Girang!

Bandung Mawardi

BAIT Daun Takjub (5 tahun) mulai kegirangan belajar. Ia berani mengucap kata belajar, sejak pagi sampai malam. Kata itu terbedakan dari bermain atau menonton televisi, diselingi memegang gawai tergoda oleh Mbak (Sabda Embun Bening) dan Mas (Abad Doa Abjad). Bait biasa meminta kertas-kertas bekas disimpan bapak. Kertas demi kertas mendapat coretan bagi kegirangan “belajar”. Bait kadang belajar bersama ibu, diselingi bapak. Bait kadang belajar sendiri sambil ngoceh atau teriak. 

Gambar karya Bait Daun Takjub

Semula, ia sembarangan memegang spidol, bolpen, atau pensil. Coretan-coretan dibuat tapi dianggap memiliki bentuk dan nama. Capek dengan corat-coret, Bait mewarnai sambil cengengesan. Ia menuruti kemauan untuk mewarnai secara rapi atau sembrono. Bait ingin girang saja. Berantakan menandai babak-babak belajar. Ibu boleh ngomel. Bait biasa berjanji bakal merapikan dengan jurus “tapi”. Bocah biasa membujuk bapak menjadi staf dalam upacara merapikan. 

Berantakan menandai babak-babak belajar. Ibu boleh ngomel. Bait biasa berjanji bakal merapikan dengan jurus “tapi”. Bocah biasa membujuk bapak menjadi staf dalam upacara merapikan.

Ibu sedang senggang mulai mengajari Bait menulis nama diri atau menulis angka. Kata demi kata diucapkan ibu mengandung cerita atau petunjuk agar belajar tak seperti di ruang kelas. Ibu dan Bait tertawa dan gembira meski sekian detik saling marah dan teriak. 

Bait beranggapan belajar itu menggirangkan, belum membuat pengamatan atas derita ditanggungkan Abad Doa Abdjad (kelas 1 SMP) dan Sabda Embun Being (kelas 4 MI). Belajar diartikan dua nak itu tugas dan tugas. Ngambek sudah kebiasaan. Malas hampir kewajiban. Bapak melihat belajar memang berbeda bagi anak-anak. Bapak pun kecewa dan trauma dengan belajar-belajar masa lalu disahkan oleh sekolah, sejak SD sampai SMA, bersambung ke perguruan tinggi. Pada saat menua, ia memilih diksi pengganti: sinau. Ia merasa diksi itu berpijak sosial-kultural-etis-estetis ketimbang diksi belajar.  

Di rumah, belajar selama wabah itu malapetakan harian. Bapak mengerti siksa demi siksa terkumpul akibat beragam teknik dan tanda seru bagi anak-anak “diwajibkan” tetap belajar demi capaian-capaian pendidikan nasional. Buku pelajaran itu membikin sedih. Gawai-gawai seperti tuan-tuan memberi perintah.

Kita ambil jeda dengan membaca buku lama saja. Buku berjudul Tjahaja (1951) susunan Johan van Hulzen. Disadur dalam bahasa Indonesia oleh Mahju’ddin dan A. Muchtar. Buku memiliki gambar di sampul: matahari dan rumpun bambu. Gambar elok, belum berpesan belajar itu serius atau pemenuhan kewajiban. 

Di situ, ada cerita mengenai adik belajar. Bocah itu berusia 5 tahun. Ia ingin ke sekolah tapi ibu belum memperbolehkan. Ibu berjanji bila sudah berusia 6 tahun bakal mengantar ke sekolah untuk belajar. Gairah bocah itu sulit terbendung.

Sambil merengut pergilah ia keruang tengah. Disitu abangnja sedang menghafal. Buku-bukunja terletak diatas medja.

“Boleh saja lihat buku abang sebuah?” tanja adik si Burhan.

“Boleh, tetapi, hati-hati, djangan tjabik!” kata si Burhan. Lalu diberinja adiknja kitab sebuah.

Kitab itu dibalik-balik adik. Sebuah hurufpun belum tahu ia, tetapi lakunja seperti orang jang asjik membatja.

Bocah dan belajar, tema pernah memancarkan gembira, sebelum merasa mendapat penghukuman dari sekolah atau pemerintah. Hari-hari gembira milik Bait ingin selalu belajar. Bait mungkin tak mau kalah melihat bapak melulu memegang dan memangku buku, koran, dan majalah setiap hari. Bapak pun girang sinau tapi tak berurusan dengan sekolah. Bapak ingin waras dan girang ketimbang ruwet dan malu memikirkan (kebutuhan) hidup. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s