Konon, Itulah Belajar!

Setyaningsih

BELAJAR itu tidak asyik. Buktinya, rubrik “Pengetahuan” majalah Bobo edisi 18 April 1996, memuat tulisan ini: “Kalau Pakai Taktik, Belajar Jadi Asyik”. Anak-anak Indonesia atau seiyanya pembaca cilik Bobo pasti bersorak-sorai. Belajar memang tidak asyik. Bermainlah yang pasti asyik. Maka, Bobo maunya menjadi teman bermain dan belajar. Tulisan dua halaman berilustrasi jenaka memberikan petunjuk asyik belajar. Di sana, ada istilah “taktik” dan “jurus”. Begini: “Belajar pakai taktik, lewat aneka jurus-jurus asyik, eit, eit, eit, ditanggung ahik ahik asyik. Bobo sajikan secara bersambung. Mulai nomor ini. Cobalah, siapa tahu ampuh buat teman-teman yang mengalami kesulitan belajar!”

Di serial pertama, Bobo memberi 6 jurus mengatasi pelajaran-pelajaran hafalan: IPS, PPKn, IPA, dan Bahasa Indonesia. Mari tengok dulu definisi “jurus” di Kamus Besar Bahasa Indonesia (2018): “bagian sikap (tegak dsb) dalam permainan pencak silat.” Definisi kurang heboh, sangar, dan menggugah. Definisi ini tidak berhubungan dengan belajar secara denotatif ataupun konotatif. Enam jurus belajar dari Bobo justru terdengar dramatis—mengingatkan pada film-film laga atau taktik klasik perang negeri-negeri Asia Timur. Ada jurus 8 penjuru angin, jurus diam-diam cerewet, jurus senandung sepotong-potong, jurus coretan keramat, jurus serangan bolak-balik, dan jurus badai pengertian. Wah, matilah kau hafalan!  

Ada jurus 8 penjuru angin, jurus diam-diam cerewet, jurus senandung sepotong-sepotong, jurus coretan keramat, jurus serangan bolak-balik, dan jurus badai pengertian. Wah, matilah kau hafalan!

Anak-anak membutuhkan jurus untuk mengalahkan musuh bernama menghafal. Di sekolah dan rumah, menghafal dianggap belajar. Meski di bagian jurus badai pengertian, Bobo agak mengingkari: “Mempelajari IPS, IPA dan pelajaran lainnya itu jangan dihafal! Tapi dimengerti! Begitu guru-guru kita menasihati. Maksudnya, kalau kita belajar tentang Zaman Pendudukan Jepang, misalnya. Kita betul-betul bisa memahami cerita tersebut, sampai-sampai kita bisa membayangkan kejadiannya.” 

Tapi, mengerti itu memang sulit lho! Apalagi kalau masih ada guru yang mengharuskan menjawab pertanyaan sesuai buku. Aduh! Sejak belajar selalu berarti kebutuhan administratif yang dikelola pemerintah melalui sekolah-sekolah. Apalagi di masa Orde Baru, belajar sama dengan sekolah: upacara, duduk di kelas, berseragam, materi pelajaran, nilai, rapor, ranking, piala, dan prestasi. Yang tua atau belia putus sekolah tetap harus menyambung sekolah darurat di kelurahan.

Kalau belajar menyatu dengan peristiwa tubuh, pastinya asyik kan. Belajar matematika sambil jajan dan menghitung uang kembalian, menengok sejarah dari foto-foto lama, mengamati bentuk dari benda-benda di sekitar, belajar ilmu alam dengan cara jalan-jalan di luar rumah, atau berbahasa Indonesia ke lagu serta film. Dari banyak tempat dan kebudayaan, orang-orang yang belajar selalu dimuliakan. Ingat petuah yang masih betah ini: belajar sepanjang hayat, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, atau belajar di waktu belia bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air.  

Bersekolah tidak putus selama 12 tahun oke saja, tapi belum tentu merasa belajar. Ada cerita yang agak tragis, “Robohnya Sekolah Rakyat Kami” garapan Roem Topatimasang (Sekolah Itu Candu, 2013). Roem menceritakan sebuah sekolah rakyat di tapal batas Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Dindingnya separuh papan, separuh anyaman kulit pelepah sagu, dijepit dengan batang pinang. Atapnya terbuat dari anyaman daun sagu. Kayu-kayu besar dari hutan didaulat menjadi pagar.

Anak-anak belajar—memanggul biografi kultural dengan bangga, kerakyatan, dan riang. Belajar juga mengalami dan melakukan yang dekat. Setiap Sabtu, sekolah bebas dari kegiatan belajar-mengajar. Mereka membabat rumput lapangan, memperbaiki pagar, menanam tanaman baru, atau memanen buah. Setiap empat bulan sekali ada masa kerja bersama antara guru dan semua murid. Mereka masuk hutan dan mengumpulkan kayu untuk pagar baru atau pelepah dan daun sagu sebagai anyaman atap dan dinding. Setiap enam bulan adalah panen raya jagung dan padi dimana sekolah libur dan murid-murid akan disebar untuk membantu penduduk di sawah dan ladang.

Segala peristiwa terkait identitas diri ini dipaksa dibabat habis saat pemerintah membangun sekolah bertembok permanen. Anak-anak berseragam dan bersepatu. Mereka akan diajari pentingnya duduk dan patuh. Konon, itulah belajar!

Belajar entah dalam praktik atau sekadar ungkapan saja sering dekat dengan perjuangan (fisik) keras sekaligus perasaan berdarah-darah. Demi banyak anak yang telah menjadi martir belajar, biarlah kamerad Mafalda dan Felipe mengimajinasikan dengan tepat. Kita membacanya dalam buku Mafalda 2 (2009).

Mafalda: Ya ampun, dua hari lagi…sekolah mulai!

Felipe : Gimana ya perasaan penerjun payung waktu dia udah dua meter di atas tanah dan parasutnya nggak kebuk 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s