Senja dan Renungan Pekerjaan

Rebecca Eva L.

PADA senja, mata terberi langit merah. Aku pun menikmati air laut, ingin melarut rasa. Aku tak ingin apa-apa lagi bila berada dalam situasi ini. Dibumbui dengan senandung burung, yang tidak perlu berjudul. Terdengar saja. Hal terpenting, aku menikmati diri menjadi orang yang kelimpahan. Diri yang tak perlu terlalu bekerja. Menikmati semua ini cukup bersyukur.

Ya, manusia tak perlu terlalu bekerja selama ia menyadari siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya. Banyak pemahaman tentang manusia. John Locke menyatakan bahwa manusia pada awalnya adalah kertas kosong. Julian Offray de La Mettrie yang memandang bahwa manusia itu adalah mesin. Aristoteles menjelaskan manusia itu adalah hewan berakal. Charlotte Mason menyatakan bahwa manusia itu adalah seorang pribadi yang unik. Ki Hajar Dewantara menggarisbawahi bahwa manusia  benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri.

Bila manusia menyadari bahwa ia adalah makhluk hidup, makhluk yang merupakan pribadi unik maka ia akan sebaik-baiknya menjaga dirinya baik secara fisik, maupun spiritual dalam berbagai segi termasuk dalam hal bekerja. Dalam bekerja, Karl Marx berpendapat bahwa manusia hendaknya tidak mengalami alienansi atau keterasingan. Alienansi adalah hasil dari struktur ekonomi politik manusia, alienansi juga dapat merupakan hasil dari perasaan (tidak bahagia) akibat dari struktur tersebut. 

Alienansi menyebabkan para pekerja tidak dapat lagi memaknai pekerjaan sebagai ekspresi keahlian-keahlian mereka. Para pekerja hanya memaknai bekerja itu adalah seperti kaum pemilik modal memperlakukan mereka yaitu membayar dan mengupah mereka. Jadi, bekerja buat kaum pekerja adalah hanya untuk mendapatkan uang untuk memenuhi penghidupan mereka. Bekerja bukan untuk mengekspresikan diri tetapi hanya menuruti keinginan para  pemilik modal. 

Desa adalah tempat yang sempurna bagi manusia untuk lari dari keterasingan Justru, di desa manusia dapat hidup seutuhnya secara fisik maupun spiritual. Desa memang tidak memiliki peluang pekerjaan yang luas, namun desa adalah tempat yang luas untuk memaknai makna bekerja lebih dari mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan. Tempat yang luas yang untuk berkarya, tempat yang luas untuk mengabdi, tempat yang luas menyadari kehadiran Tuhan.

Sayangnya orang desa telah diracun oleh orang kota. Orang kota membohongi orang desa menggunakan akal bulus mereka dengan mengsugestikan mereka bahwa mereka adalah orang miskin yang bodoh yang tak memiliki harapan  untuk hidup di desa. Hidup mereka tak ada harapan. Oleh karena itu, mereka harus bersekolah baik-baik, mendapatkan nilai dan ranking setinggi-tingginya dan mereka diajak cepat-cepat pergi meninggalkan desa. 

Oleh karena itu, mereka harus bersekolah baik-baik, mendapatkan nilai dan ranking setinggi-tingginya dan mereka diajak cepat-cepat pergi meninggalkan desa.

Tetapi sayangnya tidak semuanya beruntung bekerja di kota, tidak semua mereka dapat menikmati ketampanan kota. Tak ada uang, tak ada harapan. Akhirnya, mereka pulang seperti anak yang hilang yang diceritakan dalam sebuah kisah di Alkitab. Dan kisah itu dilukiskan oleh seorang pelukis terkenal dari Belanda yang bernama Rembrant berjudul The Return of the Prodigal Son.  Meski menjadi budak lebih baik mereka kembali ke tanah pertiwi mereka. Dalam peribahasa orang  Nias disebutkan: Amagu tanö niha, inagu tanö raya. Buat orang Nias, kampung mereka adalah ayah dan ibu mereka. Kembali ke desa bukanlah sebuah aib, kembali ke desa adalah proses pertobatan untuk memaknai hidup dan juga pekerjaan. 

Sebuah analogi yang bagus diperkenalkan oleh Steve Pavlina tentang pekerjaan yaitu tentang message dan medium. Ada dua aspek dalam pekerjaan kita yaitu pesan dan juga medium. Sebuah kepingan CD atau compact disc kosong pasti harganya murah, namun CD yang sama dapat pula dihargai mahal. Murah atau mahalnya CD bukan dilihat dari bentuk luarnya karena bentuknya tentu sama namun yang dinilai adalah isi yang terkandung di dalamnya. 

Demikian juga dengan pekerjaan kita. Kita bisa jadi petani, pengusaha, pegawai, atau apapun. Semua itu adalah medium. Namun yang membedakan adalah pesan yang disampaikan dalam pekerjaan yang kita jalani. Setiap profesi memiliki imbalan masing-masing, tapi yang membedakan pesan yang terkandung di dalamnya. Apakah ia bekerja hanya untuk mencari sesuap nasi dan demi kehidupan yang lebih layak atau hal yang lebih lagi. Tidak penting berapa jumlah penghasilannya, yang terpenting pesan yang ingin disampaikan dari profesi itu.


Rebecca Eva L., pengajar tinggal di Nias 

One thought on “Senja dan Renungan Pekerjaan

  1. Dear Rebecca, Terima kasih telah menjadi medium dan menyampaikan message ini. Belakangan saya sering merasa menjadi alien bukan karna saya lupa bahwasanya BEKERJA adalah sebuah panggilan yang menunjukkan betapa istimewa nya menjadi makhluk manusia, namun karena tempat dan posisi dimana saya sekarang berada tidak lagi dimaksudkan untuk saya. Saya sedang bersiap-siap untuk beranjak pergi dan kembali singgah untuk kemudian menemukan lagi suatu tempat dimana saya dan pekerjaan itu dimaksudkan untuk satu sama lain. Terima kasih juga sudah mengingatkan betapa miripnya saya dengan Si Anak Bungsu itu. Sama hal dengannya, saya pun akan lekas berbenah dan kembali ke ‘rumah.’ 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s