itu

Bhellinda I Santoso

MEMILIKI rumah idaman tentunya keinginan banyak orang. Definisi rumah bukanlah secara harfiah saja. Properti lainnya seperti apartemen pun dapat disebut sebagai rumah. Rumah itu tempat tinggal untuk menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidup kita. Ingatlah, rumah bukanlah sekadar bangunan! 

Rumah idaman tidaklah selalu digambarkan sebagai rumah yang besar, luas, dan mewah. Aku pun menginginkan rumah idaman, yang artinya terpikirkan dengan berbagai aspeknya, dari tampilan sampai suasananya.

Bagiku selaku istri dan ibu, rumah ialah tempat tinggal, tempat melepas lelah. Rumah menandai tempat-keharusan untuk dimiliki dalam membina biduk rumah tangga. Tapi, makna ini mudah berubah. 

Rumah, tempat aku bertumbuh bersama keluarga. Sehingga, sejak lama aku mencita-citakan sebuah hunian yang nyaman. Rumah yang memiliki kebun di belakang. Tidak harus besar karena repot bersih-bersihnya. Yang pasti harus ada taman! Tuhan mengabulkan doaku. Suami dan aku memiliki sebuah rumah yang mungil dengan sisa lahan untuk taman yang lebih besar dari ukuran rumah. Itu sesuai ekspektasi? Tapi, pada kenyataannya, semua tidaklah sesuai mutlak dengan cita-cita awal.

Suami dan aku memiliki sebuah rumah yang mungil dengan sisa lahan untuk taman yang lebih besar dari ukuran rumah. Itu sesuai ekspektasi? Tapi, pada kenyataannya semua tidaklah sesuai mutlak dengan cita-cita awal.

Rumah, tempat untuk kita bertumbuh. Ya, benar! Rumah itu bertumbuh karena kita belajar saling dan silang. Kita belajar menempatkan diri di tengah-tengah kehidupan bersama: suami dan anak. Kita belajar saling: mengalah, menyayangi, menghormati, memarahi, dan menghakimi.

Rumah yang indah, rumah elok dengan halaman penuh rumput dan bunga yang terawat. Barangkali itu hanyalah pemanis belaka. 

Halaman yang indah memang enak dilihat, tapi butuh perjuangan panjang. Selain rajin menyirami, menempatkan tanaman agar terkena sinar matahari menjadi keniscayaan. Tanaman atau halaman juga perlu kasih sayang. Inilah yang aku belum mengerti secara benar. Ada semacam kekuatan magis untuk dapat membuat taman atau halaman tetap indah. 

Dengan cinta atau kasih sayang, kita akan memberi perhatian kepada tanaman. Sehingga, kita dapat melihat pertumbuhannya, dari hari ke hari. Aku bakal melihat, apakah tanaman itu segar atau layu. Ilmu inilah yang belum aku miliki. Kecintaan belum tumbuh dan memancar. Buktinya, terbengkalainya taman, yang sekarang menjadi tandus dan jauh dari elok. Oh, malu. 

Ilmu inilah yang belum aku miliki. Kecintaan belum tumbuh dan memancar. Buktinya, terbengkalainya taman, yang sekarang menjadi tandus dan jauh dari elok. Oh, malu.

Banyak manfaat yang bisa didapat dari memiliki taman atau kebun di rumah sendiri. Tak hanya untuk kesehatan fisik saja, taman memiliki dampak positif bagi mental. Berkebun memberikan lebih dari itu. Berkebun memberi makanan pada jiwa. Berkebun memberikan energi. Jiwa menjadi tenang. Suasana hati bisa membaik. Pikiran menjadi lebih segar. 

Berkebun, kita diajar untuk menyelami kehidupan. Belajar banyak hal tentang kehidupan. Aku mengidamkan itu. Rumah idaman yang ada taman dan kebun. Diri yang teridamkan pun ingin diwujudkan agar aku memiliki dan termiliki rumah. Aku mencintai taman dan kebun, yang sebaliknya juga tercintai setelah memberi kasih dan doa-doa sepanjang hari.


Bhellinda I Santoso, ibu suka ngerumpi dan tertawa di Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s