Koleksi dan Koneksi

M. Ghaniey


p.p1 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; font: 14.0px ‘Bell MT’} span.Apple-tab-span {white-space:pre}
Judul : Persembahan
Penulis : Bandung Mawardi
Penerbit : Bilik Literasi
Cetak : 2021
Tebal : 100 halaman

KITA mengingat, mengapa buku itu diciptakan. Ada proses-proses tertentu sampai buku bisa kita baca dengan mudah pada hari ini. Michael Hart (1978) mencantumkan nama Johanes Gutenberg sebagai tokoh berpengaruh memberi banyak perubahan dalam dunia pemikiran dan tulisan. Gutenberg dengan mesin cetaknya, sejak ratusan tahun yang lalu, memantik perkembangan buku, termasuk perkembangan sastra di dalamnya. Para pengarang besar bermunculan dipengaruhi percetakan buku-buku.

Yang beruntung dengan mesin cetak termasuk buku Persembahan dari Bandung Mawardi alias Kabut. Lelaki yang membuat tulisan mungkin menarik. Di setiap tulisan, ia menjelaskan sumber-sumber referensi yang jarang disampaikan kepada banyak pembaca. Kabut biasa menawarkan tema-tema parsial tetapi kuat dalam analisis untuk mendukung penjabaran maksud.

Secara konsep penulisan, tulisan-tulisan dalam Persembahan hampir mirip dengan apa yang dituliskan oleh Goenawan Mohamad dalam “catatan pinggir”, yang sampai hari ini sudah sampai jilid 14. Persembahan adalah buku saku dengan renungan. Setiap tulisan di dalamnya membuat buku itu menarik untuk dibaca.

Penulis piawai memberikan guratan dari setiap tema di tulisan. Misal, ia mengingatkan tokoh Siedjah dalam pembahasan berjudul “Perempuan Naik Buku”. Siedjah adalah tokoh dari Belanda yang melakukan perjalanan menuju Nusantara. Ia kepincut dengan buku, sebab kapal yang ia tumpangi memiliki banyak koleksi buku. Bersukacita dengan buku, menjadikan ia semakin terbuka. Tujuannya mulia yakni menjadi pengajar di Batavia.

Kabut dengan mengambil tokoh Siedjah memberikan penawaran, bagaimana buku itu sebagai lilin menerangi dinamika sosial yang terus mengalami perubahan. Buku mengantarkan imajinasi Siedjah. Imajinasinya kuat kala memahami realitas sebenarnya di tanah jajahan.

Kabut mampu menerjemahkan buku-buk untuk bisa ditafsirkan dan diterapkan pada kondisi hari ini: mulai dari makanan, kolonialisme, hingga martabat seorang pria. Berkarakter!

Sepertinya Kabut ingin membuat koneksi buku-buku cetak saat dunia terkoneksi internet. Semua buah dari modernitas. Pada akhirnya, modernitas terkadang membuat bimbang manusia. Segala hal mengalami perubahan, terkadang membuat gemetar untuk tetap kuat atau jatuh. Terkoneksinya satu dengan yang lain menambah cepat sehingga kita mampu melihat dalam hitungan detik melalui bantuan gadget dan jempol kita.

Kita lanjutkan membaca tulisan yang berjudul “Martabat….” Kabut mengulas secara dalam mengenai sastra, gender, dan ekonomi, yang sepertinya berlaku pada kondisi pasar yang bersifat bebas hari ini. Kebutuhan akan perjuangan untuk hidup, secara sempit ekonom hanya melihat pada, seberapa uang yang kamu dapatkan setiap hari? 

Sekali lagi, Persembahan cukup untuk bermeditasi dalam kehidupan yang serba memiliki reduksi. Kita dalam peradaban yang baru tapi tidak melupakan buku-buku yang direnungi.   


M. Ghaniey, mahasiswa di UMS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s