Peng(aku)an

Imaniar Christy

AKU seorang ibu berusia 29 tahun dan memiliki anak berusia 7 tahun. Bisa terlihat betapa muda aku menikah. Menjadi istri dan menjadi ibu jauh dari bayanganku sebelumnya. Pola pikirku terbentuk dari satu buku yang aku baca saat duduk di bangku kelas X SMA. Buku itu bersampul warna hijau dengan gambar seorang perempuan mengenakan bando telinga kelinci sambil membawa balon berbentuk hati warna merah. Judulnya Sttt… I’m a Playgirl yang ditulis oleh Sari Azis. Buku terbitan Gagas Media tersebut membuatku ingin menjadi perempuan yang bebas, bisa bergonta-ganti pacar tanpa merasa kehilangan apapun. 

Aku suka membaca. Dari SD, aku sudah menjadi pelanggan perpustakaan sekolah. Aku sering meminjam buku dan menghabiskan waktu istirahat sambil membaca. Tapi, tidak semua buku yang aku baca bisa benar-benar membekas dan mempengaruhi pola pemikiranku. Hanya beberapa buku saja yang aku ingat ternyata ikut menentukan tindakan, keputusan, pemikiran, dan membawaku pada nasibku saat ini.  

Buku kedua yang aku ingat membekas di ingatan adalah novel Cintaku Di Kampus Biru gubahan Ashadi Siregar. Ketika aku membelinya di Gramedia, buku tersebut sedang cetak ulang dengan sampul berwarna biru dan gambar tokoh animasi model manga (kartun Jepang). Saat aku membaca, umurku masih 17 tahun. Aku menyukai buku itu karena bisa menikmati imajinasi rumpun belukar yang bergoyang saat ada 2 tokoh mahasiswa perempuan dan laki-laki yang bercumbu di sana. Ah, lagi-lagi gairah asmara!

Aku menyukai buku itu karena bisa menikmati imajinasi rumpun belukar yang bergoyang saat ada 2 tokoh mahasiswa perempuan dan laki-laki yang bercumbu di sana. Ah, lagi-lagi gairah asmara!

Tibalah saat aku benar-benar menjadi mahasiswa. Salah satu dosenku di jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia memberi tugas membaca novel-novel. Aku ingat beberapa nama penulis yang beliau sebutkan untuk wajib dibaca di awal semester satu: Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Nh Dini, Mochtar Lubis, Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer, Ayu Utami, Andrea Hirata, dan Dewi Lestari. Dari sekian nama, bertemulah aku dengan Ayu Utami. 

Ayu Utami bagiku adalah nama yang asing. Berbeda dengan nama-nama penulis lain yang disebutkan oleh dosen yang bukunya sering aku jumpai di perpustakaan sekolah di SMP maupun SMA. Buku Ayu Utami tidak ada di perpustakaan sekolahku. Pada 2009, aku pertama kali membaca Saman dan langsung jatuh cinta pada Ayu Utami. Sejak itu, aku mulai membeli dan membaca buku-buku Ayu Utami lainnya.

Perjalananku menjadi perempuan yang bebas dan tidak terikat membuatku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan. Pada masa itu aku sungguh tidak ingin menikah. Pertemuanku dengan buku Si Parasit Lajang menegaskan pemikiranku adalah benar. Pada suatu malam di depan Teater Arena TBJT, ada seorang lelaki berambut gondrong yang menjual buku-buku bekas. Buku Si Parasit Lajang (Ayu Utami) bersampul biru ada di lapak lelaki itu. Aku langsung membelinya. 

Beberapa waktu berlalu, aku bertemu lagi dengan penjual buku bekas itu, tapi dalam suasana berbeda. Ia menjelma menjadi seorang pendongeng hebat yang bercerita tentang “siang”. Ternyata, penjual buku bekas itu adalah seorang esais yang namanya sudah moncer di mana-mana: Bandung Mawardi. Pada suatu saat, aku berkunjung ke Bilik Literasi, laki-laki itu memberiku sebuah buku Ayu Utami yang berjudul Bilangan Fu sambil berpesan: “Sadarlah dengan tubuhmu!” Pertanyaan ini hadir dalam pikiranku. Seandainya aku menyadari tubuhku, apakah aku akan secepat ini menikah dan menjadi ibu? Perjalanan membawaku ke dunia domestik sebagai istri dan ibu. 

Di luar dugaan, aku ternyata menikmati peran menjadi ibu. Ya, kini aku adalah ibu. Meski begitu aku terus mengharapkan kebebasan untuk tetap bekerja di luar rumah. Ternyata, aku diizinkan mendapatkan kebebasan itu. Bertemu anakku sepulang kerja selalu menjadi hal yang paling melegakan. Alasan utama aku pulang ke rumah.

Anakku kerap melihatku membaca. Ia tidak keberatan saat aku menemaninya bermain sambil membaca buku. Aku juga membelikannya buku-buku dongeng dan kerap membacakan dongeng untuknya sebelum tidur. Saat menjadi murid TK, aku mulai mengajarinya membaca. Entah, karena sering aku membacakan buku cerita untuknya atau karena faktor apa, ternyata ia begitu mudah menghafal huruf, mengeja, dan akhirnya membaca. Aku merasa tidak mengalami kesulitan mengajarinya membaca. Hal tersebut terbukti walaupun wabah terjadi dan ia harus bersekolah dari rumah. Guru kelas 1 SD kerap memuji anakku lancar membaca meski berupa teks yang cukup panjang.

Aku merasa tidak mengalami kesulitan mengajarinya membaca. Hal tersebut terbukti walaupun wabah terjadi ia harus bersekolah dari rumah. Guru kelas 1 SD kerap memuji anakku lancar membaca meski berupa teks yang cukup panjang.

Keanehan mulai terjadi saat aku membelikannya buku Kumpulan Cerita Sains untuk anak terbitan Edu Stories. Ia tiba-tiba berubah hanya mau dibacakan cerita berjudul “Apa Yang Terjadi pada Kacang Polong?” Kisah tersebut ia minta dibacakan berulang-ulang setiap hari sebelum tidur. Kisah tentang sebutir kacang polong yang tanpa sengaja masuk ke piring berisi coklat warna-warni sangat membuatnya kagum. Perjalanan biji kacang polong yang dilemparkan ke luar jendela, terkena hujan dan akhirnya tumbuh dan berbuah itu begitu mengagumkan bagi dirinya. Tapi, aku sebagai si pembaca cerita bosan mengulang-ulang cerita tersebut setiap malam. Anakku benar-benar tidak mau ganti dengan cerita yang lain. Ia hanya mau kisah itu sebagai pengantar tidurnya. 

Suatu waktu, akhirnya aku berhasil memaksanya mendengarkan cerita yang lain. Aku membacakannya cerita Si Kue Lengket gubahan Ririn Diah Utami. Terkisah seorang ibu membuat kue dengan anak perempuannya. Kue yang dibuat ibu bersama anak perempuannya itu menyebabkan seisi rumah beraroma wangi kue. Tiba-tiba anakku memotong pembacaanku. Ia protes karena aku tidak pernah membuatkan kue untuknya. Tidak hanya berhenti pada kue, ia justru mengungkit aku yang tidak bisa memasak. 

Ah, entahlah. Aku hanya ingat pesan laki-laki penjual buku bekas di TBJT itu: “Ibu harus menjadi ibu-buku untuk anaknya”. Kali ini, aku sungguh tak berani mengabaikan pesan itu.


Imaniar Christy, guru dan penulis, tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s