Makanan: Iklan dan Ilmu

Bandung Mawardi

ILMU gizi terlalu penting bagi kita mengalami hidup dengan iklan-iklan keterlaluan bertema makanan. Di depan televisi, ratusan iklan berdatangan menawarkan makanan. Orang menghidupkan gawai, iklan-iklan berteriak dan berseliweran minta dikabulkan untuk dipesan dan disantap. Di pinggir jalan, baliho dan poster mengabarkan makanan-makanan menggiurkan. Di situ, ada imbuhan keterangan mendapat diskon atau gratis ongkos kirim.

Bisnis makanan pantang mundur. Hari demi hari, orang-orang diminta membeli makanan siap disantap, tak perlu memasak. Kerepotan di dapur jangan menambahi masalah-masalah selama wabah. Sekian orang patuh. Urusan makanan mendingan membeli di warung, rumah makan, atau restoran. Orang mau makan mudah dengan menantikan kedatangan kurir di depan rumah atau depan pintu.

Pelbagai jenis makanan kadang membual dengan khasiat atau keuntungan. Makanan-makanan minta diakui nikmat. Orang-orang tak sempat mempelajari sekian makanan, Semua sulit dipahami bila mengacu pengetahuan atau pengalaman termiliki. Makanan-makanan untuk disantap, bukan dipelajari serius. Penggampangan menjadikan keluarga-keluarga Indonesia mengabsenkan ilmu gizi. Perbincangan gizi mungkin tetap berlangsung tapi singkat dan sangsi.

Pada masa 1960-an, terbit buku berjudul Empat Sehat Lima Sempurna susunan HF Kilander, disadur dalam bahasa Indonesia oleh Hermana, buku direstui pemerintah untuk dipelajari publik. Konon, ilmu gizi pernah masuk di sekolah-sekolah sebagai pelajaran masa 1950-an dan 1960-an. Buku-buku bertema makanan diperlukan agar pengetahuan termiliki para murid untuk tersampaikan kepada keluarga.

“Pada masa ini hanja ada beberapa sadja ilmu jang lebih penting daripada gizi karena masa depan suatu bangsa tergantung kepada perkembangan anak-anak dan pemuda-pemuda jang sehat dan tjukup mendapatkan makanan,” dalil terpenting dalam buku. Ilmu gizi itu terpenting di dunia, setelah Perang Dunia II. Negara-negara ingin besar dan maju. Warga dianjurkan bisa mengonsumsi makanan bergizi agar peradaban menuju terang, tak menggelap dengan sakit dan kematian.

Pada masa 1960-an, Indonesia masih dibingungkan kelaparan dan kemiskinan. Masalah-masalah itu biasa dibantah oleh Soekarno dalam pidato-pidato menggebu. Politik sering menentukan negara itu memiliki ketersediaan pangan bermutu. Sengketa politik atau keserakahan kalangan pejabat biasa berdampak ke masalah perut. Jutaan orang menerima dampak dari kesulitan mencari nafkah dan mengandakan makanan di rumah.

Kini, orang-orang berpikiran lagi ilmu gizi selama kebingunan dalam urusan nafkah dan pangan. Bantuan-bantuan dari pemerintah atau pelbagai institusi berdatangan bagi keluarga-keluarga tak mampu agar masih bisa mendapat makanan-makanan bergizi. Situasi itu berbeda dari industri makanan makin kencang melalui beragam iklan.

Di pinggiran Solo, keluarga itu pernah dikejutkan dengan kedatangan sejarawan asal Depok. Ia datang bukan raga saja. Di dekat pintu, ada sekarung beras seberat 25 kg. Sejarawan itu mengerti bila beras terlalu dibutuhkan bagi keluarga-keluarga gampang oleng akibat wabah. Beras itu memicu obrolan bagi dua lelaki bertema makanan. Si tuan rumah pamer iklan sehalaman untuk buku Mustika Rasa diterbitkan atas perintah Soekarno, masa 1960-an. Sejarawan itu girang. 

Obrolan-obrolan berlanjut dengan pamer koleksi buku bertema makanan dari masa lalu. Tuan rumah itu cerewet di hadapan sejarawan, berlagak tak memiliki masalah nafkah atau pangan. Sejarawan sering tertawa keras setelah mengabarkan bakal ada buku-buku baru bertema makanan terbit untuk dinikmati pembaca. Kini, tema makanan makin dipentingkan dengan album lupa dan seribu goda. Si tuan rumah memang sering membaca buku-buku bertema makanan masa lalu tapi jarang menikmati beragam makanan dianjurkan bagi kewarasan jiwa-raga. Ia suka saja dengan tempe, setiap hari. Konon, tempe masuk daftar makanan sesuai dalil empat sehat lima sempurna. Pilihan sudah benar. Begitu.   


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s