Iklan yang Lama dan Baru

Damar Aljufri

“ARDATH, kenikmatan sukses,” begitulah slogan rokok Ardath yang diiklankan di majalah Intisari edisi April 1984. Dalam gambar, terlihat dua orang tengah berbincang-bincang sambil merokok. Mereka mengenakan jas coklat dan dasi. Salah satunya mengenakan jam tangan, di tangan lainnya memegang sebuah map. Orang satunya lagi memangku sebuah koper dan koran. Mereka berdua berada di sebuah pesawat dengan dinding bercorak marmer. Jelas, mereka adalah pebisnis sukses, kaya, dan tampaknya sedang melakukan obrolan bisnis juga. Yang terpenting, mereka merokok Ardath. 

Halaman di baliknya terdapat iklan susu Sustagen-HP: “Mereka yang aktif selalu minum Sustagen~HP setiap hari…” Ada gambar satu kaleng Sustagen-HP yang terlihat seperti kaleng cat  bertuliskan Sustagen-HP for Instant Energy. Di sampingnya, tampak orang yang sedang mendayung kayak, anak yang hendak berangkat sekolah, dan dua orang dewasa yang meminum susu Sustagen-HP. Salah satu dari orang dewasa tersebut adalah pebisnis, dilihat dari pakaiannya. 

Di majalah Intisari edisi Mei 1983, iklan Combantrin ditampilkan: “Combantrin membantu anak anda menikmati hidup sepenuhnya.” Combantrin membasmi ketiga jenis cacing utama dengan dosis tunggal. Dalam gambar, terdapat anak kecil yang bermain perosotan dan tersenyum tanggung. Di bawahnya, terdapat seorang ibu yang tersenyum tapi sepertinya ada pikiran. Untuk memperlihatkan anak yang bahagia, iklan ini kurang berhasil. Tapi, Combantrin masih ada hingga sekarang. Jadi, tak apalah jika anak itu kurang bahagia.

Semu itu adalah iklan-iklan masa 1980-an. Mereka menjanjikan kesuksesan, kesehatan, dan ketenangan. Rokok Ardath, misalnya, mereka menonjolkan gambar dua orang pebisnis kaya yang merokok Ardath. Orang-orang masa 1980-an bisa jadi menganggap salah satu kunci kesuksesan adalah rokok Ardath. Mereka akan sering membeli rokok Ardath karena Ardath adalah rokoknya orang sukses. “He, iki lho rokok’e wong sukses,” mungkin begitu kata orang masa lalu.

Pada masa 1980-an, hanya berjarak 35 tahun dari tahun 1945, dan bisa dibilang, orang Indonesia baru saja merdeka. Setelah ketegangan dan tekanan tinggi akibat perang, tentu orang Indonesia menginginkan ketenteraman dan ketenangan, tidak ada yang boleh mengganggu. Pengganggu paling sering adalah penyakit dan hewan-hewan kecil. Dan, mereka harus disingkirkan secepat mungkin karena orang sudah jemu menunggu untuk menyingkirkan pengganggu. Hal itu yang menyebabkan banyak perusahaan membuat iklan dengan slogan: “Memberi ketenangan dan kenyamanan dengan cepat, tidak pakai lama.” Mereka bersaing agar produknya laku dibeli. Tapi, yang menentukan bukanlah slogan di iklan, melainkan khasiat. Sering ketika slogan tidak sesuai dengan khasiat, produk itu ditinggalkan. Banyak juga yang masih bertahan hingga sekarang.

Dalam majalah Intisari edisi Mei 1983, terdapat iklan Konidin dengan slogan: “Konidin melenyapkan batuk dengan cepat.” Dalam gambar, terlihat seorang pria sedang memamerkan obat Konidin. Di bawah gambar, tertulis: “Pak Bonora selalu mengandalkan Konidin untuk meredakan gangguan batuk.” Konidin memiliki janji: “Memberikan kenyamanan dan ketenangan dengan cepat, tidak pakai lama.” Bisa jadi slogan Konidin tidak melebih-lebihkan karena Konidin masih bertahan hingga sekarang. 

Iklan masa sekarang sering tayang dalam bentuk video. Maraknya televisi dan gadget tentu membuat perusahaan memilih beriklan di televisi dan internet. Iklan bisa bergerak-gerak, bersuara, dan berubah-ubah bentuk. Iklan yang bisa membuat modelnya terbang, dikejar dinosaurus, dan diinjak gajah. Tak lupa, iklannya sering menonjolkan hiburan dan nyanyian. 

Nyanyian, hal yang tidak bisa dilepaskan dari periklanan zaman sekarang. Menyanyi dan memamerkan sebuah produk, itulah iklan di abad XXI. Iklan yang menjanjikan berbagai macam hal. Terkadang, memberikan ompensasi jika pelanggan mendapat kerugian. Untuk membuat iklan semakin dikenang, perusahaan menambahkan nyanyian atau lagu ke dalam iklan mereka. Manusia lebih mudah menghafal sebuah lagu daripada teks.

Iklan mutakhir kadang memalukan dalam hal menambahkan lagu. Mereka hanya meniru lagu-lagu yang sedang tren dan mengubah liriknya. Mungkin saja ini dikarenakan lagu yang sedang tren lebih sering didengar dan dihafal, tapi ini tetaplah tidak membanggakan. Selain lagu, iklan juga mengubah arti beberapa singkatan dalam bahasa Indonesia. Maka, banyak sekali orang-orang yang menjadi korban penipuan iklan. Beberapa orang tidak mengetahui lagu asli dalam iklan yang mereka tonton, dan beberapa orang juga tidak mengetahui arti WIB yang sesungguhnya. 


Damar Aljufri, remaja ingin menjadi pemikir biasa-biasa saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s