Yang Ibu …

Dian Erika

PANDEMI selama hampir dua tahun ini telah mengubah berbagai tatanan kehidupan masyarakat. Salah satu dampaknya adalah “mengembalikan” sekolah ke rumah, ke tangan ibu. Pandemi melahirkan PSBB hingga PPKM. Anak-anak pun harus belajar dari rumah. Belajar daring atau pembelajaran jarak jauh, istilah-istilah yang digunakan untuk menyebutnya. 

Hal ini pula yang saya alami. Anak saya masuk SD pada awal-awal pandemi melanda negeri ini. Bagi beberapa anak yang tinggal di kota, bersekolah di sekolah swasta dengan fasilitas plus-plus dan memiliki orang tua dengan kemampuan finansial yang cukup, barangkali tak jadi masalah. Guru tetap dapat mengajar secara daring melalui aplikasi Zoom, Google Meet, atau video call Whatsapp. Tapi tidak dengan apa yang saya alami, juga mungkin yang dialami anak-anak yang tinggal di desa dan bersekolah di SD negeri. Jangankan laptop dan kuota pendukung belajar daring, bahkan ada wali murid teman sekelas anak saya yang tidak memiliki HP. Tapi dengan segala keterbatasan, pembelajaran harus tetap berjalan. Pembelajaran dilakukan tanpa internet. Guru memberi tugas di LKS atau buku paket, anak mengerjakan di rumah. Sebut saja “sekolah ibu.” Ibu menggantikan guru, menjadi ujung tombak pendidikan anak di rumah. 

Tapi dengan segala keterbatasan, pembelajaran harus tetap berjalan. Pembelajaran dilakukan tanpa internet. Guru memberi tugas di LKS atau buku paket, anak mengerjakan di rumah. Sebut saja ‘sekolah ibu’. Ibu menggantikan guru, menjadi ujung tombak pendidikan anak di rumah.

“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak,” ungkapan sering kita dengar. Risa Permanadeli dalam buku Dadi Wong Wadon (2015) mengatakan bahwa ibu adalah pusat keluarga dan dia bertanggung jawab untuk memelihara anaknya bagi keluarga besar. Sebab, suatu hari anak itu akan menjadi bagian keluarga besar itu, dan bagian dari keluarga yang lebih besar lagi yaitu masyarakat. Pandemi membuat saya menyadari peran sebagai ibu tak hanya rumah tangga, tapi juga ibu aksara. Mengenalkan anak pada huruf-huruf dan membaca.

Perihal mengajar anak membaca ternyata tidak semudah kelihatannya. Saya sempat merasa salah ambil jurusan kuliah, seharusnya mengambil jurusan PGPAUD atau PGSD. Mengajar anak butuh kesabaran luar biasa. Mau tidak mau, saya juga harus ikut belajar. Belajar cara mengajar. Mencari buku dan membaca buku cara belajar membaca. Kita ingat zaman dahulu masa 1980-1990 ada buku belajar membaca yang legendaris, dikenal dengan buku Ini Budi. Hari ini banyak buku belajar membaca beredar. Namun tidak ada yang mengalahkan ketenaran buku Ini Budi.

Contoh sosok ibu aksara dapat kita jumpai dalam puisi “Surat Kabar” gubahan Joko Pinurbo, yang terdapat dalam kumpulan puisi Surat Kopi (2019): Ibu suka memungut huruf-huruf/ di koran dan membubuhkannya/ ke dalam kopi saya/ “Minumlah, anakku./ Kau akan jadi jurnalis jempolan. Puisi bercerita ibu suka membacakan koran saat anak minum kopi. Ibu ingin suatu hari anaknya jadi jurnalis andalan dengan belajar membaca berita di koran.

Saya jadi teringat almarhum ibu saya. Berkat pengajaran dari ibu, saya sudah bisa membaca pada usia 3 tahun. Ibu kemudian melanggankan majalah Bobo. Terkadang ibu juga membelikan saya majalah Mentari. Ini peristiwa yang menjadi cikal bakal saya suka membaca. Dari majalah Bobo pula, ibu saya belajar materi bahasa Inggris, kemudian dengan telaten mengajarkannya pada saya. “Ibu hanya bisa mewariskan ilmu,” demikian kata ibu. Sebuah pesan yang kekal dalam ingatan. Sebuah jejak untuk saya ikuti ketika kemudian saya menjadi ibu. 

‘Ibu hanya bisa mewariskan ilmu,’ demikian kata ibu. Sebuah pesan yang kekal dalam ingatan. Sebuah jejak untuk saya ikuti ketika kemudian saya menjadi ibu.

Pandemi, entah kapan berakhir. Semoga nanti jika anak sudah boleh kembali ke sekolah, ibu tetap bersetia dalam tugasnya menjadi ibu aksara di “sekolah ibu”. Menumbuhkan minat baca anak, mengakrabkan pada buku-buku. Hari ini mereka membaca buku, kelak membaca kehidupan.


Dian Erika, pembaca buku dan penikmat obrolan di Malem Jumat Keramat 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s