Perempuan Bertas

Grace

KALI ini aku akan menceritakan kisah tentang persahabatanku. Aku punya salah satu teman baik, sebut saja namanya Mawar Melati Semuanya Indah, cukup dipanggil Indah. Indah ini perempuan cantik, langsing, dan baik. Dia fashionable sejati. Selalu mengikuti tren fashion kekinian. Kalau keluar rumah harus selalu dengan alis yang tergambar, tak lupa bulu mata palsu. Selalu mencocokkan warna pakaian dengan tas dan sepatunya. 

Berkebalikan denganku yang fashion-nista. Seringnya pakaian yang kukenakan hanya itu-itu saja. Aku penganut aliran Mbah Ringgo berarti kumbah-garing-dienggo (cuci-kering-pakai). Bahkan, kena panas setrikaan pun tidak. Kalau Indah seminggu sekali bisa ke mall untuk berbelanja pernak-pernik, aku mungkin hanya setahun sekali atau dua kali untuk berbelanja. Itu kalau ada yang rusak dan mendesak untuk diganti.

Kalau Indah seminggu sekali bisa ke mall untuk berbelanja pernak-pernik, aku mungkin hanya setahun sekali atau dua kali untuk berbelanja. Itu kalau ada yang rusak dan mendesak untuk diganti.

Kalau orang  melihat kami, mungkin akan terlihat sebagai seorang putri berjalan dengan pengawalnya. Tapi, jangan kau bayangkan pengawalnya seperti preman bertampang sangar dengan kumis hitam tebalnya, tapi bayangkan Yelena Belova, seorang Black Widow adik Natasha Romanov, Sang Avenger. Kau tak tahu siapa Yelena Belova? Mungkin kau bisa menemukannya di mesin pencari di gawai canggihmu. Nah, setelah kau tahu siapa Yelena Belova, sekarang bayangkan di depanmu ada Kate Middleton berjalan dengannya. Itu adalah tampilan fisik yang terlihat. Entah, mengapa kami bisa saling cocok. Padahal, kesenangan kami berbeda jauh. Dia hobi berbelanja, aku hobi menabung. Dia punya banyak tas bermerek terkenal, belasan. Aku hanya ada satu tas untuk dipakai harian dan belasan tas spunbond untuk berbelanja di supermarket.

Setiap acara berbeda, Indah akan tampil dengan tas yang berbeda pula. Pergi ke pesta, dia akan menenteng tas clutch Furla kecil berwana metalik. Untuk sehari-hari, dia bisa berganti Michael Kors, Tory Burch, Bonia, Elle, Longchamp, Coach, dan entah apalagi. Kalau kau lihat tasku, tasku hanya satu. Mau pergi kemana saja, hanya tas itu yang kubawa. “Kantong Doraemon”, itu merek tasku. Dinamai demikian karena isinya banyak sesuai kebutuhan: tisu, dompet, HP, charger HP, alkohol, kunci rumah, bolpoin, kertas, kalkulator, permen, pembalut, kaca kecil, lipbalm, body lotion, flashdisk, botol minum, hingga makanan karena aku ada sakit maag, jadi harus sedia cemilan pengganjal perut. 

Gara-gara isinya sangat banyak itu, aku malas kalau harus gonta-ganti tas. Takut ada yang tercecer dan tidak terbawa. Saking banyak isinya, aku pernah membeli bag organizer yang banyak kantongnya, berharap isi tasku lebih rapi. Sehingga, lebih mudah menemukan barang. Namun, nyatanya sama saja. Aku masih kesusahan mencari kunci mobil maupun kunci rumah. Menurutku lebih gampang mencari kesalahan suami bertahun-tahun lalu daripada mencari kunci rumah atau kunci mobil yang beberapa jam sebelumnya kusesatkan di dalam rimbunnya hutan belantara di dalam tasku.

Pernah suatu waktu, aku memasukkan dua buah kroket kentang di dalam tasku, tapi tidak termakan. Beberapa hari kemudian, aku mencium bau busuk yang berasal dari dalam tasku. Astaga, kroket yang sudah gepeng tak berbentuk sudah ditumbuhi jamur di beberapa bagian! Mana ada bagian yang terpencet dan akhirnya menempel di barang-barang yang ada di dalam tasku. Terpaksa aku harus membongkar semua isinya, lalu mencuci tas. Nah, baru saat itu aku mencuci tasku. Lalu, membawa tas spunbond sebagai ganti karena seharian itu aku tidak punya tas lagi.

Apakah pernah terpikirkan olehku untuk memiliki tas yang bernilai jutaan? Sejujurnya, pernah. Tapi, bukan karena harganya. Lebih karena modelnya yang bagus. Tapi, ketika melihat label harganya, kuurungkan niatku. Aku punya kesan mendalam soal tas mahal. Suatu hari, ketika aku masih bekerja, aku dikirim ke Jakarta untuk mengikuti sebuah pelatihan. Di tengah heningnya kelas, tiba-tiba dari belakangku terdengar suara perempuan memekik keras: “Oh my God! Marvin! Itu tas LV gue! Jangan ditaruh di lantai!” 

Aku sampai sekarang masih ingat nama pria malang itu, Marvin. Jadi, rupanya si Marvin ini datang terlambat ke kelas. Dia mencari bangku kosong yang sudah disiapkan oleh teman sekantornya. Bangku yang kosong itu ditandai dengan sebuah tas supaya orang lain tidak bisa duduk di sana kalau bukan Marvin. Ketika Marvin datang, refleks dia memindahkan tas ke lantai, lalu terjadilah peristiwa menggemparkan itu. Aku langsung melirik tasku di lantai. “Untung, kamu tidak mahal, jadi aku tidak seheboh itu,” kataku pada tasku yang tak berdaya tergeletak di lantai.

Bicara soal harga tas mahal, seberapa mahal menurutmu harga sebuah tas dalam rupiah? Ratusan ribu? Jutaan? Belasan juta? Puluhan Juta? Untuk Indah, tas senilai lima juta itu tidak mahal. Sebab, dia masih punya tas mahal bermerek Channel seharga puluhan juta. Untuk beberapa orang lain, tas puluhan juta mungkin murah. Mereka biasa membeli tas Hermes yang senilai mobil. Tapi, jangan hakimi orang yang mempunyai tas mahal. Bagi mereka itu sebuah investasi. Seperti tas Channel milik Indah yang seharga 30 juta ketika dibeli beberapa tahun lalu. Tas itu jika dijual sekarang bisa senilai 45 juta. Kalau Indah menjual tas Channel-nya dengan harga tas second, mungkin setidaknya 30 juta masih bisa didapatnya. Dia masih untung pakai, bukan?

Aku pernah mempunyai sebuah tas mahal. Tas itu hadiah seorang teman. Mungkin dia terkena ajian pengasihan-ku. Jadi, ceritanya ketika aku berulang tahun, tiba-tiba temanku ini datang lalu mengajak ke sebuah mall. Aku sudah berpikir negatif tentangnya: “Jangan-jangan ini orang mau minta traktir”. Ternyata, dia mengajak ke sebuah konter toko dengan merek terkenal. Lalu, memintaku untuk memilih tas yang kusuka. Melihat harganya saja aku tidak tega, aku menolaknya. Kemudian, dia menunjuk tasku yang resleting utamanya rusak. Memang, beberapa waktu sebelumnya ketika kami pergi bersama, dia memergokiku sedang berusaha memperbaiki resleting tasku yang rusak. Akhirnya karena dipaksa, dengan senang hati kupilih sebuah tas biru yang agak besar ukurannya agar bisa memuat semua isi tasku.

Tas yang mahal itu tidak selalu menyenangkan hati. Indah punya cerita soal itu. Dia pernah mengomel karena suatu hari dia terbang dengan membawa tas Burberry yang dibelinya di Takashimaya, Singapura. Sebab kecerobohannya, dia memasukkan botol minum yang tidak tertutup rapat ke dalam tas. Bisa ditebak, air minumnya tumpah di dalam tas dan bocor keluar membasahi pangkuannya. Lapisan dalam tas yang berwarna coklat luntur membasahi celananya yang berwarna putih. Aku tidak bisa berhenti tertawa ketika membayangkan ceritanya. Belum lagi, cerita soal tas Kate Spade. Lagi-lagi sebab kecerobohannya, tidak menutup rapat larutan alkohol sebagai hand sanitizer, membuat kulit tas terkelupas. Padahal itu tas baru beberapa hari dia beli.

Ah, ada lagi cerita tentang tas Louis Vuitton– nya. Dia mendapatkan tas ini dari saudaranya yang bekerja di luar negeri. Tas yang ini berukuran besar, sehingga jarang dipakai. Namun, suatu hari ketika kami pergi ke mall untuk makan siang, dia membawa tas tersebut. Aku agak heran karena tidak biasanya dia membawa tas besar. Namun sebelum sempat kutanyakan mengapa dia membawa tas itu, tawaku sudah meledak di meja pemeriksaan keamanan di depan lobi mall. Ketika satpam memintanya membuka isi tas untuk mengecek isinya, tampaklah sebuah benda dari plastik besar berbentuk dudukan kloset berwarna putih. Aku baru ingat kalau dia baru saja melakukan operasi ambeien. Pasti sakit rasanya kalau harus ke toilet, sedangkan metabolisme tubuhnya tinggi sehingga setiap kali selesai makan pasti dia pamit ke toilet. Oleh karena itu dia membawa alat bantu untuk ke toilet di dalam tas mahalnya tersebut.

Memang ada harga ada rupa. Jangan komentari jika ada orang yang membeli tas mahal. Mungkin bukan niat mereka untuk memboroskan uangnya, namun mereka membeli kualitas. Biasanya tas mahal memang berkualitas dan modelnya bagus. Jika orang itu membeli banyak tas mahal, ya biarkan saja, jangan dinyinyiri. Toh, itu uang mereka sendiri. Yang jangan sampai kita lakukan adalah membeli tas mahal karena gengsi atau supaya bisa diterima di suatu komunitas tertentu. Apalagi belinya pakai hutang. Bisa juga sampai berbohong pada suami karena kita membeli tas yang mahal tapi kita bilang harganya murah. Kita juga tidak mau dibohongi soal harga sepeda yang dibeli suami sebagai hobi barunya, bukan? 

Pernah pula suatu waktu ketika kami pergi dengan beberapa teman lainnya, ada seorang teman berbisik padaku: “Indah itu kalau pakai tas KW, pasti terlihat seperti asli. Coba kalau Nana. Pakai tas asli pun akan terlihat seperti pakai yang KW.” Tidak usah memusingkan pendapat orang lain!


Grace, pengoceh di Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s