Pengantin (Bisa) Dipesan

Yunie Sutanto

LEWAT teks sastra, tabir kebenaran sering terungkap. Banyak prasangka dan kerikuhan yang bermunculan di benak masyarakat termungkinan diserukan. Yang hanya tersirat mendadak tersurat. Kesalahkaprahan terbongkar dan diluruskan. Sastra menjadi ekspresi emosi suatu masyarakat yang terabadikan laiknya sebuah potret. 

Novel berjudul Pengantin Pesanan ini terbilang salah satunya. Idenya muncul setelah penulisnya dolan ke Singkawang. Mya Ye terbilang cukup sukses mengangkat topik yang selama ini dianggap tabu. Kesan negatif melekat kuat dalam pandangan umum tentang para amoi Singkawang. Kisah-kisah ini berhasil dikuaknya. Mya Ye menuliskan berdasarkan investigasi dan penuturan langsung para pengantin pesanan yang bersedia membagikan kisah secara terbuka. Keanoniman para narasumber menjaga tulisan ini tetap berada dalam koridor kefiksian. Istilah “pengantin pesanan” menjadi termaknai lebih dekat dan mendalam lewat tuturan rasa dan penokohan yang hidup. 

Orang Cina Khek memang banyak di Singkawang. Sebagai pendatang, orang Cina Khek di Singkawang masih terus berbahasa Khek dan berbudaya Khek. Tokoh Sinta dalam novel ini, yang sehari-hari lebih akrab disapa A Cin, merupakan gadis beretnis Cina Khek Singkawang. Hari Purwanto dalam buku Cina Khek di Singkawang (2014) menjelaskan: “Sejak dulu, orang Cina selalu memiliki orientasi sangat kuat ke negeri leluhurnya. Sikap inilah yang menghalangi mereka berasimilasi dengan warga setempat.” 

Orang Cina Khek Singkawang berhasil melewati rezim Soeharto yang amat membatasi ekspresi budaya ketionghoaannya. Mereka tetap berbahasa Khek dengan fasih hingga kini. Mereka sudah terbudayakan berbahasa Hakka di kalangan keluarga mereka. Berbeda dengan orang Cina di Jawa, yang lebih melebur dan berlidah Jawa sebagai dampak asimilasi. A Cin pun dalam novel ini selalu menggunakan bahasa Hakka saat bercakap-cakap dengan ibunya. Kata ngi untuk kamu. Kata ngai untuk saya. Asuk untuk sebutan om. Beraneka kosa kata bahasa Hakka mewarnai dialog-dialog dalam novel. 

A Cin memang berstatus janda dengan seorang anak perempuan. Pernikahan pertamanya gagal. Padahal, A Cin dan Gi Siang saling cinta. Saat Siane kawannya memutuskan menjadi pengantin pesanan, A Cin merasa kasihan pada sahabatnya itu. Ia prihatin dengan nasib Siane yang menikah tanpa cinta. A Cin takkan mau menikah tanpa cinta. Namun lihatlah hidup pernikahannya yang mengatasnamakan cinta! Keluarga Gi Siang mengharapkan anak laki-laki dan A Cin melahirkan anak perempuan. Perceraian tak bisa dihindarkan karena Gi Siang menjadi pemabuk dan pemukul. A Cin kini harus menanggung hidup anaknya Angelina, juga ibunya dan Aloy adiknya. Kisah klasik perceraian memang teranggap biasa bagi para pengantin pesanan. “Entah berapa banyak istri impor yang akhirnya melarikan diri dari rumah keluarga suaminya karena tidak sanggup lagi bertahan” demikian tutur A Cin dalam hati. A Cin tak pernah menyangka ia dan Gi Siang, yang menikah karena cinta, akan bercerai. Terbukti bahwa cinta semata tak bisa memastikan langgengnya pernikahan. Malam pengantin mereka yang indah, saat mereka saling menyerahkan diri satu sama lain ternyata tak bisa menjaga kelanggengan pernikahan mereka. 

A Cin tak pernah menyangka ia dan Gi Siang, yang menikah karena cinta, akan bercerai.

Kita membaca kutipan yang menyentak: “Hampir semua pengantin pesanan, dari mana pun asal mereka, memiliki tujuan sama: berharap bisa keluar dari kemiskinan. Cinta menjadi prioritas kesekian” Kemiskinan rupanya sudah begitu mendarahdaging dalam diri mereka. Sampai-sampai orang tua pun rela memberikan anaknya untuk dinikahi pria yang sama sekali asing. Demi uang. Demi kesejahteraan keluarga. 

Idealisme A Cin pun runtuh saat tawaran Asuk Cacang datang dari seorang pria Taiwan. Asuk cacang memang berprofesi sebagai biro jodoh. Yang dicari istri tipe tradisional, yang pintar memasak dan mengurus rumah tangga. Tak lupa harus hormat dan berbakti pada mertua. Kaidah-kaidah kekonghucuan terendus dari syaratnya. Moi Nyin adalah sebutan makcomblang dalam bahasa Hakka. Moi Nyin biasanya orang yang ahli mengurusi cocokologi berupa phe ji (shio) dan perhitungan si sang nyat nyit ( waktu hari bulan tahun) dari kedua calon mempelai. Jika cocok secara perhitungan bobot menurut si Moi Nyin, pernikahannya dianggap akan langgeng (Hari Purwanto, Cina Khek di Singkawang, 2014). A Cin pun akhirnya mengiyakan tawaran untuk menjadi pengantin pesanan. Begitulah, ia menjadi istri pria Taiwan bernama Lu Kai Wei yang lebih tua 10 tahun. 

Pada bab pertama novel Pengantin Pesanan, sudah terlihat betapa pentingnya kebisaan memasak itu bagi seorang Sinta alias A Cin: “Hanya dalam hitungan minggu, mertua perempuan yang cerewet dan judes itu meminta Sinta terjun ke dapur. Mendidiknya untuk dapat membuat ban tiao, masakan khas Meinung, dengan baik. Sinta diajari memasak sesuai warisan resep leluhur keluarga Lu.” 

Sang ibu mertua hanya meneruskan tradisi turun-temurun yang sudah membudaya. Ia pun sebagai istri, demikian pula menjaga rumah tangganya. Ibu Lu adalah seorang istri konvensional yang diidamkan: “Diberikannya dengan rela seluruh diri dan hidupnya pada suaminya. Dilahirkannya anak laki-laki untuk meneruskan keturunan Lu. Dikenyangkannya perut suaminya dengan olahan masakan yang sebagian resepnya diperoleh dari mertua. Cinta mereka lahir di ranjang pengantin. Pada malam pertama. Bukan cinta menggebu-gebu. Hanya cinta yang selalu memberi. Hanya memberi. Karena memang itulah tugas ibu Lu sebagai istri”. Ini mendeskripsikan apa yang tersurat oleh Kong Hu Cu dalam catatan kesusilaan Li Ji , dikatakan makanan dan seks adalah naluri mendasar manusia. Urusan perut dan urusan di bawah perut menjadi pengukur kesuksesan seorang isteri. Tak heran, jika Kong Hu Cu bahkan menceraikan istrinya karena sang isteri tidak pandai memasak (Seni dan Mitos Seksualitas Cina Kuno, 2007). Moralitas budaya Tionghoa secara umum memang senantiasa berkiblat pada ajaran-ajaran Kong Hu Cu. Kekonghucuan tampaknya sudah melekat dalam cara berpikir kolektif orang Cina. 

Orang tua Gi Siang, suami pertama A Cin pun dikisahkan penganut Kong Hu Cu. Gejolak pernikahan pertamanya pun berawal dari ketidaksanggupannya memberikan keturunan laki-laki. Angelina, anak yang dikandungnya ternyata anak perempuan. Budaya patrilineal, entah mengapa, sangat tak rasional dalam mendamba terlahirnya keturunan lelaki yang meneruskan marga. Ibu Lu, sang mertua  A Cin, mungkin beruntung karena anak sulungnya, Kai Wei, adalah anak laki-laki. Masalah muncul dan tekanan menghasilkan keturunan lelaki akan kuat jika anak pertama perempuan. Istri dambaan tak hanya yang bisa melahirkan penerus marga, juga harus pandai memasak resep warisan. Satu lagi, harus pandai mengurus suami di ranjang. Urusan perut dan di bawah perut harus beres. 

Adegan dalam novel ini banyak mengambil lokasi di kedai ban tiao keluarga Lu. Ban Tiao yang merupakan mi beras berbentuk tebal. Sekilas mungkin mirip kwetiau, hanya saja lebih tipis. Dimasak dengan digoreng atau direbus. Hidangan ini memang kuliner khas Meinung, Taiwan. A Cin bekerja mengelola kedai ban tiao keluarga Lu. Ia bisa memasak hingga rasanya persis resep warisan. 


Yunie Sutanto, Ibu menulis di Jemaah Selasa, tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s