Anak di Bawah Bayangan Emak


Dina Saputri

LEMBARAN dengan kotak-kotak gambar memenuhi halaman majalah Sarinah edisi 12 Oktober 1987. Terpampang beberapa momen dalam waktu yang berbeda memberi gambaran tentang babak kehidupan Mak Wok, yang bernama asli Wolly Sutinah. Ia sudah tampil dalam banyak film selama puluhan tahun kariernya. Majalah Sarinah mengabarkan kisah kepergian Mak Wok. 

Mak Wok disebut-sebut menjadi pemeran pembantu yang selalu dikenang sebagai karakter emak-emak bawel. Aku yang hanya kenal film lawas seperti Si Doel Anak Sekolahan dapat menemukan tokoh emak-emak bawel yang diperankan oleh Aminah Cendrakasih yang adalah anak dari Mak Wok. Peran turunan. 

Dapat dilihat peran Mak Wok sebagai emak-emak dalam beberapa judul film yang tak jauh-jauh dengan tokoh anak. Mak Wok menjadi tokoh emak yang bawel, ngomel, dan menasihati anak. Film berjudul Memble Tapi Kece, Mak Wok jadi emak galak nan bawel. Anaknya yang punya cita-cita sebagai penyanyi tenar, Mirja, kena omelan melulu. Mirja yang bukan anak kecil lagi tak prihatin akan kehidupan mereka. Mirja belum kerja dan emak babe ngomel. “Heh pemuda memble, memangnya lu mau jadi apa sih?” Salah satu cuplikan omelan emak ke Mirja. 

Mirja anak semata wayang dan belum juga bisa mewujudkan cita-citanya sebagai penyanyi dangdut gedongan. Ia emoh jadi sopir, kerjaan turunan kakek dan babenya. Alhasil emak ngomel melulu melihat tingkah Mirja yang idealis. 

Pemeran anak yang punya emak diperani Mak Wok dalam film Kembalilah Mama (1977) hampir sama ceritanya. Khas nasihat-menasihati peran emak tak ditinggalkan Mak Wok namun diucapkan dengan intonasi halus berbeda dengan adegan dalam film Memble Tapi Kece. Anak bernama Eddy yang juga bukan lagi anak kecil ingin merantau ke Jakarta sebagai penyanyi. Kita bisa melihat perbedaan logat Mak Wok dalam dua film yang berlatar geografis berbeda. Film Memble Tapi Kece di Jakarta, film Kembalilah Mama (1977) di Sumatra Utara. Tapi, anak-anak Mak Wok punya cita yang sama: penyanyi.

Sebagai pemuda sekaligus anak, Mirja dan Eddy mendapat banyak nasihat dari emak. Eddy diberi peringatan oleh emak bahwa di Jakarta itu banyak kemunafikan dan hal tak baik. Sedangkan Mirja terus-terusan dirongrong biar cari kerja atau meneruskan profesi turunan bapaknya jadi sopir. Intinya Mirja dinasihati untuk tidak memble melulu. 

Mungkin kebanyakan dari kita sudah pernah dengar nama Samson. “Kuat banget lu kayak Samson”, mungkin sering juga dengar kalimat begini. Film Samson Betawi (1975) film yang melegenda. Mak Wok menjadi emak dari Samson dan berlogat Betawi. Meski geram dengan kekuatan Samson yang mengundang perkara, emak Samson tetap tak tega saat melihat Samson dipukul oleh bapaknya. Tak bisa berbuat apa-apa, emak memilih untuk tak melihatnya. Sifat cerewet emak luntur jadi sifat keibuan saat melihat anaknya dihukum oleh suaminya. Emak Samson tak tega. Namun, Samson yang memang anak ajaib dengan kekuatannya tak mempan dipukul berkali-kali oleh bapaknya. 

Menyoal perihal hubungan Ibu dan anak, ada persembahan anak kepada ibunya dalam bermacam bentuk. Salah satunya adalah tulisan dalam majalah Bobo edisi 23 Desember 1989 berjudul “Ibuku Segalanya Bagiku”. Dalam dua halaman itu bisa dilihat bagaimana peran ibu yang begitu besar membuat anaknya mengenang. Ibuku penyanyi, ibuku pemanduku, ibuku hansipku, ibuku pelindungku, ibuku kamusku, ibuku pembantuku, ibuku dokterku, dan ibuku idolaku. Anak memandang sosok ibu dalam berbagai sudut. Gambaran cenderung pujian ini pantas membuat kita mengingat kembali sosok ibu.

Anak memandang sosok ibu dalam berbagai sudut. Gambaran cenderung pujian ini pantas membuat kita mengingat kembali sosok ibu.

Mak Wok dalam peran yang sudah disebut sebelumnya menampilkan peran ibu sebagai ‘hansip’ anak-anaknya. Hansip yang dimaksud di sini yaitu sosok yang mengingatkan atau mengamankan segala hal tentang kegiatan anak-anaknya. Hal ini yang memberi predikat emak-emak sebagai makhluk yang bawel. Mari kita lihat sosok Mirja yang selalu dibaweli emaknya karena ngelayap tiap malam dan tidur pada pagi harinya. 

Anak mengenang ibu dengan berbagai cara. Arswendo Atmowiloto mengenang ibu asuhnya dalam tulisannya di majalah Intisari edisi Desember 2008. Arswendo bukannya tidak punya ibu kandung, ia lebih memilih mengenang ibu asuhnya. Ia ingin membagi cerita lewat tulisannya di majalah tepat pada hari ibu. Ia berkisah bahwa ia, kakak, dan adiknya dititipkan oleh orangtua mereka ke keluarga lain yang tak punya anak. Ia mengingat ibu asuhnya itu merupakan sosok yang galak. Ia tak segan memarahi pedagang yang menipunya sampai merusak dagangannya. Kegalakannya sering disebut mirip seperti anjing yang sedang beranak. 

Beda dengan kenangan Arswendo yang nyata. Cerpen Lu Hsun berjudul “Badai di Sebuah Cangkir Teh” dalam buku The True Story of Ah Q (2020) mengisahkan para ibu dan nenek yang tidak kalah bawel dan galak. Nenek Sembilan Pon diceritakan bahwa makin tua makin cerewet. Ia cerewet karena merasa banyak yang salah terjadi di dunia yang sekarang ia jalani ini. Ia juga mengomeli cicitnya yang bernama Enam Pon karena terus memakan buncis hidangan makan malam. Melihat reaksi nenek Sembilan Pon, Enam Pon bersembunyi dan dari persembunyiannya ia mengata-ngatai nenek Sembilan Pon. Begitu juga Nyonya Tujuh Pon yang sama cerewet dan gampang misuh. Saat suaminya pulang kerja, Nyonya Tujuh Pon langsung marah karena suaminya pulang telat. Nyonya Tujuh Pon saat marah sulit untuk dikendalikan. Ia menampar anaknya sampai nangis dan tak lupa sambil diomeli. Sang anak akhirnya diajak pergi oleh Nenek Sembilan Pon. 

Bawel, galak, dan cerewet, tak pernah absen dari keseharian ibu dengan anaknya. Aku pernah ingat begini, ibu yang “bawel” membantu anaknya yang masih belum bisa berbicara untuk lancar berbicara. Kita selalu mengartikan kata bawel sebagai artian negatif, tapi dalam hal lain sebenarnya ada makna positif. Seperti ibu “bawel”–suka mengajak bicara anaknya–membuat anaknya belajar mengucapkan kata-kata. Begitu juga yang diungkap Anthony Reid dalam bukunya Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 (2014). Pada abad ke-15 sampai ke-17, wanita tidak biasa diperkenankan untuk sekolah. Peran ibu di rumah sangat penting dalam mengajarkan anak-anak perempuan mereka untuk bisa membaca dan menulis dalam urusan praktis seperti perdagangan:  “… pewarisan kemampuan baca-tulis merupakan soal rumah tangga, biasanya merupakan tanggung jawab kaum ibu dan sanak keluarga yang lebih tua.” 

Mari bayangkan kalau sang ibu tidak “bawel” atau “cerewet” dalam mengajari anak-anaknya baca-tulis. Dalam belajar membaca perlu untuk mengucapkannya, maka ibu mesti mengucapkan kata demi kata berkali-kali sampai anaknya bisa. Namun, kita kerap menganggap ibu yang bawel itu dalam artian negatif. Saat menulis ini, aku jadi bernostalgia tentang kebawelan mamaku. Dengan menulis ini pula, aku bisa mendapat banyak cerita tentang emak-emak yang berbeda bersumber dari film, buku, dan majalah. Pantulan aura tiap emak di tulisan ini tak akan pernah pudar. 


Dina Saputri, mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s