Iklan dan Jajan

Pilar

BISA dipastikan banyak orang di Indonesia yang hidup dari masa 1970-an sampai sekarang pernah jajan dan melihat iklan. Tidak asinglah bagi kita melihat iklan-iklan di beberapa toko kelontong terdekat. Kita melihat iklan dan jajan. 

Tetapi, apa semua itu sehat? Apakah jajan setiap hari untuk mendapatkan kartu gratis jalan-jalan ke Hongkong dengan 3 teman atau keluarga?  Mungkin ya jika kamu suka berjudi dan punya kontrol sendiri. Apakah sehat setiap hari terpapar oleh iklan 24/7 dari televisi dan poster-poster yang isinya hanya janji-janji tentang cara makan “snack” dapat menghilangkan kelaparan dan kanker yang ada di tubuhmu? Mungkin iya jika kamu suka dibohongi. Dari jajanan dan iklan, keduanya mempunyai kesamaan. Isinya omong kosong, palsu tidak bermakna. 

Jajanan? Anak-anak masa 2000-an sudah pernah memakan/minum itu beratus kali. Kita pernah melihat jajanan yang dikerumuni beberapa orang, yang sepertinya menarik. 

Mayoritas orang setuju bahwa “snack” merupakan “makanan ringan”, bukan ringan dalam berat, tetapi dalam perut. Makanan yang tidak mengenyangkan dan dapat dinikmati saat mengobrol atau sedang sendiri. Banyak orang berdebat tentang “snack” yang pertama. Tetapi, ingatlah, “snack” masa lampau belum dibuat di pabrik untuk massa. 

Sekarang, jajanan atau “snack” senantiasa untuk massa. Buktinya diiklankan agar dapat banyak konsumen. Iklan-iklan, bagiku, sebenarnya mengganggu, dari musik jingle sampai teks besar yang berwarna-warni. Tetapi, iklan telah masuk ke rumah kita. Akhirnya, generasi ini tidak bisa membedakan mana iklan, mana bukan. 


Pilar, Remaja tinggal dan sekolah di Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s