Ngeteh

Indri K

DI warung-warung tenda, gerobak angkringan, rumah makan, hingga restoran berbintang, menu minuman satu ini selalu menjadi pilihan banyak orang. Sebagai penghilang dahaga dan penambah kesegaran, teh memang populer di semua kalangan. Menu teh yang biasa ditemui di Jawa tersedia dalam empat pilihan: teh hangat tawar, teh hangat manis, es teh tawar, dan es teh manis. Ah, bisa juga lima, yaitu teh adem, yang tidak panas dan tidak dingin. 

Teh merupakan salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi oleh orang di dunia, setelah air putih. Tentu saja karena teh punya sejarah panjang sebelum menjadi kegemaran orang banyak. Meski tidak ada bukti tertulis. Cerita asal mula yang ada pada ingatan banyak orang menyoal menikmati teh berasal dari Cina: “Kaisar Shen Nung hidup pada sekitar tahun 2737 SM, dikenal sebagai Bapak Tanaman Obat-obatan Tradisional Cina. Suatu hari, Sang Kaisar sedang bersantai di kebun sambil merebus air di kuali di bawah pohon yang rindang. Pada saat bersamaan, angin berhembus cukup keras sehingga menggugurkan beberapa helai daun dan masuk ke dalam kuali, yang kemudian ikut terseduh. Ketika meminumnya, Sang Kaisar merasa airnya lebih sedap dari air putih biasa dan badannya pun menjadi lebih segar sesudahnya” (Murdjiati Gardjito dan Dimas Rahadian AM, Teh, 2011). 

Hingga saat ini, di Cina, bukannya air, melainkan teh yang menjadi minuman utama pendamping makan. Bahkan, restoran-restoran di Cina terbiasa menggunakan  teh panas untuk membilas peralatan makan seperti mangkok dan sendok sebelum digunakan. Selain demi alasan kebersihan juga membantu menghilangkan sisa minyak yang tertinggal. 

Di Cina, orang menikmati teh dengan cara: daun teh kering yang dimasukkan ke dalam teko keramik dan dituangi air panas. Kemudian, teh dinikmati bersama-sama dengan menuangkan ke dalam cangkir-cangkir kecil. Dalam tata cara menikmati teh Cina, tugas menuang teh biasanya dilakukan oleh orang yang lebih muda atau lebih rendah posisinya, sebagai tanda penghormatan.  Cara penyajian yang sama kita temui di restoran makanan Tiongkok di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Teh Cina sangat beragam, yang terkenal antara lain puer, oolong, dan teh hijau. Penulis pernah menyambangi salah satu kebun teh hijau Long Jing di Hangzhou. Pada musim panen, pucuk teh dipetik oleh nona-nona, tidak jauh berbeda dengan proses pemetikan teh di Indonesia. Daun-daun teh hijau yang sudah dipanen digoreng dalam kuali tanpa alat bantu, melainkan diaduk menggunakan tangan langsung. Proses menggoreng selama 8 jam hanya menghasilkan setengah kilo daun teh hijau siap konsumsi. Untuk penyajiannya, segulung daun teh hijau kering diseduh dengan air panas. Kemudian, tuang ke cangkir. Orang meneguk sedikit demi sedikit sambil dicecap sehingga terasa aroma dan pahit khasnya. 

Beda cara, beda juga piranti yang digunakan minum teh. Beragam tata cara minum teh ditemukan di berbagai belahan dunia, dari Asia hingga Eropa. Tata cara unik dalam menikmati teh sekarang berubah menjadi upacara dan budaya minum teh di beberapa negara. Bahkan di Jepang dan Korea, ritual minum teh dapat mendatangkan devisa negara.

Di Indonesia, bicara teh berarti bicara keluarga kerajaan. Bermula  dari pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II Yogyakarta. Teh selalu disajikan dalam setiap acara makan keluarga: pagi, siang, dan malam. Diwadahi dalam teko porselen dengan tangkai emas 18 karat di bagian atasnya, dituang ke dalam cangkir porselen juga. Kebiasaan kerajaan ini lambat laun makin merakyat sehingga masyarakat Yogyakarta menggandrungi teh sore hari yang disajikan bersama kudapan. Bisa jadi kebiasaan menikmati teh di sore hari juga terinspirasi oleh kebiasaan orang Inggris dan Belanda. Mereka suka mengadakan acara minum teh sore hari di kebun sembari bersantai. Mereka berkumpul dan berbincang dengan keluarga atau kerabat sambil menikmati matahari terbenam. Kegiatan-kegiatan ngeteh memberi ide kreasi pariwara-pariwara teh tak jauh dari konsep percakapan dan kehangatan keluarga.

Kembali ke zaman Sultan Hamengku Buwono IX, teh terbaca dalam Pengakuan Pariyem gubahan Linus Suryadi AG: Saya suka mengantar nDoro Kanjeng/ Jalan-jalan sepanjang Malioboro melepas otot dan melepas pandang/ Sekadar mencari angin malam/ Makan nasi goreng pada bu Luntur di Alun-alun Lor Ngayogyakarta/ Minum teh nas-gi-thel bergula batu di pojok wetan Paku Alaman/ Makan nasi gudeg dan teh jahe di depan pasar gede Beringharjo.

Teh nas-gi-thel (panas, legi, kenthel) biasa diwadahi poci tanah liat yang tidak pernah dicuci agar kerak teh menebal, membuat teh semakin terasa sepet. Bersantai sejenak minum teh setelah lelah berjalan. Teh juga dibarengi jahe, menjadi penghangat di dinginnya malam. Pariyem yang bernama Maria Magdalena Pariyem, hanyalah seorang babu nDoro Ayu Cahya Wulaningsih. Biasa, tugasnya sehari-hari menyiapkan teh di rumah ndoronya. Wedang teh harus siap bersama dhahar siang. Di waktu lain, dia juga membawa teh untuk nDoro Ayu bersama tela godhogan. Merupakan kemewahan jika Pariyem bisa menyeruput teh di luar rumah bersama nDoro. Teh di luar rumah tidak menjadi sekat antara babu dan nDoro, melainkan perekat. 

Teh masih  belum selesai diceritakan. Suatu hari, sang nDoro  meneguk teh dan menelan sebuah pil. “Lha nDoro Putri menelan apa?” “Ah, biasa, ta, Yu. Menelan APEM. Aku menelan Pil Anti Meteng.” Ah, teh memang menjadi saksi bisu berbagai peristiwa dan rahasia. 

Pada masa kepraktisan, tidak perlu babu untuk membuat teh. Manusia modern harus berterima kasih pada Sir Thomas Lipton, orang Skotlandia, yang memulai mengemas daun teh dalam kaleng, disusul inovasi teh celup dan menggunakan es dalam minuman teh. Merek masih ada hingga kini, Lipton Tea. Turut mengisi pasar internasional dan hadir di banyak franchise makanan cepat saji. 

Seduhan teh bentuk daun masih banyak digunakan pada acara hajatan dan resepsi juga di tempat menjual makanan. Dipilih karena harga jauh ekonomis dibanding teh celup jika itu menyangkut konsumsi banyak orang. Sementara teh berbentuk celup menjadi pilihan keluarga kecil. Satu bungkus teh celup hanya bisa dinikmati satu orang, jika dua, rasa teh sudah hambar. Jenis teh banyak di pasaran adalah teh dicampur melati hingga menghasilkan aroma teh melati yang nikmat. Teh hitam, cepat kental dan berwarna coklat tua meski baru diseduh sejenak. Teh hijau, warnanya bening kehijauan, dipercaya untuk melunturkan lemak dan banyak vitamin E. Sedangkan teh di rumah makan Padang juga tak kalah unik, aromanya vanila, tercium manis meski rasanya tawar. 

Di dalam dunia perjamuan, beberapa daun berkhasiat juga dimasukkan dalam kategori “teh”. Teh daun Jati Cina, meski asalnya dari India tapi memakai nama Cina, mungkin karena bentuk daunnya kecil-kecil. Seduhannya membantu melancarkan ke belakang dan menurunkan kolestrol. Teh daun Jati Belanda, daunnya lebar namun sering dicacah-cacah, berfungsi untuk melunturkan lemak dan menurunkan berat badan. Ada juga teh daun sirsat, berasal dari daun sirsat yang dikeringkan, dipercaya mempunyai efek mencegah kanker.

Menulis tentang teh, juga tak melupakan teh-teh yang hadir dalam botol siap minum, maka dinamai Teh Botol.  Pada masa 1990-an, Teh Botol Sosro merajai, membanggakan rasanya yang sepet, tidak terlalu manis, menjadi teman minum makanan apa saja. Botolnya dari kaca yang harus kembali ke pabrik untuk dicuci dan dipakai ulang. Manusia berubah, botol kaca jadi tidak praktis, hadirlah kemasan kotak kardus dan kemasan botol plastik. Teh kemasan bermerek Teh Kotak. Teh Botol tidak lagi di botol kaca tapi di botol plastik, kotak kemasan, juga kaleng. Lebih menggelikan lagi Teh Gelas. Awal mulanya dikemas dalam gelas plastik, namun seiring permintaan dan daya saing, dihadirkan juga dalam bentuk kemasan kotak, dan botol plastik, tapi masih berjudul Teh Gelas.

Kita memang penggila teh, sudah bosan dengan rasa teh yang itu-itu saja. Timbullah menggabungkan teh dengan susu, rasa buah juga empon-empon. Di mini-market berjajar pilihan teh rasa apel, stroberi, anggur hingga rasa jambu biji.  Teh menjelma jadi minuman modern yang disukai anak kecil dan orang muda. Teh sekedar untuk penghilang dahaga saat beraktivitas di luar rumah. 

Di dalam rumah, keluarga-keluarga masih jadi penikmat teh. Di kota dan di desa, teko-teko teh masih tersaji saat sore ataupun malam. Para penggila teh masih suka mengoleksi teh aneka jenis, layaknya anggur Prancis. Bagi orang biasa, kehangatan teh masih menjadi teman santap gorengan mendoan dan pisang. Teh tetap setia menjadi teman bicara yang selalu menjaga rahasia tuan rumah. 


Indri K., ibu keranjingan menulis, tinggal di Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s