Yang Mencari dan Menikmati

Yunie Sutanto

DI hadapan buku dengan sampul bergambar mangkuk ayam jago, kita dibuat bertanya-tanya. Apa maksud huruf kapital A berwarna merah cetar di dalam mangkuk? Kita telanjur mengharap akan ada hidangan hangat dengan asap mengepul tersaji di mangkuk. Namun, huruf A seolah menggoda dengan kata tanya: “Apa”.

Hidangan macam apa yang akan tersaji dalam mangkuk legendaris ini? Kaum pernah jajan niscaya familiar dengan mangkuk yang biasa dipakai tukang jual makanan. A adalah Aruna. Mangkuk kosong mungkin simbolik lidah Aruna yang tak sabar menantikan kenikmatan citarasa kuliner berikutnya.  

Huruf A kapital ini juga mengingatkan pada Segitiga Penrose. Segitiga kemustahilan yang hanya bisa terhadirkan dalam ilusi optik. Mangkuk kosong berisi huruf A bagi sebagian orang adalah kemustahilan. Apa yang hendak disantap hari ini tak selalu kesampaian. Tanyalah ibu-ibu ngidam! Adakalanya yang mereka idamkan tak teraih, yang tersisa hanyalah liur menetes dan hati yang terus mengidamkan. Tanyalah juga para pekerja upahan yang dibayar harian. Adakalanya mangkuk itu tetap kosong. Adakalanya sehari hanya dua kali terisi. Kenikmatan mangkuk jajanan mungkin kemustahilan bagi sebagian orang.

Laksmi Pamuntjak dalam Aruna dan Lidahnya memilih meracau di bagian prolog. Rupanya ia terinspirasi novel Narcopolis gubahan Jeet Thayil. Penggunaan satu kalimat panjang dalam delapan halaman racauan adalah gaya menulis prolog yang unik. Ada orang yang makan untuk hidup, namun ada pula orang yang hidup untuk makan. Sebutlah mereka yang belakangan ini terobsesi makanan! 

“Mau makan apa berikutnya?” Demikian pertanyaan yang terjawab dalam rencana petualangan jajan berikutnya sudah memenuhi isi pikiran si gila makan. Bagi Aruna, makanan itu membawa kebahagiaan. Ia bangga dengan jati dirinya ini.  Seorang petualang rasa. Wisatawan kuliner! Bondan Winarno boleh berbangga dengan terwariskannya gaya hidup berwisata kuliner yang dipopulerkannya. Ingat wisata kuliner pasti ingat “maknyosss”. Konotasi negatif orang yang suka makan terhapuskan sudah. Suka makan menjadi kekinian dan bergaya. Pandangan kuno bergeser.

Bondan Winarno boleh berbangga dengan terwariskannya gaya hidup berwisata kuliner yang dipopulerkannya. Ingat wisata kuliner pasti ingat “maknyosss”. Konotasi negatif orang yang suka makan terhapuskan sudah.

Di halaman 159, muncullah ajakan seorang petualang rasa kepada sahabatnya: “Aku ketemu tempat makan pecel semanggi. Tempat itu jual segala macam makanan khas Jatim. Kalau kita cepat ke sana, kayaknya masih ada waktu ke tempat-tempat lainnya.  Kamu mau ke mana lagi?” Nadezhda dan Aruna dalam jerat makanan. Duo sohib kuliner ini sibuk menyusun rencana petualangan rasa berikutnya di pulau Madura. Masih banyak lagi yang belum terjajaki. 

Aruna punya geng wisata kuliner yang setia sekawan soal kuliner. Setiap petualang rasa wajib hukumnya memiliki partners in crime. Makan bareng itu asyiknya juga bareng. Terberkahilah jika punya sahabat yang juga sama-sama doyan makan! Sama-sama nekat menjajal tempat makan buruan, lebih mantap lagi kalau ritme tubuhnya juga seirama. Aruna memiliki Nadeshda dan Bono. Klop. Barangkali benar yang dikatakan Virginia Woolf dalam A Room of One’s Own, seseorang tak bisa berpikir dengan baik, mencintai dengan baik, tidur dengan baik, jika ia belum makan dengan baik.  

Saat seseorang terjangkit suatu penyakit. Ia harus mengubah pola makannya. Ia tak boleh sembarangan makan. Nasihat dokter pasti memberikan pantangan makanan ini dan itu. Hippocrates terabadikan dalam kutipan: “Biarlah makanan menjadi obatmu dan obatmu menjadi makananmu.” Pilihan makanan akan menentukan performa tubuh untuk jangka panjang. Melatih lidah untuk menyukai makanan yang sedekat mungkin dengan alam menjadi tantangan bagi lidah-lidah manja. 

Pada saat penyakit muncul dalam frekuensi rendah di suatu wilayah dan para ahli menyebutnya endemi. Pola makan wilayah itu layak diteliti, sanitasinya, potensi penyebarannya. Bila penyakit menyebar dengan cepat ke beberapa wilayah di suatu negara, statusnya menjadi epidemi. Aruna sang penggila makan berprofesi sebagai ahli wabah (epidemiologist) dengan spesialisasi flu unggas. Dalam penyelidikannya pada kasus-kasus flu burung yang bermunculan di beberapa daerah di Nusantara, ia masih menyempatkan diri berwisata kuliner.

Bandingkan jika Aruna berada dalam situasi pandemi Covid-19, yang terjadi serempak di mana-mana, di berbagi negara dalam skala global. Ia tak bisa wisata kuliner dalam kondisi lockdown. Makan seadanya. Makan dengan ucapan syukur karena masih bisa makan. Makan memang untuk hidup. Walau hidup itu boleh saja untuk makan. Mengutip puisi “Pada Suatu” gubahan Joko Pinurbo (2016): pada suatu kenyang piring bertanya/ “Nikmat apa lagi yang kau cari/ bila lidahmu tidak bisa bahagia?”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s