Bunga, Bocah, Serangga

Uun Nurcahyanti

SERANGGA adalah ketakjuban dan tangan penasaran bagi bocah. Tak indah masa kanak-kanak bila mata tak menemu mas-masan. Itu sejenis kumbang atau kepik bertubuh pipih dengan bercak keemasan di punggungnya. Kumbang cantik ini biasanya hidup di tanaman widuri. Sejenis tumbuhan perdu berbunga ungu seperti beludru yang banyak ditemui di pinggir lapangan atau tepian jalan bercahaya matahari cukup.

Anak adalah pemburu serangga paling handal. Jadwal berburu serangga di masa kecilku dulu seturut musim. Kepik mas-masan nyaris tak memiliki musim tertentu untuk hidup. Perdu widuri bagai rumah kehidupan kumbang yang tidak mengenal jeda dalam memberikan kesenangan pada para bocah. Kami biasanya mencari kepik sepulang sekolah atau sore hari. Di musim layang-layang, jumlah kepik melimpah.

Perdu widuri bagai rumah kehidupan kumbang yang tidak mengenal jeda dalam memberikan kesenangan pada para bocah.

Lapangan bola atau sawah usai panen menjadi ruang bermain anak berbagai usia. Sementara anak lelaki sibuk bermain layangan, anak-anak perempuan berburu serangga. Sering pasukan capung turut meramaikan sore. Terutama, bila ada sungai di sekitar sawah atau lapangan. Di kampungku, capung memiliki beragam nama sesuai dengan warnanya. Capung besar berwarna hijau  disebut ndok erok, kuning dinamakan ndok iyik, dan yang jingga besar adalah bandempo.

Berburu itu bertaruh ketelatenan dan strategi. Mencari kepik mas-masan tidak sulit, butuh kejelian saja. Kebanyakan kepik tidak suka terbang. Mereka gemar berkerumun di daun atau batang tetumbuhan perdu. Berbeda dengan capung. Mereka canggih terbang dengan berbagai macam manuver dalam kerumunan yang mempesona. Menangkap capung menantang kreativitas jiwa perburuan bocah. Banyak cara, model, dan gaya lahir demi sukses mendapatkan seekor capung. Mereka yang bisa mengoleksi kepik atau capung paling banyak lantas disegani komunitas bocah pemburu serangga ini. Ahai!

Banyak cara, model, dan gaya lahir demi sukses mendapatkan seekor capung. Mereka yang bisa mengoleksi kepik atau capung paling banyak lantas disegani komunitas bocah pemburu serangga ini. Ahai!

Capung bersaing dengan layangan. Capung yang tertangkap kadang akan mengalami nasib sial. Benang jahit ditalikan pada ekornya, lantas ia dilepas agar terbang tapi tidak hilang atau lepas. Kami akan berlari ke sana kemari mengikuti laju si capung. Sering ekor capung patah, artinya permainan selesai. Namun, tidak lantas berarti usai. Perburuan capung dimulai lagi. Tanaman widuri masih menyimpan kepik, sungai berair jernih tak lepas mengundang ratusan capung. Tawa masa kanak berderai di kisah masa lalu. 


Uun Nurcahyanti

Pengajar dan penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s