Dawet Sepanjang Masa

Yuni Ananindra

Cendol dawet,  cendol dawet seger

Cendol cendol, dawet dawet

Cendol cendol, dawet dawet

PERTAMA kali mendengar nama minuman menyegarkan itu digunakan sebagai senggakan dalam lagu Pamer Bojo, otak saya sempat menganggapnya sebagai hal yang aneh. Ini lagu macam apa? Mungkin sebenarnya itu hanya perkara kebiasaan. Buktinya, setelah beberapa kali mendengar, rasa aneh semakin memudar. Tanggapan otak saya berubah. Dengan “cendol dawet”, Pamer Bojo terasa enak juga. 

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, cendol adalah penganan dibuat dari tepung beras dan sebagainya yang dibentuk dengan penyaring, kemudian dicampur dengan air gula dan santan. Cendol itulah yang kemudian menjadi salah satu komponen utama dari dawet. Kreasi dawet kini bisa kita temukan dengan mudah di internet, majalah, atau buku khusus resep. 

Di Jawa, dawet bukan termasuk minuman pasaran, tapi juga tak bisa disebut langka. Dawet bisa didapati di beberapa tempat meski tak sesemarak minuman hasil blender yang kian hari semakin mudah terlihat di pinggir jalan. 

Saya suka membeli dawet ketika pergi ke Pasar Bantul. Sewaktu saya masih bocah hingga remaja, dawet itu tergolong sangat laris. Jika membeli harus antre, apalagi di hari Minggu. Oleh penjual, cendol dan santan diciduk dari dalam pikulan. Gula kelapa atau juruh diambil dari dalam gerabah. Memang tidak semua penjual dawet menyanding pikulan. Beberapa cukup menggunakan baskom lurik atau gerabah yang ditaruh di atas meja. 

Selain penjual dawet yang menggelar lapak di pasar atau di pinggir jalan, ada juga penjual dawet yang berkeliling. Di era 1990-an hingga 2000-an awal, saya  bisa menemui penjual dawet memakai pikulan. Penjualnya saat itu laki-laki yang bisa dibilang tak muda lagi. Beberapa tahun terakhir, saya tak pernah melihatnya lewat. Mata saya hanya bisa menangkap sosok penjual dawet pakai gerobak (yang lebih sering mangkal) atau berkeliling naik sepeda. 

Bagi para penjual dawet, kampung-kampung adalah rezeki. Dengan sepeda, mereka mengantarkan dawet kepada pembelinya. Selain di masa-masa biasa, dawet lebih mudah didapat ketika bulan puasa tiba, baik itu lewat penjual di pasar, di warung, atau penjual dawet yang berkeliling. Salah satu golongan penjual dawet yang berkeliling kampung menggunakan sepeda adalah orang-orang yang sudah lanjut usia. Umurnya ada yang di kisaran 80-an tahun. Keriput yang tampak jelas rasanya tak memberi pengaruh terhadap keberdayaannya untuk menggenjot sepeda berkronjot. Dawet yang dijajakan di dalam perkampungan atau sepanjang jalan menggunakan sepeda itu sering kali saya dapati menggunakan cendol polos tanpa pewarna. Cendol lain di pasar bisa berwarna merah jambu. Tapi, warna cendol kadang memang menjadi ciri khas. Dawet ayu khas Banjarnegara menggunakan cendol hijau, dawet ireng khas Purworejo menggunakan cendol hitam sesuai namanya.

Umurnya ada yang di kisaran 80-an tahun. Keriput yang tampak jelas rasanya tak memberi pengaruh terhadap keberdayaannya untuk menggenjot sepeda berkronjot.

Masa panen padi pernah identik dengan dawet. Ketika para petani tengah nggepyok pari,  para penjual dawet berjalan kaki menyusuri persawahan untuk menawarkan kesegaran. Mereka menerima sistem barter. Dawet lazim ditukar dengan padi; jumlahnya sesuai kesepakatan. Kini penjual dawet di masa panen itu semakin langka. Mungkin karena corak generasi sudah berganti, pilihan profesi juga ikut berubah. Selan itu, zaman semakin mekanis sehingga orang lebih suka yang praktis-praktis karena menghemat tenaga. Padi yang dulunya digepyok, sekarang bisa dengan mudahnya dirontokkan dengan mesin. Tenaga yang berkurang tak terlalu banyak. Lelah dan haus bisa dikurangi.

Bagi masyarakat Jawa, dawet tak hanya hadir sebagai pelepas dahaga. Dawet juga menjadi bagian dari kebudayaan. Ia ada di dalam prosesi pernikahan. Peristiwa ini biasanya jadi rangkaian dari tradisi siraman. Yang menjual dawet adalah ibu calon pengantin perempuan, didampingi sang bapak yang bertugas memayungi dan menerima uang berupa kreweng. Dari prosesinya maupun komponen penyusun dawet itu sendiri, masing-masing mengandung filosofi yang dalam tentang kehidupan pernikahan dan berkeluarga. Orang tua yang berjualan dawet adalah simbol bahwa mereka sudah bulat dan rela melepas anaknya untuk membina rumah tangga. Kerja sama di antara ibu dan ayah calon pengantin ketika berjualan itu juga menjadi simbol kerja sama di dalam keluarga. Keluarga Presiden Joko Widodo yang notabene orang Solo menggelar peristiwa adat ini ketika hendak menikahkan anak perempuannya, Kahiyang Ayu.

Zaman bergerak menuju umur yang tua, tapi dawet belum tampak ditinggalkan masyarakat. Ia dibawa beberapa golongan untuk menemani kehidupan. Biasanya, penjual dawet adalah orang tua atau orang muda tapi penampilannya biasa saja. Maka ketika ada penjual dawet yang “tak biasa”, media tak melewatkannya. Juni 2021 lalu, beberapa media memberitakan penjual dawet berkostum pahlawan super Ksatria Baja Hitam. Lelaki yang berjualan di Gunungkidul itu adalah potret korban keganasan pandemi yang tak mau menyerah. Dawet yang bersifat tradisional bisa luwes berkolaborasi dengan kemodernan. Dan sesuai harapan, penampilan penjual dawet yang tak lazim itu bisa mengundang banyak pembeli.


Yuni Ananindra, penulis tinggal di Jogjakarta 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s