Dicari Buku dan Pembaca!

Ratna Hayati

ANAK-ANAK sibuk bermain di rumah baca kami yang penuh buku. Setiap sudut penuh buku tapi tak ada satu pun yang tertarik menyentuhnya seakan buku sudah tidak lagi menjadi sumber kebahagiaan. Mereka sibuk memainkan yang lain. Setiap mereka berkumpul, aku bacakan 1 cerita dari salah satu buku-buku yang ada. Mereka berkumpul mendengarkan tapi seakan resah menunggu untuk ingin segera kembali bermain. Ah, sudah dibacakan tetap saja tak ada yang tergerak berkata ingin meminjam buku-buku itu untuk dibaca di rumah. Mereka sudah sibuk dengan PR dari sekolah, pelajaran tambahan dan mengaji, sudah terlalu lelah untuk membaca buku. 

Tak menyerah, aku membuat sistem hadiah seperti jaringan minimarket. Setiap kali meminjam buku dan lalu mengembalikan dan menceritakan isi bukunya, mereka akan mendapat satu stempel. Saat terkumpul 10 stempel mereka berhak mendapat satu set alat menggambar. Anak-anak antusias meminjam buku demi mengumpulkan stempel. Aku berharap setelah meminjam dan membaca setidaknya 10 buku, mereka akan menemukan bahwa ada banyak keajaiban di balik buku-buku tersebut dan lalu ketagihan. Tapi, ternyata aku salah. Setelah 10 stempel terkumpul, buku-buku kembali termangu, lagi-lagi sibuk dengan urusan sekolah yang dijadikan alasan. Sejak saat itu aku patah arang. Aku merasa harapan semakin menipis, buku sudah bukan lagi menjadi sumber kegembiraan anak-anak, paling tidak anak-anak yang tinggal di sekitar rumah bacaku. 

Lantas, pandemi datang menyapa. Rumah baca tutup karena halaman sekarang ditempati mobil suami yang bekerja dari rumah. Entah, dalam masa sekolah dari rumah ini, apakah mereka semakin jauh atau dekat dengan buku dengan membaca. Saat ditanya lebih lanjut memang selama ini di rumah tak pernah ada buku bacaan, yang ada hanya buku pelajaran, mungkin rata-rata orang tua yang kebetulan dari kelas sosial ekonomi menengah bawah di sekitar kediaman kami, tidak terpikir bahwa buku merupakan elemen penting dalam pendidikan anak.

Dalam sebuah esai yang dimuat di buku Batjaan Anak-Anak (Pandangan Beberapa Achli) yang dihimpun dan disusun oleh Organisasi Pengarang Indonesia (OPI), IP Simandjuntak menulis dalam pendahuluannya: “Diantara penemuan-penemuan jang amat penting dan jang diwariskan oleh nenek mojang kepada angkatan sekarang dan jang letaknja dibidang kebudajaan, ialah penemuan jang memungkinkan manusia itu menangkap suara (jang mengandung arti penuh) dalam tanda-tanda, c.q. lambang. Dengan kata lain: penemuan ketrampilan menulis dan membatja (kedua-duanja merupakan dua segi dari pada suatu proses, jakni menangkap bunji/suara manusia dalam lambang dan menjuarakan lambang itu menurut ketentuan jang terletak dalam lambang itu sendiri) mempunjai makna yang dapat dikatakan tidak ternilai artinja bagi umat manusia.

Dalam kutipan tersebut disampaikan bahwa penemuan huruf atau aksara merupakan salah satu penemuan terpenting sepanjang sejarah. Dengan aksara, manusia mampu mengetahui segala sesuatu di luar batas-batas lingkungannya sendiri, manusia bisa belajar dan memperbaiki kualitas kehidupannya.

Kalau diamati semakin ke sini maka semakin awal manusia mulai belajar membaca, bahkan bayi pun sudah diajari membaca dengan kartu-kartu dari seorang yang konon ahli membuat anak cepat membaca dari luar negeri. Orang tua berlomba-lomba agar anak-anaknya bisa membacanya. Sayangnya, upaya untuk membuat anak bisa membaca tak berlanjut dengan upaya supaya anak gemar membaca. Jutaan buku dicetak setiap tahun, sekian persen di antaranya mungkin ditujukan untuk anak, setiap tahun ketika ada pameran buku internasional selalu penuh sesak terutama di bagian buku anak. Orang tua dari kelas menengah ke atas seakan berlomba-lomba memberikan buku-buku terbaik bagi buah hati mereka berapapun biayanya. Tapi sayangnya, saat buku sudah terbeli sering hanya termangu terpajang di lemari buku. Paling banter terpajang di laman media sosial menunjukkan bahwa keluarga adalah keluarga gemar buku.

Orang tua dari kelas menengah ke atas seakan berlomba-lomba memberikan buku terbaik bagi buah hati mereka, berapapun biayanya. Tapi sayangnya, saat buku sudah terbeli sering hanya termangu terpajang di lemari buku. Paling banter di laman media sosial menunjukkan bahwa keluarga adalah keluarga gemar buku.

Buku berlimpah tak diimbangi dengan teladan suka membaca buku. Orang tua terlihat lebih suka menatap lekat ke arah gawai. Tulisan bercahaya dan gambar bergerak-gerak dirasa jauh lebih menarik dibanding tulisan hitam-putih yang kadang saja disertai sedikit gambar atau foto berwarna. Layar gawai terasa lebih menarik saat ini sebagaimana zaman dulu komik yang berisi banyak gambar dan sedikit huruf lebib menarik dibanding buku bacaan panjang. Maka, semakin ke sini, buku anak yang laris adalah yang semakin banyak gambar dan minim kata-kata. Makin besar bukanya makin suka membaca tapi semakin tertarik menonton saja tayangan di gawai. Ini berlaku untuk semua kalangan. Bagi yang tak terlalu berduit lebih senang mengupayakan membelikan anak gawai dibanding menyisihkan uang belanja bulanan untuk membeli buku fisik. Anak-anak semakin terasing dari buku bacaan. Sehingga, mereka menganggap semua buku sama membosankannya dengan buku pelajaran. 

Bisa jadi ini sekadar asumsiku saja. Tak heran kalau gairah penulis buku anak berkualitas semakin menurun. Gairah penerbit menerbitkan buku anak yang konon makan modal lebih banyak karena perlu kertas lebih tebal dan perlu warna kadang tak sebanding hasil penjualannya dengan ongkos produksinya. Perpustakaan berupaya dihadirkan di banyak tempat tapi yang lebih menarik justru arena bermainnya atau bisa dilihat orang-orang duduk di perpustakaan tapi malah menatap lekat gawainya bukan buku. Sungguh ironis! Padahal, kemampuan menciptakan aneka program canggih di gawai mungkin diawali dari imajinasi penciptanya yang sering diperoleh dari buku-buku bacaan masa kecilnya.

Saya bisa berkesimpulan bahwa negeri ini darurat aksara. Masyarakatnya mungkin sekadar bisa membaca membunyikan aksara tapi tak suka membaca dan gagal memahami makna dari kata-kata dengan baik. Menyikapi hal ini, segenap masyarakat perlu disadarkan, entah bagaimana caranya, bahwa orang tua merupakan gerbang utama anak bisa menyukai buku, menyukai kegiatan membaca. Pengajarannya lewat teladan dan segala upaya yang secara sadar dan terus-menerus dilakukan untuk mengajak anak suka membaca.


Ratna Hayati, ibu mengasuh tanaman dan buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s