Pekarangan dan Tembang

Bandung Mawardi

DI pelataran, bocah-bocah bermain tapi bukan mengulangi dolanan masa lalu. Mereka memiliki selera berbeda. Zaman tak berjalan di tempat saja. Keramaian itu masih memberi keceriaan. Omongan dan teriak, tak lagi tembang atau lagu membuat mereka pamer kemerduan. Di pelataran, tembang absen dari mulut dan telinga.

Bocah-bocah itu bermain tanah. Mereka memetik daun jambu, rambutan, dan mangga. Wadah-wadah berisi air. Mereka sedang bermain dengan kesederhanaan. Kotor itu biasa. Sekian bocah tertawa dan teriak. Orang sudah berumur tua bakal sulit menantikan mereka memberi tembang berbahasa Jawa. Bocah-bocah bukan ahli waris dari tembang (dan) dolanan. Mereka tetap bermain bersama. 

Di TK dan SD, mereka diajari lagu-lagu biasa berbahasa Indonesia. Sekian lagu tak berkaitan permainan (bersama). Kita maklum saja. Selera lagu dalam pelajaran atau hiburan di sekolah bersaing lagu-lagu dinikmati di gawai. Sekian irama teranggap berasal dari lagu malah digunakan bocah atau remaja untuk berjoget direkam dengan gawai. Anggaplah itu hiburan dan pengungkapan sukacita.

Pelataran di rumah jangan terlalu diharapkan menjadi tempat bernostalgia. Bocah-bocah memiliki cara “baru” untuk menikmati pagi-siang-sore-malam. Bermaian masih terselenggara. Kita saja kadang merindukan hal-hal lama diketahui dan dimainkan bocah-bocah. Kita bisa keterlaluan bila memaksa atau meremehkan bocah-bocah terbentuk oleh televisi dan gawai. 

Pintu itu terbuka. Memandangi bocah-bocah di pelataran sambil membuka buku-buku lama. Pembaca itu masih momong Bait Daun Takjub (5 tahun). Bermain bersama teman-teman kadang menghasilkan tangis. Sabda Embun Bening (9 tahun) bermain dengan teman-teman “ini” dan “itu” sering bosa. Di pelataran, ia memilih mengajak teman-teman bermain pasara. Tembang tetap tak terdengar.

Di buku lama berjudul Lelagon Djawisusunan Ssatrosoedarso, mata memandangi gambar kegirangan lima bocah bermain. Mereka mungkin bocah-bocah lahir dan bertumbuh di Jawa meski busana membuat ragu. Tiga bocah perempuan mengenakan busana mirip untuk pesta. Kaki mereka bersepatu. Dua bocah lelaki juga berpenampilan rapi. Kita sulit menebak mereka sedang dalam pesta atau berada di sekolah. Pembaca geleng-geleng membaca judul buku dan gambar: sulit berkaitan. Buku terbitan masa 1960-an itu masih mengingatkan bocah-bocah bermain sambil bersenandung.

Tembang kadang dibawakan tanpa permainan. Buku berisi tembang-tembang berbahasa Jawa itu mengajarkan apa saja. Kita membuka halaman memuat tembang berjudul “Sinten Numpak Sepur”. Dulu, bocah-bocah menembangkan sambil mesem atau tertawa: Sinten numpak sepur bajare setali/ Kulo boten numpak namung bontjeng mawon/ Sapa trima bontjeng konangan kondektur/ Jen didenda kentejng sida dadi kodjur. Bocah pernah bermain “sepur-sepuran”. Lagu berbahasa Jawa itu melengkapi lagu berbahasa Indonesia gubahan Ibu Sud.

Kita menemukan juga halaman memuat tembang berjudul “Dolanan”. Lagu belum terakrabi atau gampang dikenang. Kita simak: Dolanan, dolanan ana wetan saka wetan/ Tjangkir remuk bibi keprak kepruk/ Bibi krompjang krompjang/ Bibi tjowek gopel ting gerandel/ Adja ana kono botjah nakal tek kepruk tompo. Kita melihat buku lama sambil memandang bocah-bocah di pekarangan. Rasa dan cerita pun berbeda. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s