Ibu: Jajanan dan Diskon

Novy

ADA diskon! Ada promo! 

Diskon dan promo adalah dua kata wajib dalam membeli sesuatu. Kaum ibu yang mengatasnamakan “penghematan” untuk kewarasan dompet, membeli murah di bawah harga normal. Barang bagus bisa dibeli murah menjadi “keajaiban” dunia kesepuluh, setelah uang belanja naik dan suami sabar dengan cuap-cuap istrinya.

Terjadilah hari itu! Hari diskon nasional di atas kemenangan para pahlawan, 17 Agustus. Banyak sekali jajanan yang dijaual dengan harga diskon dan promo. Bahkan, diantar gratis dan selamat sampai di depan rumah. Sepanjang pagi itu, aku memelototi gawai sambil jari telunjuk menggerayanginya. Diskon enam puluh empat persen, promo paket hemat beli dua gratis empat. 

Wah, mbok yo saben dino tanggal pitulas Agustus. 

Internet menjadikan otak kita lapar. “Otak menuntut untuk diberi makan seperti yang dilakukan internet – dan semakin otak diberi makan, makin lapar dia,” tertulis dalam buku The Shallows susunan Nicholas Carr. Itu kebenaran yang sedang kuhadapi saat ini. Semakin aku mencari promo makanan pada aplikasi online, makin ketagihan pula. Ada rindu yang begitu menggebu kalau tak melihat aplikasi ini barang sehari saja. Bahkan, pernah muncul perasaan rugi yang mendalam karena melewatkan promo diskon setengah harga dengan kuota yang tak banyak. Ah, emak penghamba promo jajanan ini menempatkan dunia tak nyata di atas kenyataan dunia. 

Ah, emak penghamba promo jajanan ini menempatkan dunia tak nyata di atas kenyataan dunia.

Setelah aku jendal-jendul gawaiku, kupilih jajanan kesukaanku. Kutawari anak-anakku. Tak lupa, aku juga menanyakan kepada ibuku, yang kebetulan sedang berkunjung ke rumahku: “Mau pilih yang mana, Bu? Mumpung promo. Lumayan.” Tak kusangka, ibuku menjawab: “Kamu sering, ya, jajan begini? Ini banyak mengandung MSG. Tidak sehat!”

Wah, bakal dapat wejangan ini. Langsung saja kujawab: “Lha, ibu juga doyan MSG, seperti kecap untuk masak semur daging.” 

“Ah, itu beda,” tukas beliau. 

Mengutip dari buku FG Winarno berjudul Mi Instan Mitos, Fakta, dan Potensi: “Selain bersifat mempertegas rasa, MSG mampu menekan munculnya rasa dan bau yang tidak dikehendaki. Misalnya, menekan tajamnya bau bawang bombay atau bau tanah liat yang biasanya melekat pada kentang atau sayuran-sayuran tertentu.” Dengan mempertegas rasa inilah, MSG menimbulkan rasa enak dan puas. Sebab, rasa enak inilah kriteria atau parameter terpenting dalam penerimaan konsumen. Tentu saja juga diimbangi dengan keamanaan produk dan risiko terhadap kesehatan. 

Kedua hal itu, internet dan MSG, merupakan padu padan yang serasi. Ditambah diskon dan free ongkir, makin naik level keserasian itu hingga tingkat melangit. Sudah pasti bisa ditebak, aku ingin dekat langit ketika ketiga hal itu muncul. Kebahagiaan ingin diwujudkan. Aku pun merasa menjadi ibu yang (tampak) pintar dalam urusan pengiritan uang jajan dan penghematan uang dapur. Tanpa menunda lebih lama, setelah semua pesanan sudah dilihat dengan seksama, memastikan sudah request  tambah kecap asin, tambah keju, tambah kuah yang banyak, tambah bawang bombay dan alamat rumah jangan sampai salah. Kutekan tombol bayar. Beres! Kini, kumenunggu dengan menahan air liur, membayangkan lezatnya jajanan yang kupesan.

Bel rumah berbunyi. Kurir di depan pagar menenteng bungkusan plastik dengan sablon perusahaan makanan yang kupesan. Setelah kusemprot bungkusan itu dengan alkhohol, anak-anak langsung bergegas membuka bungkus plastik tersebut. Wajah mereka terkejut, mata mereka membelak: “Kok cuma segini?” Mereka mengeluarkan pesanannya dari bungkus plastik. Lho? Porsi kecil? Ukurannya berbeda dengan kami pesan biasanya. Pahamlah aku, rupanya mereka memberikan diskon tidak di harganya, melainkan pada porsinya. “Yo wislah, ra popo, ndang dimaem.”  

Anakku makan dengan lahapnya. Sedangkan aku menuju dapur untuk masak makanan. Kuperkirakan jajanan itu tidak cukup mengenyangkan perut mereka. Jadi perlu masakan cadangan, berjaga-jaga kalau mereka minta makan lagi. 

Nek ngene iki gak sido hemat, tapi rugi dobel-dobel. Rugi atiku mangkel, duit pawon gak sido hemat

Kutekuk mukaku, menahan dongkol. Baiklah, untuk hari ini aku mengaku kalah, tidak cukup hemat. Tapi, besok-besok aku akan berburu diskon lebih cerdik lagi. Aku harus menang! 


Novy, Ibu kemayu di Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s