Buanglah Sapu!

Marhamah Aljufri

TUGAS paling malas harus kulakukan adalah menyapu. Ibu hendak mengajarkan kebiasaan mencintai kebersihan pada anak sejak dini dengan menyapu. Ibu memiliki harapan untuk anak-anaknya. Semua perlu latihan menyapu sejak kecil. “Agar tak kaku memegang sapu saat sudah besar,” kata Ibu. 

Tugas menyapu dibagi tiga. Menyapu di dalam rumah dan teras menggunakan sapu ijuk hitam atau anyaman jerami. Sapu ijuk coklat dari ijuk kelapa dipakai di dapur, waktu itu masih berlantai tanah dan berjelaga. Area halaman rumah perlu disapu dengan sapu lidi. Di halaman, ada tiga pohon mangga besar. Daun mangga kering jatuh berserakan perlu disapu pagi dan sore hari. Sapu lidi paling nyaman untuk membersihkan daun mangga di halaman. Kalau ibu menyapu dalam rumah, aku kebagian menyapu halaman. Nenek menyapu di dapur. Kadang nenek atau ibu menyapu halaman, aku menyapu dalam rumah.

Perihal menyapu mengingatkan aturan-aturan tak tertulis perlu dipatuhi. Aturan dari leluhur diwariskan berdasar asas kemanusiaan, kesopanan, dan kebersihan. Salah satu aturan menyapu mengatakan, tidak boleh menyapu ketika ada tamu di ruangan itu. Tamu bisa jadi merasa terusir dengan sapu. Tak elok tuan rumah mengusir tamu. Sebab, tamu membawa berkah kadang keperluan penting. 

Aturan kedua, menyapu harus bersih merata. Konon, menyapu bersih berbonus mendapat pasangan ayu atau ganteng. Aturan berikutnya, menyapu jangan separuh-separuh. Menyapu perlu dirampungkan hingga kotoran dikumpulkan dan dibuang. Masuk akal tentunya, kotoran yang dikumpulkan dapat kembali ke ruangan atau terbang kena angin dan menambah ganda pekerjaan menyapu. 

Aturan berbau mitos, ada yang percaya ada yang ragu, menyapu malam-malam bisa kemalingan atau mendatangkan kemiskinan. Benar atau tidak, menyapu saat malam hari dapat melewatkan kotoran di tempat gelap atau menyapu mengikutkan barang berharga berukuran kecil dan tak kelihatan. 

Aturan menyapu tidak menjelaskan tentang larangan menggunakan gagang sapu tidak untuk menyapu. Ibu pernah membuatku ketakutan dan bersembunyi di kolong dipan rumah sebelah yang masih nenekku. Terlalu asyik bermain membikin aku melewatkan waktu istirahat siang. Ibu berteriak mencariku sambil mengacungkan gagang sapu, “Ayo pulang!” 

Anak-anak takut diacungi gagang sapu oleh ibu. Anak-anak bermain gagang sapu sebagai perang-perangan di sekolah dan langgar. Senang menyerang dan beradu pukulan membuat gagang patah. Gagang patah biasanya dibetulkan diganti bambu. Gagang bisa diganti beberapa kali, tapi kepala sapu rontok dan gundul perlu beli baru.

Sapu lidi jenis sapu bisa diadaptasi, bergagang dan tidak bergagang.  Sering disebut pepatah, sapu lidi diingat dalam gambar bersebelahan tulisan: “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Menyapu dengan sapu lidi tak bergagang diilhami memiliki falsafah merendahkan kepala  dan hati untuk bisa membersihkan daun dan sampah. Orang paruh baya telah rendah hati memasang gagang di sapu lidi agar tak perlu bungkuk saat menyapu. Menyapu dengan membungkuk membikin payah. Tulang-tulang di punggung, panggul, dan kaki tak muda lagi untuk diajak berpayah-payahan. 

Menyapu sudah bisa santai ditawarkan bernama Dynamica Sapu Modern dari Electrolux. Iklan terpasang di majalah Kartini, 12 April 2012: “Kini pekerjaan menyapu bisa dilakukan dengan santai, praktis dan lebih bersih tanpa harus merasakan debu-debu beterbangan”. Keterangan itu menjadi kabar menyapu tak perlu payah. 

Sapu modern bergagang hitam besar berjanji ringan, performa tinggi dan cyclonic. Kata cyclonic terlalu sulit dimengerti. Kepala sapu tidak lagi dianyam dari ijuk kelapa atau jerami disebut mudah digunakan, higienis dan bisa untuk semua jenis lantai. Kita melihat sapu biasa ditaruh di tong sampah. Perempuan tersenyum terlihat gembira memegang sapu panjang berpunuk hijau berkepala hiu martil. Sapu meninggalkan kesejatiannya sebagai sapu. Kita ingin bertanya dan menjawab, mengapa sapu tak menyapu? Sapu bukan sapu kalau menyedot debu.


Marhamah Aljufri, Ibu rumah tangga di Pasuruan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s