Bacaan Menghidupkan

Dani Alifian

Judul : Kitab Cerita: Esai-esai Anak dan Pustaka 2, Penulis : Setyaningsih, Penerbit : Babon, 2021, Tebal : 118 halaman, ISBN : 978-623-6650-29-5

PADA 2014, Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) pernah melakukan survei penjualan di toko buku jaringan Gramedia. Penjualan terbesar dari kategori buku-buku anak. Tahun itu, anak suka bersua buku. Pada 2021, ada berita mencengangkan seorang anak membeli voucher top up game daring hingga 800 ribu. Orangtua marah. Berita muncul di detik.news.com, 12 Mei 2021: “Diduga orangtua sedang memarahi kasir minimarket Indomaret karena anaknya dilayani saat top up voucher game online Rp 800 ribu. Mereka mempertanyakan kebijakan pelayanan Indomaret.” Orangtua tak seharusnya memarahi penjaga kasir. Anak murni tanggung jawab orangtua. Jika anak keranjingan gim, orangtua barangkali terlampau abai belanjakan buku atau sekadar membacakan dongeng pengantar tidur. Ibarat kertas putih, ingatan anak akan penuh warna sesuai apa yang tanamkan.

Di Jawa Pos, 4 April 2021, tulisan Puguh Sudjatmiko berjudul “Penjualan Buku Dipersulit Tak Adanya Lomba untuk Anak”, anak tak lagi menghiraukan buku untuk dibaca. Layar gawai lebih menggoda. Sejak tiga tahun lalu, penerbit Indoliterasi tak lagi memproduksi buku anak. “Biaya buku anak tinggi. Harus full color dan oplah (cetak) banyak biar harga masuk,” tulis Pak Puguh usai wawancara dengan Ribut Wahyudi, direktur penerbitan yang bermarkas di Bantul, Yogyakarta. Buku anak masih jadi hitungan matematis angka pasar. Bukan masalah suplai kecerdasan anak.

Buku Kitab Cerita 2 hadir jadi panduan agar iman membaca bagi anak kembali diperkuat bukan hanya kepentingan pasar. Kitab Cerita 2 bukan kitab suci tentunya. Kumpulan esai Setyaningsih ini layak mengisi pasar perbukuan agar industri mementingkan hal esensial soal bacaan anak. Dari Orde Baru hingga Jokowi, anak-anak tak pernah luput dari perhatian. Sejumlah kebijakan yang “katanya” memihak anak acap digaungkan. Kebijakan kadang menuai pro, kadang kontroversi. Pada masa Soeharto, bacaan anak tersedia sebab monopoli pemerintah. Anak jadi subjek perhatian, tapi masih punya kebebasan. 

Saat ini, anak punya banyak waktu bermain sebab pandemi, tapi permainan yang tersaji justru permainan dunia maya. Anak tak punya waktu bermain di dunia nyata untuk bermain kelereng, petak umpet, atau permainan yang sangat lekat dengan anak kecil pada masa 1990-an. Kita sulit bertemu anak membaca buku ensiklopedia layaknya kisah indah. Cerita anak pun jadi perhatian Setyaningsih, ia keranjingan pada (bacaan) anak. Bandung Mawardi dalam kumpulan esai Silih Berganti (Tjap Petroek, 2021) mengatakan Setyaningsih memilih menjalani hari-hari dengan berbelanja buku anak sering kondisi bekas di Gladag dan membaca ratusan buku anak. 

Setyaningsih menjelaskan: “Ada sindiran halus pada aktivitas anak anak mutakhir yang bercap edukatif. Para orangtua justru menjadi perampas yang paling bergembira dalam peristiwa perayaan raga sehari hari. Seperti navigasi kompas di tengah hutan rimba, anak akan tersesat bila orangtua terlampau sibuk bekerja, abai pada kesehatan intelektual anak. Orangtua mendambakan anak berprestasi, layak dipuji, atau jadi kebanggaan. “Memang kebanyakan orangtua masih lebih memimpikan anak anak mereka menjadi pintar, rajin, saleh, sopan, dan prestasi,” tulis Setyaningsih. Meski secara jasmani sudah sesuai anjuran gizi, anak terlihat sehat tapi intelektual anak tidak terisi nutrisi baik. 

Kita barangkali tidak banyak mengetahui para penulis cerita anak atau yang konsen pada dunia anak. Saya hanya tahu Reda Gaudiamo melalui Na Willa. Buku ini cakrawala pengetahuan sekaligus bekal rangkuman untuk orangtua agar paham bacaan untuk anak. Nama para pengabdi dunia anak tersaji pada Kitab Cerita 2. Padahal sebelum membuka buku ini, saya kurang tahu beberapa nama. Ada Soekanto S.A, Enid Blyton, Romo Mangun, dan Soesilo Toer. 

Kita mengenal Soesilo Toer selama ini menggarap tema sosial-politik ternyata pernah menulis kisah anak. Bagi Setyaningsih, pertemuan dengan buku Soesilo Toer berjudul Nasib Penebang Kayu dan Kisah Lainnya (Pojok Cerpen, 2019) menjadikan dunia anak adalah dunia kerja keras. Setyaningsih membawa kita pada rasa penasaran. Orangtua mesti menyajikan buku Soesilo Toer pada anak. Bagi pembaca remaja, bayangan memiliki anak masih cukup jauh. Sedikit kelakar, buku Setyaningsih telah membawa utopia saya menjadi seorang ayah. Tanggung jawab berat bukan hanya menafkahi materi, mestinya juga bacaan.

Sifat penuh kasih pada anak juga dituliskan Setyaningsih lewat sosok Romo Mangun: “Gerak sering jadi bahasa spontanitas, tidak dibuat-buat, tidak terencana untuk merayakan ragam rasa. Dalam ketakutan sekaligus kasih sayang, tangan mungil merangkul tubuh ibu, bapak, atau kakak demi meminta perlindungan.” Anak bertangan mungil peka akan gerak, orangtua layak memberi tempat berlindung agar anak merasa aman. Orangtua adalah tempat pulang paling sempurna bagi anak lelah bermain. Tangan mungil mengingatkan pada puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul “Di Tangan Anak-anak”: Di tangan anak-anak/ kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang/ menjelma burung yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;di mulut anak-anak/ kata menjelma Kitab Suci. “Tuan, jangan kau ganggu permainanku ini.

Puisi abai jadi pilihan Setyaningsih. Ini menekankan pada penulis cerita anak Indonesia bahwa cerita itu harus dibuat tak cuma menyenangkan, berpetualang, atau alur happy ending saja. Sastra anak adalah sastra yang dibunyikan, lalu dibaca, seperti puisi Sapardi akan membentuk imaji juga gambaran bahwa anak sungguh ekspresif.  

Buku 118 halaman membawa pembaca memaknai dunia anak. Buku layak dimiliki para orangtua sebagai navigasi pada bacaan yang berkualitas. Setyaningsih menulis: “… memang kebanyakan orang Indonesia masih membatasi anak dengan berbagai keharusan agar menjadi sesuai keinginan orangtua . Padahal sebenarnya dunia anak adalah masa paling seru untuk mengimpakan semua hal. Halaman tawa di majalah telah mengisi cawan impian yang cenderung dibuang oleh orang tua:menjadikan anak Indonesia humoris dan lucu.” 

Sinisme disampaikan secara halus, penuh gelitik. Pembaca ingin mengkritik gaya Setyaningsih menulis mungkin. Tapi semua terasa benar, layak untuk dipikirkan lalu menjadi diskusi berulang. Kita akan belajar cerita anak tak hanya dikisahkan untuk anak. Cerita anak berumur panjang Enid Blyton menembus waktu, bahkan umur. “Ajaran moral nan gamblang yang bisa digali oleh anak anak sekaligus memberi efek sekejap,” kata Setyaningsih. 

Cerita anak harus jadi kesenangan sejak dini, bukan hanya karena membaca adalah jendela dunia. Cerita sebagai bagian dari kehidupan yang lebih bermakna mengingat setiap jengkal bacaan seperti mengingat hal-hal yang telah terlewat dalam hidup. Setyaningsih berupaya mengenalkan hikayat para penulis cerita anak yang jarang diketahui orang. 

Memperkaya anak dengan cerita akan menjadi pengantar agar dekat dengan imajinasi. Cerita anak akan lekat dalam batin anak: “Cerita cerita mengandung bahasa dan tindakan yang mengakarkan senyum dan tawa spontan.” Ingatan anak itu kuat! Mesti ditanam hal yang baik, bukan sekedar permainan agar anak terhibur. Sebab jiwa anak mesti sehat dengan pengetahuan, bukan melulu hiburan.  

Setyaningsih mengakhiri buku dengan tulisan ingat pada kesehatan jasmani anak. Sayuran biasanya tidak terlalu disukai. Kitab Cerita 2  juga menyoal makanan agar anak sehat intelektual juga jasmani. Setyaningsih berharap agar bacaan anak kembali mengangkat tema sayur. Kitab Cerita 2 cukup kompleks menyoal cerita anak. Buku mengalir di tangan pembaca meski tipis dan cukup sekali duduk. Buku kecil memandu orangtua. Anak itu perlu sehat secara jasmani, rohani, juga intelektual. Cerita-cerita anak menghidupkan kesehatan intelektual. Intelektual terawat, rohani selamat, jasmani anak pun kuat menghadapi tantangan hidup yang panjang.


Dani Alifian, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Malang. Aktif sebagai pelapak buku lapak baca gerilya literasi. Bisa disapa di IG @dani_alifian. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s