Mirah di (Senjakala) Dunia Priyayi

Setyaningsih


p.p1 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; font: 14.0px ‘Bell MT’} span.Apple-tab-span {white-space:pre}
Judul : Bibi Mirah
Penulis : Bakdi Soemanto
Penerbit : Lingkarantarnusa
Cetak : 2020
Tebal : ix+192 halaman
ISBN : 978-623-7615-04-0

ESAI di majalah Horison edisi Maret 2001, pernah memuat dua tulisan bertema kepriyayian: “Para Priyayi dalam Para Priyayi” (Fahrizal) dan “Representasi Priyayi dalam Dua Novel Kita” (Jamal D. Rahman). Fahrizal membabar upaya Umar Kayam menampilkan kompleksitas kepriyayian lewat kehidupan sehari-hari keluarga Sastro. Juga, konsekuensi perubahan dibawa oleh kemapanan ekonomi dan pendidikan yang menggeser nilai-nilai bahkan mengganti tolak ukur kepriyayian. Jamal D. Rahman membabar novel Para Priyayi (Umar Kayam) dan Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer), menganggap keduanya paling representatif menawarkan kehidupan, cita-cita, pandangan-dunia, dan sikap hidup kaum priyayi. Ada kontras keduanya, priyayi di dalam dan di luar feodalisme keraton, antara priyayi (rendah) dari latar petani desa dengan pandangan baru dan priyayi tinggi dengan yang cenderung primitif.

Novel-novel menceritakan dunia priyayi, selalu menghadirkan pergulatan setiap tokoh sebagai pribadi sekaligus bagian dari keluarga-masyarakat. Setiap tokoh memiliki cara berkelindan dengan konflik, keinginan, ataupun pencarian. Bakdi Soemanto menggarap Bibi Mirah (2020) yang secara tersirat menempatkan perempuan sebagai tokoh di (pusat) kebudayaan Jawa. Mirah sepertinya akan mengingatkan pembaca pada tokoh-tokoh perempuan yang sering menonjol dalam prosa-prosa Indonesia: Sri Sumarah (Umar Kayam), Pariyem (Linus Suryadi), Nyai Ontosoroh (Pramoedya Ananta Toer), Mirah (Hanna Rambe), dan Irewa (Dorothea Rosa Herliany).       

Bakdi Soemanto melahirkan Mirah di keluarga Atmodiromo, pemilik bengkel kereta kuda dan pembuat pakaian kuda. Atmodiromo berhubungan baik dengan keluarga priyayi, Projosumangga. Berlatar di Solo 1940-1960an, perhubungan langsung Mirah ke dunia priyayi melalui latihan menari di lingkungan keraton. Mirah selalu diingatkan: “Sebab pelajaran itu tidak hanya berarti kalian harus bisa menjadi penari yang baik, tetapi juga ada mengandung pelajaran unggah-ungguh, sopan santun priyayi.” 

Mirah selalu diingatkan: “Sebab pelajaran itu tidak hanya berarti kalian harus bisa menjadi penari yang baik, tetapi juga ada mengandung pelajaran unggah-ungguh, sopan santun priyayi.

Meski saat itu senjakala kehidupan para priyayi mulai terjadi, status sosial terhormat itu masih kuat disimbolkan oleh silsilah keluarga, tata agraris, pembagian kerja rumah tangga, hiburan, ataupun percintaan. Hidup Mirah berubah ketika mencintai dan dicintai Ramelan, anak Projosumangga. Menjadi keluarga priyayi memang kehormatan, tapi juga membawa konsekuensi derita batin. Tekanan justru datang dari sesama perempuan, Sumiati, adik ayah Ramelan yang tidak menikah. 

Sumiati berkata kepada Mirah: “Kalau anakmu lahir kelak, kau mesti ajari panggil kau: bibi. Jangan ‘ibu’.” Berkata lagi Bu Sumiati: “Sebab, panggilan ‘ibu’ hanya bagi mereka yang antara suami dan istrinya sederajat.” Setiap apa yang dilakukan Mirah, tidak luput sebagai kesalahan di mata Sumiati. “Kan sudah kuberi tahu, kalau ngandung tak usah puasa segala. Hanya priyayi-priyayi yang tahan puasa. Nah, itu akibatnya… istrimu itu, Lan.”

Sejak 1940-an, citra kebesaran kepriyayian mulai luntur dan kurang berpengaruh. Hal ini pun dialami keluarga Ramelan sepeninggal orangtua: “Kecanggungan yang mesti diatasi perlahan-lahan dan kebutuhan sehari-hari yang tak boleh ditunda, memaksa Ramelan untuk mulai menjuali barang-barang peninggalan. Sesudah terlebih dahulu ia berterus-terang kepada semua pembantu rumah tangganya, bahwa ia harus melepas beberapa di antara mereka. Di samping itu, Ramelan juga membuka halaman rumahnya bagi siapa saja yang mau meng-indung.”  

Selain masalah ekonomi, Mirah perlahan menghadapi cinta yang terbagi. Ramelan tetap mencintai Mirah meski tidak menolak kemesraan dari Lastri dan bahkan memiliki anak dari hubungan dengan Martani, kakak Mirah. Konsekuensi ini, Mirah sadar betul sebagai perempuan sekaligus istri: “Mirah bertahan dengan kesetiaannya dalam penderitaan saat itu hingga sekarang. Maka kalau Mirah sangat sakit hati, itu adalah haknya seratus persen.”

Keluarga dan Ekonomi

Melewati masa revolusi, Mirah bukanlah perempuan aktif secara politik, tapi menggunakan pertahanan psikis sekaligus ekonomi sebagai pertahanan hidup. Sepeninggal Ramelan, Mirah mulai berdagang batik. Kurdi, anak Mirah dan Ramelan, masih berusia 11 tahun. Mirah bahkan mengajak serta Parmi, adik Ramelan, yang suasana hatinya selalu pasang surut dengan Mirah. Usaha batik Mirah juga menopang ekonomi senjakala keluarga (besar) Ramelan.

Ruang kepriyayian cenderung tampak maskulin memang tidak menyokong perkembangan kepribadian orang-orang sebagai bagian dari masyarakat atau kedirian sebagai personal. Namun, perempuan memasuki peran menentukan kondisi ekonomi keluarga. Sartono Kartodirdjo dan A. Sadewo Suhardjo Hatmosuprobo di Perkembangan Peradaban Priyayi (1987) membabarkan bahwa dimulai pada 1920-1930-an, para perempuan mulai mengelola usaha batik dan berdagang. Pengelolaan niaga sepenuhnya ada di tangan istri, seperti niaga batik para mbokmas di Laweyan. Laki-laki atau suami hanya berperan kecil, bersantai mendengar gamelan atau menghibur burung.  

Pengelolaan niaga sepenuhnya ada di tangan istri, seperti niaga batik para mbokmas di Laweyan. Laki-laki atau suami hanya berperan kecil, bersantai mendengar gamelan atau menghibur burung.

Kemandirian ekonomi bukti ketabahan Mirah. Di sisi lain, terjadi dilema cara Mirah memandang Kurdi sebagai bocah yang selalu harus dilindungi, bukan anak lelaki yang beranjak dewasa. Mirah sering menghindarkan banyak perempuan dari jangkauan Kurdi. Mirah, sekalipun berasal dari keluarga bukan priyayi, cenderung menginginkan Kurdi (kelak) bersanding dengan perempuan yang “setara”. Meski Kurdi hidup di zaman modern dengan segala perubahan sosial, dia merasa terkekang sebagai remaja yang menginginkan pergaulan lebih luas. Hal ini masih selalu ditegaskan oleh Mirah: “Kau anaknya Ramelan. Ia masih keturunan orang sungguh, priyayi. Kau harus menjaga nama leluhurmu.”

Bakdi Soemanto menghadirkan tokoh perempuan lain, Yanti, anak Yu Surat. Yanti berserah pada gairah dan kelelakian Kurdi tanpa pamrih kelak bakal menjadi istri Kurdi. Dalam gairah percintaan masa remaja, kejelataan Yanti menegaskan kenyataan dirinya tidak mungkin menyanding Kurdi dalam status istri. Yanti tahu dan mengatakan, “Saya tidak pantas jadi istri Den Kurdi. Saya akan dikawinkan dengan anaknya Pakde Sigramilir.” Keinginan Kurdi mengajak Yanti lari dari rumah dan hidup bersama hanya dianggap Yanti sebagai angan reaksioner yang membingungkan dan tidak serius. Termasuk bagi orang dewasa di sekeliling Kurdi, hubungan dengan Yanti pasti sementara main-main saja.  

Namun, pergumulan dengan Yanti memang membuka dunia Kurdi untuk mengelak sekalipun sejenak dari otoritas Mirah. Kurdi ingin keluar dan terlepas, terutama justru bukan secara fisik tapi batin. Ia ingin menemukan dirinya sebagai seseorang yang punya sikap. Maka, Bakdi menghubungkan pencarian diri Kurdi dengan riwayat Si Anak Hilang yang ditulis Andre Gide. Bakdi bertutur: “Sebab, sesungguhnya bukan karena ia mau meninggalkan rumah untuk bisa jadi si Anak Hilang. Justru dalam rumah sendiri, tatkala ia berhadapan dengan Mirah, wanita yang melahirkannya, ia menjadi kehilangan dirinya. Artinya, ia telah menjadi si Anak Hilang itu.”

Penyerahan tubuh dilakukan Yanti dengan sadar pasti akan dibodoh-bodohkan oleh gagasan keperempuanan modern. Menjadi perempuan di dunia priyayi ambigu dan dilematis. Di satu sisi saat tahu terluka, Mirah berupaya menjaga trah kepriyayian “tinggalan” suami. Campur tangan Mirah atas jalan (percintaan) Kurdi seolah mengatakan ia tidak ingin terkhianati lagi. Tragedi atau kesedihan dalam keluarga bisa berulang dan bahkan tampak diwariskan. Bakdi Soemanto menegaskan ketokohan Mirah sebagai perempuan (Jawa) menemukan makna diri di wilayah keluarga, sosial, ekonomi. 


Setyaningsih, Kritikus sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s