Ibu dan Kewarasan

Anggrahenny C Putri

TERDUDUK, melayang ingatan akibat melihat nisan berbatu di depan yang bersosok ibu telah melahirkan ke dunia. Bukan bersedih tapi teringat tumpukan rantang ibu berpesona hijau lumut, bertingkat tiga. Rantang ibu dijinjing salah satu tangan, bermuatan lauk pauk. 

Ibu telah memasak sebelum berangkat piknik di pantai pada hari Minggu. Bapak menurunkan kami dan mencari parkiran. Pohon pandan pantai yang rindang telah kami incar sejak turun untuk bersantap. Ibu meletakkan rantang menunggu tikar yang dibawa bapak. Segera setelah bapak datang dan tikar tergelar, ibu membuka rantang dengan hasil kerajinan tangannya. Ibu lelah memasak sebelum bisa berpiknik. Ada sayur asem, ikan, tahu  dan sambal tomat. Nasi sengaja terpisah diletakkan pada wadah bundar bertutup masuk pada keranjang. Piring berpindah tangan dari ibu kepada kami yang bersiap makan. Beredar pada kami yang menunggu, dua anak tetangga yang sekawan denganku, kakak dan bapak. Kami berpindah makan, dari rumah ke tepi pantai bersama rantang. Bungkusan kenangan pada masa lalu yang menghangatkan.

Rantang berpemilik hampir setiap rumah kala itu. Rantang paling nelangsa adalah yang nampak gompal hitam di mana-mana akibat terlalu keras digosok abu atau terbentur perkakas dapur yang lain. Rantang memang terbuat dari enamel dan porselen. Warnanya bermacam-macam ada yang polos, ada pula yang putih bermotif pemandangan. 

Seperti pada rantang yang dipamerkan di dapur milik ibu terkenakan busana kebaya biru, menunjukan iklan TEKA, yang menjual rantang. Iklan TEKA termuat di majalah Kartini, 16-29 November 1987 mengatakan: “Idaman setiap ibu rumah tangga.” Ibu mengidamkan alat masak tak hanya rantang namun juga panci, nampan, dan baskom TEKA. Makin lengkap dan serasi alat masaknya makin nikmat pula masakan ibu. Dan, telah menjadi idaman agar memasak makin menyenangkan. Perlengkapan masak akrab bersahabat dengan ibu. Masakan tersaji berkat harmonisasi tangan ibu dan sahabatnya.

Ibu peramu makanan terlezat di seluruh dunia. Dari kedua tangannya tercipta makanan medok tak terlupakan. Ibu si tukang masak. Perjalanan memasak ibu tak melupakan benda-benda yang digunakan sebagai wadah. 

“Sesuai pesanan di aplikasi,” begitu ibu mengetik pesan pada aplikasi pemesanan makanan secara daring. Masakan berasal dari perempuan atau laki-laki lain yang tak dikenal. Tak berapa lama masakan datang, diantar dengan motor terkendarai lelaki berjaket hijau. Pembayaran telah di tunaikan pula menggunakan uang tak kasat mata yang ada di dalam aplikasi pemesanan. Ibu termudahkan. Beraneka masakan kesukaan anak dan bapak tak repot dicuci, dipotong atau ditunggui hingga matang, ibu hanya perlu menyajikannya saja.

Aktivitas bangun bagi hanya menghangatkan makanan sisa semalam. Bila tak tersedia yang hendak ia masak, melongoklah ia pada lemari pendinginnya, terdapat makanan beku yang siap goreng. Mongoles roti dengan mentega juga dapat menjadi pilihan sarapan yang memudahkan hidupnya. Memasak bukan tak kuasa tapi tentu saja repot. Berbelanja tentu bukan hal yang merepotkan karena ibu pada masa kini suka membeli apapun. Setelahnya berbelanja ia masukkan dalam lemari pendinginnya hingga menjadi kompos. Mengompos pun dapat dilakukan dalam lemari pendingin. 

Berbelanja tentu bukan hal yang merepotkan karena ibu pada masa kini suka membeli apapun. Setelahnya berbelanja ia masukkan dalam lemari pendinginnya hingga menjadi kompos. Mengompos pun dapat dilakukan dalam lemari pendingin.

Telur kadang menjadi barang cepat saji. Telur ceplok pada hari pertama, telur orak-arik pada hari ke dua dan terlur dadar pada hari selanjutnya. Ibu tetap saja mampu memainkan kreatifitasnya walau hanya dengan telur. Ibu mendambakan kemudahan dan kepraktisan dalam hidupnya. Katanya, agar tetap waras menghadapi keseharian bekerja diluar rumah dan di dalam rumah. Ibu mengidam waras!

Memasak memang tak selalu melulu ibu-ibu, bapak-bapak pun seharusnya mampu. Bayangkan bila ibu tiada, siapa yang akan memberi makan cacing-cacing dalam perut bapak, jika bapak tak pintar memasak. Kemudahan yang ditawarkan dari para pedagang-pedagang makanan cepat saji tak kuasa disaingi. Ibu lelah berlomba dengan pedagang besar. Makanan kemasan warna-warni segala rasa pun lebik menarik di mata sang buah hati, sehingga menampikkan masakan yang semalaman direncanakan ibu. 

Ibu dikepung kemudahan. Ketegarannya muncul saat uang bulanan menipis. Sekuat tenaga ia putar otak agar masakannya layak disandingkan dengan makanan cepat saji atau pabrikan. Kepercayaan diri untuk memasak makanan lezat yang menimbulkan kenangan di masa-masa mendatang perlahan musnah. Kemudahan yang harus ia bayar dengan kesehatan keluarganya, kelelahan bekerja, kelekatan suka dan duka bersama, dan kehabisan waktu untuk menjalin kenangan karena sibuk mencari uang demi mencapai kemudahan. Sudah tak perlu ibu lelah memasak untuk sekadar pergi berpiknik di pinggir pantai atau gunung. 

Toh, pantai dan gunung telah penuh sampah plastik, bungkus kemudahan menyajikan makanan tanpa repot. Udaranya tak lagi sejuk, semilir anginnya menebarkan bau busuk. Ibu waras pada semesta serba mudah yang sakit.


Anggrahenny Putri, Penulis tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s