Keserakahan dan Pengabdian

Yulia Loekito

Oh Allah Gusti nyuwun ngapura apakah ini namanya karma alam? Tambah banyak kemajuan dicapai tambah banyak bencana sampai. Tambah banyak insan serakah tambah pula malapetaka muncul. Adapun alam bicara kepada insan menakar tiap bentuk kesanggupan.

(Linus Suryadi AG, Pengakuan Pariyem, 1981)

Pariyem dari Gunung Kidul dalam prosa liris Linus Suryadi AG diceritakan lahir pada musim tanam padi. Sederhana, namanya berasal dari kata pari atau padi, dengan harapan mendatangkan rahmat bagi padi yang ditanam dan menjauhkan dari hama tikus dan wereng. Pemberian nama mendatangkan bijak pada celathu Pariyem. Di antara banyak penuturan Pariyem, dari falsafah hidup, dosa, kehidupan sosial masyarakat, budaya Jawa, sampai tentang seks, kita menemukan larik-larik tentang keserakahan manusia dan alam. 

Linus Suryadi sudah berbicara lewat mulut Pariyem tentang hubungan kemajuan zaman dengan bencana alam, sejak 40 tahun yang lalu! Namun, dunia makin hanyut ditelan gelombang kemajuan zaman atau mungkin lebih tepatnya pergerakan zaman, yang entah maju, mundur, ke samping, atau ke dalam. Pariyem menganggap, bukan kemajuan patut didakwa, tapi insan serakahlah titik pangkal masalahnya. Sungguh tak heran, kalau hari ini lebih banyak pohon-pohon beton berdiri dibanding pohon-pohon berkayu dan berakar isi air tanah segar. 

Pariyem menganggap, bukan kemajuan patut didakwa, tapi insan serakahlah titik pangkal masalahnya.

Pariyem adalah pengingat pada suatu periode waktu tentang bagaimana cara manusia berjalan dan menata hidup. Pengingat bisa diperhatikan, diabaikan, dicaci, atau mungkin sekadar mlebu kuping kiwo, metu kuping tengen, bagaikan para pemeluk agama yang membaca kita suci tapi sepi amal atau perbuatan. Padahal, yang diharapkan adalah rame ing gawe sepi ing pamrih jika menurut falsafah Jawa, yang hampir pasti juga dianut oleh Pariyem. Artinya, banyak bekerja tanpa mengharap imbalan. 

Dalam kisah pewayangan, angkara murka dan keserakahan itu salah satunya digambarkan melalui Rahwana. Di Jawa, Rahwana juga disebut Dasamuka atau pemilik sepuluh wajah, diceritakan pula ia memiliki banyak pasang tangan menggambarkan keserakahan dan kesombongannya. Dalam buku Anak Bajang Menggiring Angin (1983), Sindhunata menggambarkan keadaan Negeri Alengka setelah Rahwana yang penuh serakah dan sombong itu berkuasa: “Menghilangkah keindahan Negeri Alengka yang dipuja raja-raja di mana-mana? Dulu danaunya bertepian bunga-bunga kemuning, airnya jernih, Sekarang hanyalah rawa-rawa curam yang memberi sedikit kesegaran pada penghuninya. Pada waktu Prabu Sumali menjadi raja, di sekitar istana ada pelataran yang berpermadani bunga bertebaran aneka warna, sehingga bila raja turun dan dari dampar kencananya dan melewatinya, bunga-bunga itu berpendar, berpendar, menimbulkan pemandangan seperti kartika berebutan singgasana. Kini permadani itu hanyalah rerumputan kering dengan bunga-bunga layu yang melambarinya.”

Bukan kemajuan zaman yang menyebabkan perubahan alam di Negeri Alengka, tapi angkara murka dan keserakahan Rahwana. Rupanya, pemikiran sejalan dengan Pariyem. Titik pangkal permasalahan adalah keserakahan insan! Walaupun buku Anak Bajang Menggiring Angin baru ditulis tahun 1983, tapi kita tahu tulisan bersumber dari epos Ramayana yang sudah digubah ribuan tahun lalu. Demikiankah sejatinya watak-watak manusia dikenali oleh para sastrawan dan menjadikan mereka gelisah sehingga tertulis dalam karya-karya dari masa ke masa. 

Kegelisahan bukan hanya milik sastrawan, para pembaca atau penikmat sastra ikut terusik. Kegelisahan mengakibatkan munculnya tindakan-tindakan di antara pengabaian-pengabaian. Kita jadi insaf, semaju atau semundur apapun zaman bergerak, insan jalma manungsa ini hanya berputar-putar saja pada watak-watak khasnya. Kita buka Radar Jogja, Senin Pahing, 13 September 2021, berita tentang penambang pasir ilegal: “Aktivitas penambangan pasir di lereng Gunung Merapi perlu ditekan. Sebab, berdampak pada kerusakan lingkungan. Air sungai menjadi keruh dan berdampak buruk terhadap tanaman pertanian.” Watak serakah masih terus kita temukan dalam berita-berita mengakibatkan kerusakan-kerusakan. Pengabaian umumnya terjadi karena insan mengutamakan kepentingan dirinya dahulu. 

Pariyem momong Endang Sri Setianingsih, anak hasil percumbuannya dengan Den Baguse putra Ndoro Kanjeng Cokrosentono yang keturunan ningrat. Pariyem, nama lengkapnya Maria Magdalena Pariyem, sambil momong akan menceritakan segala macam tindak-tanduk dan watak manusia pada Endang kesayangannya. Pariyem dalam kata-kata akan terus momong jalma menungsa pembacanya dari waktu ke waktu. Lalu, insan pembacanya boleh memutuskan akan menjadi insaf, bertindak, atau mengabaikannya. 


Yulia Loekito, ibu menulis di Kaum Senin, tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s