Aksara: Kewarasan dan Penemuan Diri

Yulia Loekito

Foto: Jude Infantini / Unsplash

HAMPIR dua tahun wabah berlangsung. Di rumah-rumah, kecemasan, ketakutan, duka cita, bahkan kemarahan mampir terlalu sering dan tiba-tiba. Sementara itu, ibu mau tak mau harus tetap waras. Wabah bukan penghujung jalan, kaki kehidupan masih terus melangkah walau melewati semak duri. Kaki kehidupan ibu mungkin ingin istirahat tapi kaki kehidupan anak-anak tetap melaju penuh semangat. Proses belajar tak berhenti, walau ibu ingin sejenak ambil langkah seribu. 

Ibu memilih mengimbangi laku kaki kehidupan anak-anak dengan ikut belajar. Pilihan belajar melalui buku-buku. Membaca, menulis, menceritakan, mengajak, mencontohkan. Tumpukan buku kian meninggi dan melebar: di garasi, di ruang tengah, di kamar, di rak buku, di lantai. Buku-buku mengimbangi gawai, mewarnai hari-hari dan di luar dugaan menyelesaikan masalah-masalah belajar ala sekolah dari rumah. Oh, Gusti Maha Sae!

Buku-buku mengimbangi gawai, mewarnai hari-hari dan di luar dugaan menyelesaikan masalah-masalah belajar ala sekolah dari rumah. Oh, Gusti Maha Sae!

Buku-buku bahan belajar ibu macam-macam jenis dan temanya. Ada buku-buku upaboga, ensiklopedia, novel, sastra, dan buku-buku lawasan. Ibu punya kekhawatiran, kian lama anak-anak tak bisa ke sekolah, kian erat interaksi dengan gawai, bahkan jika gawai digunakan belajar dan mencari sumber belajar. Lho! Bagus kan? Duh, kata siapa? Kalau tiap kali ada tugas mencari informasi tentang sesuatu yang dipelajari mereka langsung menekan tombol cari di mesin pencari, bisa-bisa mereka jadi manusia instan rasa ayam dengan level pedas lumayan kalau dewasa kelak!

Segala sesuatu bisa-bisa dikira serba selesai terpecahkan dengan dua atau tiga kali ketuk. Kebenaran bisa-bisa dikira absah dengan membaca informasi, berita, atau cerita yang ditulis serba kesusu tanpa melalui proses panjang layaknya proses konvensional membuat buku. Kemampuan mencari, menganalisis, membandingkan, mensintesa, bisa-bisa amblas begitu saja ditelan micin dunia maya. Tambah lagi kalau kesabaran, ketabahan, ketekunan, kegigihan tak pernah dilatih apalagi dikenal. 

Suatu ketika waktu ibu masih meragu, Randu (10 tahun) dapat tugas dari sekolah. Sekolah masih dari rumah. Randu diminta bereksplorasi tentang macam-macam sayuran beserta manfaatnya. Wah! Ini dia kesempatan. Ada buku Upaboga: Ensiklopedia Pangan dan Kumpulan Resep susunan Suryatini N. Ganie (2003) di antara tumpukan buku. Ibu memberi saran Randu bereksplorasi lewat buku. Satu, dua, tiga sayuran dan manfaatnya ditemukan. Ibu terus ceriwis memanfaatkan kesempatan. Betapa membuka buku itu memberi manfaat banyak. Randu mencoba, dan ia mengalami kesulitan. Ia harus membaca kalimat-kalimat panjang dalam buku, ia harus membuka lembar demi lembar dan menemukan apa yang ia cari. Randu belajar bersabar walau kadang mengeluh. Pada akhirnya, Randu berhasil menemukan separuh dari informasi yang ia butuhkan dari buku, selebihnya mau tak mau ia berselancar di Internet untuk kelengkapan informasinya. Di balik itu, ibu yakin Randu sedang mempelajari bahwa tak ada proses instan dalam belajar dan memenuhi rasa ingin tahu. 

Pada waktu yang lain, ada tugas kelompok mencari aneka informasi tentang suku dan budaya masyarakat Indonesia. Tiap kelompok mencari informasi tentang daerah tertentu. Kelompok Randu dapat daerah Sumatera Barat. Em, kaget! Tiba-tiba Randu sudah membongkar buku-buku. Ibu bahagia dan nimbrung dengan saran untuk Randu juga membongkar tumpukan majalah Bobo, biasanya di sana banyak cerita tentang Indonesia. Randu mau. Hore! 

Nah, waktu mencari, sukacita turut mampir. Sesekali, ketika membuka lembar buku dan majalah, Randu berhenti membaca cerita di halaman lain. Ia suka menyeletuk: “Eh ini lo, Mah! Masa iya, kalau tidak semua binatang berdarah merah. Emangnya, bisa? Ada, ya?” Oh, itulah mengapa membuka lembar-lembar buku dan majalah itu berbeda dengan mengetuk layar telepon pintar untuk berselancar di dunia maya.  Internet mungkin cepat dan tepat sasaran, tapi membuka lembar buku itu lebih banyak menggunakan gerak raga, koordinasi mata dan tangan, tanpa terganggu cahaya layar. Dan lagi, membuka lembar-lembar buku dan majalah itu mengundang kita untuk mampir-mampir melihat yang lain. 

Eh! Perjalanan itulah yang menyuguhkan pengalaman yang indah dan berarti. Itu sama seperti saat kita pergi ke suatu tempat naik pesawat dibandingkan naik kereta, mobil, kapal, sepeda motor, sepeda, atau bahkan jalan kaki. Cara berbeda itu memberi pengalaman dan manfaat berbeda. Naik pesawat kita melihat awan dan langit yang sangat indah walau kadang mengerikan kalau cuaca tidak bersahabat, tapi kita melewatkan pemandangan gunung-gunung, sungai, laut, sawah, hutan, rumah-rumah, orang-orang, hewan-hewan, dan tumbuhan sepanjang perjalanan. 

Ibu langsung berkomentar: “Lha! Enak kalau cari di buku atau majalah, kamu jadi pengin lihat-lihat yang lain, kan.” Internet memang memuat banyak hal dan akses ke mana saja, tapi justru kecepatan dan ketepatannya yang mengganggu rasa ingin tahu akan ini dan itu. Randu mesam-mesem saja. Kita terus bisa merujuk pada Paulo Freire dalam buku Pedagogi Hati (2001): “Untuk mengetahui dengan lebih baik apa yang sudah saya ketahui mengandung arti, kadang-kadang, mengetahui apa yang sebelumnya tidak mungkin diketahui. Maka dari itu, hal yang penting ialah mendidik orang berkeingintahuan; melalui keinginantahu ini pengetahuan terbentuk ketika pengetahuan itu bertumbuh dan menjadi lebih sempurna oleh karena dilaksanakannya tindak mengetahui itu sendiri.” 

“Mengetahui”, menurut Paulo Fraire itu termasuk juga mengetahui kalau ia tidak mengetahui. Maka, justru hal itulah yang membuatnya mampu mengetahui bahwa ia tahu, mampu mengetahui kalau ia belum mampu, dan mampu mengetahui kalau ia bisa menghasilkan bentuk-bentuk pengetahuan yang belum ada sekarang ini. Sedemikian dalamnya makna mengetahui. Pendidikan seharusnya membuat orang jadi ingin tahu. Pendidikan boleh terbedakan: belajar atau sekolah. 

Sedemikian dalamnya makna mengetahui. Pendidikan seharusnya membuat orang jadi ingin tahu. Pendidikan boleh terbedakan belajar atau sekolah.

Lewat lembar-lembar buku atau majalah kiranya ibu yakin rasa ingin tahu mudah terpantik berkumpul jadi kumpulan rasa ingin tahu yang kecil-kecil, cikal bakal kemampuan berefleksi, mencari jalan keluar, menciptakan pengetahuan baru dari gabungan banyak pengetahuan, kepekaan lingkungan, dan penerimaan diri. Terbaca berat, tapi dipraktikkan ringan dan menyenangkan, seperti pengalaman membaca komik-komik Mafalda. 

Ibu baru saja berkenalan dengan Mafalda garapan Quino dari Argentina yang di Indonesia diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Mafalda adalah anak perempuan lucu yang bersama teman-temannya menceritakan macam-macam tema, dari pendidikan sampai politik. Walau lucu, sesungguhnya bobot pembicaraan dalam komik cukup berat, tak mudah terpahami anak-anak. Banyak kosakata abstrak muncul di sana, karena cerita kadang berbentuk sindiran, baik pada sistem pendidikan maupun pemerintahan. 

Ibu membaca dan tertawa terbahan-bahak, Randu tertarik, ikut nimbrung membaca. Eh, Randu ikut terbahak-bahak. Selanjutnya ketika buku-buku Mafalda seri lain datang, Randu justru lekas merampungkannya. Ibu ketinggalan sepur! Selama membaca, Randu bolak-balik bertanya: “Apa itu hati nurani? Apa itu naluri? Apa itu politik? Apa itu kesengsaraan?”Jawaban coba dicarikan semampu ibu dibantu bapak. Kadang bisa dimengerti, kadang tidak. Kadang deret-deret komik juga dibaca bersama. 

Ibu serta Randu sempat berkerut kening bersama. 

“Kamu ngerti, Ndu?” 

Jawab Randu: “Nggak ngerti aku, apa maksudnya.” 

Ibu manggut-manggut sambil tertawa terbahak-bahak, “O, ya! Ha ha ha! Sama, Ndu! Mamah juga nggak ngerti yang ini.” Lho! Randu jadi tahu kalau ibunya dan bapaknya juga selalu belajar, belajar itu sepanjang hayat. Randu boleh merasa ingin tahu kapan saja, walau sudah tua kelak.

Lho! Randu jadi tahu kalau ibunya dan bapaknya juga selalu belajar, belajar itu sepanjang hayat. Randu boleh merasa ingin tahu kapan saja, walau sudah tua kelak.

Buku-buku itu membukakan pintu menuju banyak hal. Demikianlah perjalanan aksara yang telah diciptakan manusia hingga hari ini, walaupun di masa purba, aksara itu bukan prasyarat pencipta kultur masyarakat berpendidikan seperti dituturkan Sindhunata (2008) dalam artikel “Belajar Bersama Kuncung dan Bawuk”. Kita membaca: “Bagi Freire, kata yang disusun dari aksara, terbukti telah menjadi pengertian yang mempersempit bahkan ikut menjadi perangkat bagi penindas mereka yang miskin. Maka jika ia bicara tentang alphabetisasi, ia tidak pertama-pertama mengarah pada pembebasan buta huruf , tapi bagaimana manusia dapat mengenal kembali realitas lewat kata-kata yang dibentuk dengan aksara.”

Kegiatan dengan buku-buku tak melulu mengajar anak bisa mengeja dan membaca, tapi bagaimana mengantar mereka menuju banyak pintu yang membuat mereka menemukan dirinya sendiri, bagaimana ia akan hidup, bagaimana ia akan berinteraksi dengan sesama dan lingkungan alamnya, bagaimana agar ia jadi  manusiawi. Ibu dan aksara mengantar anak-anak melalui jalan panjang perjalanan itu. 

Tak heran, pendapat Bandung Mawardi dalam liputan berita di Koran Sindo, Senin, 6 September 2021 terbaca: “Dia juga menolak anggapan umum yang kerap menuduh anak hingga remaja generasi saat ini jauh dari budaya membaca buku dan dinilai sebagai ‘hamba gawai’. ‘Saya memilih tak ingin mengeluh atau kecewa terhadap anak, remaja, mahasiswa yang selalu dituduh berjauhan dengan buku, bercerai dengan keaksaraan, lalu mereka dianggap sebagai hamba gawai. Aku menolak. Aku memilih membuat mereka memiliki kehormatan dengan cara-cara kecil’.” Rupanya keyakinan itulah yang mendorongnya terus melakukan pertemuan-pertemuan virtual maupun pertemuan langsung dengan banyak ibu di berbagai kota selama wabah menyerang. 

Harapan ada di sana, dan ia tahu pasti bahwa ibu-ibu bisa dipantik untuk mempererat hubungan dengan keaksaraan dan buku bersama keluarga-keluarga kecil mereka dengan pemikiran yang mendasar dan mulia, tanpa embel-embel ingin jadi ternama atau mencapai sesuatu. Sederhana, kecil, namun membahagiakan. Jalan menuju kewarasan dan penemuan-penemuan diri. Ibu ini menunduk dan bersyukur untuk itu. 


Yulia Loekito, fanatikus buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s