Ibu Bimbang Bahasa

Happy Budi

SEBAGAI orang Banyumas, jelas bahasa sehari-hari ngoko yang kugunakan adalah bahasa ngapak panginyongan. Hastag-nya jelas ora ngapak, ora kepenak”. Hampir dua dekade pertama hidupku secara intensif menggunakan bahasa itu, kecuali dalam lingkungan yang mengharuskan berbahasa Indonesia. Misal, di sekolah atau kegiatan pramuka. Tetapi, kepada orangtua atau sesepuh lainnya, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan taraf krama inggil. Lebih ngajeni dan agak mikir saat harus bicara. Malah kadang menyapa bayi atau bocah kecil juga dengan krama inggil, sebuah internalisasi bahasa “sopan” sejak dini.

Tibalah saatnya diriku tinggal di Malang. Bahasa kesehariannya tentu bahasa Jawa dialek malangan, yang kurang lebih mirip dengan ngapak dalam hal blakasuta atau terus terangnya. Jadi, kesannya terdengar tidak sopan atau kasar bagi pengguna bahasa Jawa kulonan yang distigma lebih kalem dan lemah lembut. Yang unik, bahasa malangan menggunakan kata-kata walikan (osob kiwalan). Konon, dulu digunakan sebagai bahasa sandi para pejuang agar tidak mudah dimengerti kompeni di masa revolusi. Tidak sekadar membalik kata, namun jika kau tinggal di Malang, pasti lama-lama akan mengerti juga bagaimana sebuah kata dibalik menjadi seperti “oskab”, “nakam”, “ongis”. Tapi, tidak semua kata otomatis bisa dibalik. Itulah “seni”-nya saat kata-kata ojir, kadit itreng”, ebes, emes bertebaran di udara.

Sayangnya, si teman tidurku alias suamiku berasal dari Banyuwangi, bukan Arema (arek Malang). Bahasa sehari-harinya menggunakan bahasa Using (Osing). Hampir mirip dengan ngapak dalam pengucapan “a” yang tetap disuarakan “a” serta ada penekanan pada huruf “k”. Hanya, nadanya di telingaku lebih mendayu namun rata-rata orang yang kukenal saat bicara bahasa ini terdengar bernada setengah teriak alias bersemangat. Gambaran ini tampak pada hampir semua tarian tradisinya atau musik pengiringnya yang rancak dan energik. 

Tidak usah bingung untuk tahu seperti apa bahasa Osing. Nyaris separuh daratan Jawa ini, jika kau naik bus dari ujung Timur hingga setidaknya setengah pulau Jawa sampai Semarang, pasti akan sering terdengar lagu-lagu banyuwangen. Tidak hanya versi aslinya namun versi koplonya juga semarak terdengar di sudut terminal, di dalam bus, atau bahkan pengamen jalanan di dalam bus. Setidaknya, “Kanggo Riko” dari Demy yang ngelangut cocok menemani lamunan kala sendiri dalam bus. Atau, lagu-lagu yang di-cover Via Vallen juga sempat hit pada masanya. Yah, tapi ini gambaran sebelum “negara api” menyerang ya.

Tibalah menentukan bahasa keseharian saat bocah mulai bisa diajak berkomunikasi. Sewaktu ngudang anak, lagunya tidak lagi tak lela lela ledhung atau sluku-sluku bathok tapi tik-tik bunyi hujan atau cicak-cicak di dinding. Kadang ganti bahasa dengan shalawat badar, shalatullah salamullah. Ngudang atau menyanyikan lagu-lagu sebagai lullaby juga bagian dari bisa menunjukkan bagaimana bahasa yang digunakan dalam keluarga.

Nyatanya, bagiku saat menentukan bahasa percakapan sehari-hari bersama anak itu tidak mudah. Mau pakai krama inggil, di rumah hanya aku yang mengerti dan tak ada partner lingkungan yang mendukung. Mau pakai bahasa Osing, hanya ayahnya yang bisa. Mau pakai bahasa malangan, rasanya aneh karena kami berdua adalah pengguna baru dan tidak punya akar di sana. Akhirnya, sebagai jalan tengah dari segala kebimbangan, kami memilih bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Akhirnya, sebagai jalan tengah dari segala kebimbangan, kami memilih bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ini berbeda suasana saat kita kecil. Pada masa 1980-1990-an, di daerahku, penggunaan bahasa Indonesia terkesan digunakan di kalangan keluarga berada dan mapan secara ekonomi. Kalau tidak, artinya, warga luar daerah yang sedang berdinas dan tinggal di situ. Hampir semua orang di lingkunganku menggunakan bahasa daerah dalam keseharian. Umum saja semua menggunakan bahasa ngapak. 

Justru sekarang sepertinya terbalik. Siapa pun yang masih menggunakan bahasa daerah, kesannya ndeso atau tradisionalis. Levelnya jauh menurun dibandingkan yang menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing (terutama Inggris). Aku jadi merasa resah, dan juga merasa bersalah, karena sudah tidak menggunakan bahasa daerah dalam sehari-hari.

Sungguh, sebuah dilema, bagi ibu-ibu sepertiku yang masih mengaku sebagai manusia Jawa namun tak menghidupi sebagaimana orang Jawa. Bahkan kini nyaris tak lancar berbahasa Jawa. Lalu, si ibu ini memudahkan diri beridentitas Indonesia: sebuah tanda yang sebenarnya masih abstrak hingga sekarang. Jadinya, aku sekarang tepat sedang ber-emban cindhe emban siladan, mengutamakan yang satu dengan melupakan yang lain. 


Happy Budi, berhikmat di Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s