Membeli(a) Buku

Agita Yuri

“PERPUSTAKAAN ini tidak cocok untuk konsep warung mi ayam-mu!” 

Lagi-lagi, aku diremehkan oleh beliau yang kuhormati namun tak dapat aku sebutkan namanya di sini. 

Mungkin, memang tak banyak yang mendukung gagasanku membuka taman baca gratis untuk anak-anak di sekitar rumah, saat aku membuka warung mi ayam pada tahun 2018. Akhirnya, semesta lebih memahami diriku dan merestuiku untuk membeli(a) buku-buku dan mewujudkan taman baca itu. Kuberi nama Taman Baca Kura-kura Kecil, seperti nama warung mi ayam milikku. Nama itu terinspirasi dari fabel klasik Aesop: “Kura-kura dan Kelinci”, di buku lain ada yang menuliskan “Kura-kura dan Trewelu”. Kura-kura kupilih dengan penuh kesadaran. Meskipun kesan umum kura-kura binatang yang lambat, tapi dalam cerita yang kubaca, akhirnya dalam lomba lari yang dipaksakan kelinci karena kesombongannya yang memuncak, kura-kuralah yang memenangkan pertandingan. Padahal, kelinci tentu bisa lebih cepat. 

Selain itu, kura-kura adalah simbol kebijaksanaan, simbol umur panjang. Sebagai tokoh kartun, Master Oogway dalam film Kungfu Panda, adalah kura-kura yang digambarkan sudah tua dan memakai tongkat. Sementara, di film Finding Nemo, diceritakan bahwa kura-kura laut bisa hidup hingga 150 tahun. Sehingga, membahagiakan ayah Nemo agar bisa segera memberitahukan fakta itu kepada anaknya yang bertanya. Jadi, sungguh jelas maksud saya menjadikan kura-kura sebagai simbol “produk” yakni  agar berumur panjang, agar menjadikan jiwa ini semakin bijaksana dengan semua proses yang akan dihadapi. 

Kata kecil kutambahkan bukan untuk mengecilkan diri melainkan untuk membuatku tidak lupa ingatan bahwa semua berasal dari yang kecil-kecil, dari bawah. Memang, warungku dulu hanya warung kecil di gang sempit dekat rumah lama, yang hanya memakai gerobak dan meja kursi sewaan, 10 ribu sehari. Lalu,  warung bisa pindah ke rumah baru, yang lebih besar, punya meja dan kursi sendiri, dilengkapi taman baca khusus anak-anak, gratis.

Dari Taman Baca Kura-kura Kecil (kusingkat TBKK), aku mendaftar banyak berkah kudapat. Aku pernah diundang untuk hadir di salah satu penerbit buku kenamaan di Jogja, untuk bercerita dan menginspirasi anak-anak senang membaca, sekaligus peresmian pojok baca di sana. Tapi, sayang, aku batal hadir karena rumah kebanjiran. Padahal, aku dijanjikan diberi 40 buku anak-anak. Betapa menyenangkan meskipun hanya membayangkan. 

Aku pernah mendapatkan kiriman buku dari 2 penerbit besar. Aku mendapat buku-buku yang harganya cukup mahal dan bisa menambah koleksi taman baca. Dari cerita-cerita yang kuunggah di media sosial, ada teman mengirimiku buku-buku baru atau bekas yang masih layak baca (sampai sekarang). Awalnya sepi, tapi setelah beberapa bulan, taman baca ramai anak-anak. Mereka datang sepulang sekolah atau sore hari. Tak selalu membaca buku, kadang mereka bermain macam-macam permainan. Sebab, aku menyediakan berbagai mainan edukatif yang kuletakkan di rak bagian bawah. Rak atas khusus buku-buku. Bahkan, anak-anak itu mulai berteman denganku, menanyakan soal pelajaran atau beli mi ayam setengah harga sesuai uang jajan mereka. Saat itu aku merasa bahagia meskipun jualan tidak laku-laku amat. 

Awalnya sepi, tapi setelah beberapa bulan, taman baca ramai anak-anak. Mereka datang sepulang sekolah atau sore hari. Tak selalu membaca buku, kadang mereka bermain macam-macam permainan.

Cerita tentang taman baca ini juga membuatku bisa menuliskan cerita bertema literasi yang berhasil merebut juara 1 lomba menulis kisah pengalaman di sebuah komunitas membaca. Tulisannya tercetak menjadi buku antologi. Sayangnya, kini, TBKK tinggal foto dan kenangan, berikut warung mi ayamnya. Sebab, aku sudah pindah rumah lagi, ke sebuah desa yang lebih ndeso dan berganti pekerjaan membantu usaha orang tua.

Kehidupan penuh petualangan membawaku ke masa kini, aku berhenti kerja dari orang tua, setelah hadirnya anak kedua, lahir awal pandemi covid-19, April 2020 yang lalu. Aku belum bisa lagi membuka taman baca karena mempertimbangan banyak hal. Namun, hasrat membeli dan membaca buku tidaklah sirna. Berlawanan dengan suami yang tak terlalu suka dan peduli buku karena yang menjadi keutamaannya adalah bekerja untuk menghidupi keluarga, aku kadang merasa gusar, yang mendingan memilih tak banyak berkata. Suatu kali, dia mengatakan: “Buat apa beli buku banyak-banyak? Kita tidak punya tempat penyimpanan, kalau pindahan repot sendiri!” Kali lain dia mengatakan: “Untuk apa beli buku terus, kita lagi dalam kondisi sulit, jangan boros!” Aku cukup sedih merasakan berbagai kalimat yang menyudutkan buku-bukuku. 

Aku tetap membeli(a) buku. Aku membeli buku untukku dan anak-anakku. Aku mengajarkan cara menyampul buku kepada anakku. Aku mengajak anakku melabeli buku-buku. Buku cerita dengan warna kuning, warna biru untuk pengetahuan umum, hijau untuk keterampilan dan hijau untuk agama. Aku membeli rak buku “goyang” rakit sendiri yang sedang promo di lokapasar. Murah memang tapi setidaknya bisa membuat aku bisa pamer buku saat kegiatan virtual berlangsung. Anakku akan bangga saat kedatangan teman-teman bermainnya, yang semuanya tidak menghadirkan pojok buku di ruang tamu. Aku bisa membacakan buku untuk anakku sebelum tidur. Baginya, aku adalah ibu terbaik sepanjang masa meskipun dalam keseharian aku banyak marah dan mengomel. Aku masih membacakan buku sampai sekarang usia anakku sudah 7 tahun. Dia pun mengikutiku, membacakan buku atau bercerita pada adiknya kadang-kadang sebelum tidur malam. Aku mengulas secara sederhana buku-buku yang kubaca. Banyak teman merasa unggahanku bermanfaat untuk mereka juga. 

Aku masih membeli(a) buku hingga saat itu aku mulai merasa hidupku amat menyedihkan karena tekanan ekonomi terutama dan aku harus bisa bertahan dalam kondisi ini. Sedang tugas-tugas domestik kian menumpuk sebab anak pertama minta ditemani dan diajari sementara anak kedua minta disusui. Suami bekerja tak tentu waktu pulangnya. Pandemi masih lestari. Aku mulai menjauhi buku, melakukan hal-hal aneh, terkadang kemarahan tak terkendali dan menangis setiap kesempatan menyendiri datang. Tapi aku sadar, di luar sana masih lebih banyak orang yang susah dan butuh makan. Aku tak mau menyerah kalah saat suatu hari anakku pulang dan menangis karena dibilang “miskin” tak punya sepeda. Padahal ada, tapi masih di rumah simbahnya. 

Aku bilang pada anakku: “Kita tidak miskin, tidak benar-benar miskin karena kita masih bisa membeli atau memberi.” Esoknya aku meminta Gara memanggil teman-temannya yang kemarin mengejeknya, untuk makan mi ayam di rumah kami, tapi hanya 2 yang datang. Kelemahanku juga aku sangkal dengan cara mengirimi seorang teman lama berupa buku-buku anak yang belum berhasil kujual. Tentu akan lebih bermanfaat bagi anaknya. “Lihat, kita tidak miskin, Gara!” Selama berbagi kita tidak miskin, begitu pesanku pada Gara saat hatinya hancur. Beruntung, aku masih punya orangtua dan mertua yang memperhatikan dan memberi sokongan. Pelan-pelan aku bangkit dengan mencoba banyak kegiatan. 

Selama berbagi kita tidak miskin. Begitu pesanku pada Gara saat hatinya hancur.

Hingga suatu hari, sebelum bulan Ramadhan 2021 datang, seorang kawan yang tidak kukenal dekat, mengajakku belajar menulis bersama Pak Bandung Mawardi. Aku tahu bapak ini tapi tidak pernah membaca tulisannya waktu itu. Saat itu aku kenal dengan Mbak Lia (begitu aku memanggilnya) sejak lama. Beliau orang yang baik, penulis buku anak, pernah jadi guru, punya penerbit dan percetakan, bicaranya lemah lembut. Jadi, aku mengiyakan tawarannya sekaligus aku ingin memperbaiki diriku dengan banyak membaca dan menulis, yang aku yakin akan lebih bermartabat dan berdampak daripada sekadar menangis, marah dan mengeluhkan kesulitan. Mbak Lia juga yang menawariku untuk menulis di buletin yang merupakan inisiasi beliau bersama teman-teman lainnya. Mungkin Mbak Lia ini bisa dibilang “dewi penyelamat dari keterpurukan hidup”. 

Sejak belajar menulis bersama Pak Bandung, yang kemudian diruangkan dalam grup Whatsapp dengan nama Sinau Ngliping, aku kembali membeli(a) buku. Aku kembali teringat kata-kata suami yang tidak suka pada buku-buku, ternyata di grup ini, wajib baca buku, dan aku tidak punya buku-buku itu. Kalau mau tulisan lebih layak baca, Pak Bandung bilang harus baca buku referensi bukan hanya se-ar-ching. Aku harus membeli atau meminjamnya. Membeli, apa mungkin? Mungkin saja. Aku memanfaatkan layanan cicilan dari fitur yang ditawarkan sebuah lokapasar. Pertama, aku bisa mendapat waktu cicilan 1 bulan, berikutnya 3 bulan, sekarang sudah boleh 12 bulan, sebab aku rajin membayarnya sebelum tenggat waktu. Aku tidak hanya pandai “ngutang” selama pandemi, aku juga berjualan buku dan mainan edukatif, memakai akun instagram dan whatsapp. Aku berjualan dengan sistem dropship sehingga tak perlu menimbun stok buku. Meskipun tak selalu ada yang membeli keuntungannya bisa jadi modal untuk beli buku yang kuinginkan atau wajib baca bila di i-pusnas tidak tersedia. Jika di lokapasar ada buku bagus dan aku tertarik menjualnya, aku kemudian mendaftar reseller yang mengharuskan aku membelinya. Sudah pasti dengan cara ngutang pula. Kemudian berusaha membuat buku-buku itu laku dijual dengan promo yang kubuat. Jika buku tidak habis terjual, maka itu menjadi berkat untuk anakku, menambah koleksinya. Beli buku itu lebih membahagiakan daripada beli gincu. Untuk apa pakai gincu jika hanya bisa mecucu akibat dampak pandemi yang sungguh tidak lucu? 

Jika buku tidak habis terjual, maka itu menjadi berkat untuk anakku menambah koleksinya. Beli buku itu lebih membahagiakan daripada beli gincu. Untuk apa pakai gincu jika hanya bisa mecucu akibat dampak pandemi yang sungguh tidak lucu?

Kadang aku berpikir, untuk apa banyak beli buku. Saat aku mengikuti sebuah pelatihan yaitu Training of Trainer Read Aloud, katanya, di rumah tidak harus punya banyak sekali buku. Dua belas buku saja sudah cukup menghadirkan geliat membaca, membacakan buku untuk anak setiap hari. Malah menurut Marie Kondo yang terkenal dengan metode konmari-nya atau seni beres-beres dan metode merapikan ala Jepang, kita harus berani melepaskan buku-buku, yang belum sempat terbaca atau tak ingin dibaca ulang. Dia menganjurkan agar kita hanya menyimpan buku favorit sepanjang masa, Alice in Wonderland, contohnya. Dia sendiri hanya menyimpan 30 buku sekali waktu, seperti yang termuat di bukunya yang mendapat predikat #1 New York Times Best Seller. Nyatanya, kebesaran nama maupun metode Marie Kondo, tidak berhasil membuatku membuang buku-buku, bahkan aku membeli buku prestisius karangannya ini dengan cara “ngutang”. 

Aku sarankan Marie Kondo bertemu untuk melakukan konfrontasi terkait kepemilikan dan penyimpanan buku-buku, dengan salah satu superhero yang belum dibuatkan film, yaitu “Sang Manusia Perpustakaan” bernama asli Bandung Mawardi. Marie bilang: “Baru-baru ini saya menyadari bahwa memiliki lebih sedikit buku sejatinya memperbesar dampak informasi yang saya baca. Saya menjadi lebih cepat menangkap informasi yang penting. Klien saya, terutama yang telah membuang sejumlah buku dan kertas, banyak yang juga mengemukakan dampak serupa. Terkait buku, waktu yang tepat adalah segalanya. Kali pertama menjumpai sebuah buku adalah saat paling tepat untuk membacanya. Supaya tidak melewatkan momen tersebut, aku Saya rekomendasikan agar Anda tidak mengoleksi buku terlalu banyak” (Marie Kondo, The Life-Changing Magic of Tidying Up, 2021). 

Bagaimana tanggapanmu? Kalau aku menanggapinya dengan ilustrasi cerita demikian: “Buku pesananku sudah datang siang itu, diantar oleh seorang kurir. Setelah menerima paket, aku membuka dan mengeceknya. Jika sudah sesuai dan kondisinya baik, maka pesanan kuterima di aplikasi. Saat itu langsung saja kubuka halaman pertama, lalu segera disambut sebuah suara dari dalam kamar, ‘oek, oek, oek!’ Anak keduaku yang berusia setahun menangis keras. Aku pun langsung menaruh buku di meja dan bergegas ke kamar. Kupikir si kecil ingin disusui ternyata tidak, tangisnya mengeras. Kugendong dia keluar baru tangisnya reda. Baru sejenak menggendong sambil menatap langit biru, anak pertama berlari mendekat, minta ditemani bermain bola. Baiklah, aku menggendong sambil bermain bola, tentu bisa saja, sebab menggendong dengan tangan, menendang dengan kaki. Otomatis buku yang ingin kubaca tadi segera terlupakan dan menjadi abu.” Hush! Tentu bukan demikian. Yang ingin kukatakan adalah waktu pertama yang ideal bagi sebuah buku agar terbaca itu “tidak selalu ada”. Sebab, kondisi setiap orang yang berbeda dan tak dapat diprediksi. Sehingga, buku menjadi… Dibaca nantilah atau kapan-kapan saja. Menyimpan buku-buku bagus selain menjadi kebutuhan juga keharusan, sebab aku bercita-cita meninggalkan warisan kepada anak cucu berupa buku-buku. 

Aku sendiri tidak mengerti benar, mengapa aku merasa harus membeli(a) buku-buku. Buku-buku apa bisa membelaku di saat kondisi kritis seperti ini? Mungkin hidup akan lebih mudah jika aku menjual saja buku-buku itu untuk menambah simpanan bakal beli beras. Tapi, hidupku jelas akan semakin terpuruk dan hampa, macam lagu Arie Lasso: “Entah di mana dirimu berada, hampa terasa hidupku tanpa dirimu.” 

Aku tidak mau lagi mengulang kesalahan papa pada masa lalu, menjual semua buku di Ladang Bacaan YY, sebuah persewaan buku yang didirikannya masa 1980-an demi membayar sekolah anak-anak. Akan aku beberkan kisah akbar pendirian persewaan buku ini selanjutnya.

Di grup Sinau Ngliping, sungguh membantuku menyiapkan mental beli(a) buku. Aku yang bukan pembaca koran Kompas saja, kemudian rela berpanas-panas mencari koran edisi Hari Buah Internasional. Sebab, Pak Bandung bilang “demi anak cucu”, sesuai dengan visiku. Aku pergi naik motor bersama Gara, anak pertamaku. Anak kedua di rumah saja dengan ayahnya. Sungguh mencengangkan, aku tak berhasil menemukan kios atau penjual koran sepanjang jalan Bantul sampai nol kilometer Jogja. Hanya ada satu kios buka, dan itu menjual koran dan buku lawasan saja. Ya ampun, aku sungguh bingung! 

Bertahun-tahun lalu, masih banyak kios majalah buka, tapi sepertinya itu satu dekade lalu? Engkongku saja memperbolehkan aku berlangganan tabloid rutin anak-anak. Waktu itu Fantasi. Kakakku langganan Bobo. Adik laki-lakiku langganan tabloid Bola. Sementara engkong sendiri beli Kedaulatan Rakyat dan Kompas. Apakah sekarang tidak ada yang membeli di kios sehingga mereka pada tutup? Entahlah, mungkin saja orang-orang berlangganan melalui gawai, aplikasi. Semoga bukan karena membaca buku, koran, atau majalah tak penting lagi di abad ini. Aku tak menemukan koran idaman, akhirnya pulang, tak berani pergi jauh-jauh sebab virus corona masih merajalela dan ada anak kedua menanti di rumah. Ya, sudah. Eh, siang harinya, ada pesan Whatsapp dari suami berupa foto Kompas edisi spesial. Hatiku berbunga-bunga, eh berbuah-buah ding, karena dapat Kompas edisi buah. Suami yang lebih sering terlihat cuek itu, ternyata peduli juga pada kegiatan istrinya. He, he, he.

Eh, siang harinya, ada pesan Whatsapp dari suami berupa foto Kompas edisi spesial. Hatiku berbunga-bunga, eh berbuah-buah ding, karena dapat Kompas edisi buah. Suami yang lebih sering terlihat cuek itu, ternyata peduli juga pada kegiatan istrinya. He, he, he.

Waktu koran Kompas sudah di tangan, dengan gambar aneka buah di halaman pertama, langsung aku memanggil Gara, dan mengajaknya membaca bersama, aku yang membacakan. Sepertinya dia biasa saja. Namun, saat aku beralih ke halaman belakang, dan kubaca nama-nama buah yang aneh, dia mulai bertanya: “Buah apa itu? Dari mana? Kok, aku gak pernah dengar, Bu?” Aku seketika merasa bangga alias nggaya sebagai ibu yang menjelaskan bahwa buah-buah itu buah lokal khas Indonesia yang sedihnya sudah tergolong langka: buah kepel, buni, rukam, bisbul, mundu, manggis putih, kelubi, menteng, lobi-lobi, harimonting, wanyi, kemang, kelendang, matoa, dan gandaria. Sikap nggaya ibu ini segera menurun pada anaknya. Saat pertemuan zoom kelas Gara, Gara juga ikut-ikutan menunjukkan koran edisi buah sambil bertanya pada teman-temannya: “Hayo, siapa yang tahu, buah apa ini?” Tak ada yang mampu menjawabnya bahkan fasilitator kelasnya.

Oh, menyenangkan sekali dengan informasi buah-buahan ini! Aku mendapat banyak sekali manfaatnya. Selain kami sekeluarga jadi tahu, orang lain juga ikut tahu. Gara tumbuh kepercayaan dirinya dan percaya keajaiban membaca. Sebab, ada capaian belajar berupa “mampu menuliskan angka 1-100” untuk kelas 2, kelas Gara, maka aku mengolah capaian ini agar sekaligus tercapai pengetahuan buah-buahan, dikaitkan pula dengan keluarga. 

Pertama, aku membuat tugas tertulis yang harus dibaca Gara: kegiatan membuat pisang tabur cokelat keju. Resepnya aku tulis tangan berdasarkan bahan-bahan yang ada di rumah saat itu. Gara harus membacanya dan melakukan sesuai instruksi. Gara berhasil dengan melakukan modifikasi. Pisang yang harusnya dipotong kecil-kecil, menjadi dibelah dua memanjang. Tidak masalah, dia menyampaikan terlebih dulu maksudnya setelah membaca. Gara juga kuajak belajar membagi sama banyak untuk setiap anggota keluarga. Sehingga selain belajar membaca, memotong, menghias dan menyajikan, Gara juga belajar menghitung.

Kedua, aku mengajak Gara bertanya kepada seluruh keluarga, baik keluarga dari ibu atau ayahnya, buah kesukaan mereka masing-masing. Gara kemudian menelepon setiap orang dan bertanya. Momen Gara menelepon ini sungguh jenaka, mereka mengira-ngira ada apa, tumben menelepon. Malah ada yang mengira Gara akan mengirimi buah-buahan. Setelah selesai bertanya, Gara menggambarkan setiap anggota keluarga, menggambar buah kesukaan mereka dan menuliskan nama. Dari buah-buahan yang digambar, aku ajak berdiskusi, buah apa yang paling disukai di keluarga kita atau buah apa yang paling sedikit dan sekaligus menghitung berapa jumlah orang yang menyukai buah tertentu.

Ketiga, aku mengajak Gara membuat papan permainan ular tangga. Gara bertugas menulis angka 1-100 setelah petak ular tangga jadi. Gara aku ajari cara mengukur dan membuat garis, menggunakan penggaris dan alas potong. Setelah semua angka tertulis, giliranku mengisi dan menggambari petak-petak. Tujuannya agar Gara bisa belajar fakta-fakta buah yang tertulis di Kompas edisi buah tadi, dengan membacanya tanpa harus dipaksa. Kalau lewat jalan bermain pasti lebih senang dan mau melakukan. Ada petak-petak yang kuisi dengan “Bacalah informasi buah A (dan sebagainya)”. Ada petak yang kuisi dengan pertanyaan semacam “Apa manfaat buah A (dan sebagainya)”. Ada pula petak yang berisi “Sebutkan buah kesukaan ibu (dan sebagainya)”. Yang namanya ular tangga tentu saja ada ular yang artinya dia harus turun dan tangga yang artinya dia harus naik ke petak tertentu. Di ular tangga ini Gara juga belajar konsep menambah dan mengurangi karena aku menulis jika jawaban benar atau salah maka pemain maju atau mundur beberapa langkah.

Keempat, membuat hasta karya. Gara kuajak membuat keranjang kertas berbentuk tabung dan menggambar buah favorit keluarga sesuai hasil wawancaranya tadi. Gambar buah kemudian diwarnai, diberi lapisan lakban bening agar awet. Keranjang selain untuk belajar mengukur, menggunting, menempel dan mewarnai, juga untuk tempat menyimpan gambar buah-buahan tadi.

Waktu kutanya, bagaimana perasaan Gara, dia bilang senang karena bisa tahu banyak hal. Namun ada pertanyaan yang akhirnya bisa dijawabnya sendiri. 

“Bu, untuk apa kita tahu keluarga kita suka buah apa?” 

Lalu saya balik bertanya: “Menurutmu, kalau ibu harus tahu masakan kesukaanmu, nggak? Untuk apa ibu tahu?” 

Maka, Gara pun menjawab: “Ya biar ibu bisa masakin sesuai yang aku mau.”

“Nah, berarti untuk apa kita tahu buah kesukaan keluarga?”

Jawaban Gara: “Untuk kalau nanti kita mau ngasih buah buat simbah, kita sudah tahu mau ngasih apa.”

“Nah itu sudah tahu kan. Siapa tahu nanti kita punya rezeki lebih, kita kirim buah-buahan buat semua ya,” kataku menutup obrolan. 

Itu pengalamanku beberapa minggu lalu menemani anak belajar dari apa yang dia minati, yang aku padukan dengan capaian belajar sekolah, terinspirasi dari koran edisi buah. Sepertinya koran murah, hanya 4.500 rupiah, namun bisa membuat kenangan indah. 

Yang pasti membeli(a) buku bagus itu tiada ruginya, kita akan menjadi manusia yang lebih terhormat dan bermartabat, bermanfaat pula bagi generasi penerus kita. Janganlah buku seolah menjadi kutu, yang mengganggu di sela-sela perbincangan asyik di gawai anak cucu. Selamat Hari Aksara Internasional 2021.

Aku jual buku,

untuk beli buku,

untuk bikin taman buku,

karena waktu kecil aku makan dari buku,

sudah besar aku juga bikin buku,

nanti mati aku tidak bawa buku,

sebab bukunya buat anak cucuku.


Agita Yuri, penghuni di Kaum Senin

One thought on “Membeli(a) Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s